
Kedua anak itu berjalan menuju tepi sungai besar. Andros menggendong adiknya di pundaknya. Andria duduk di bahu kakaknya sambil mengangkat tinggi-tinggi Kincir kertasnya.
Kincir itu berputar pelan karena angin lembut berasal dari arah sungai.
"Wow, lihat itu Andria. Pohonnya sudah berbuah." Andros menurunkan adiknya. Terlihat sebatang pohon besar dengan buah seukuran kepalan tangan orang dewasa di dahannya, buah itu berjumlah sangat banyak.
"Flavors fruitnya sangat banyak." Andria berbinar.
"Panjat bang panjat!" Andria menunjuk nunjuk buah itu.
"Yosh baiklah," Andros menggulung lengan bajunya dan memanjat pohon itu. Andria menunjuk buah yang ia inginkan dan Andros mengambil cukup banyak Flavors fruit di kantungnya lalu turun.
Andros menaruhnya di keranjang lalu mencucinya di sungai, setelah dicuci mereka pun menyantapnya.
"Hmm, rasanya seperti apel madu kak." Andria mengunyah buah itu dengan senyum mengembang.
Andros menggigit buah di tangannya lalu memuntahkannya lagi..
"Ugh, rasanya menjijikkan. Seperti Daging ular bakar." Andros membersihkan mulutnya dan membuang buah itu sebelum mengambil yang baru. Andria tertawa geli melihat kakaknya mendapat rasa yang aneh.
Ketika ia menggigitnya iapun tersenyum.
"Wow, rasanya seperti sup tomat." Andros memakan buah itu dengan lahap.
Flavors Fruit merupakan buah yang memiliki berbagai rasa di setiap buahnya. Bahkan setiap buah di pohonnya memiliki rasa yang berbeda satu sama lain.
Mereka berdua begitu menikmati makanan mereka, terkadang mereka memakan yang rasanya tidak enak dan itu membuat mereka tertawa satu sama lain.
"Oi, tinggalkan buah buahan itu. Mereka milikku!" Suara itu berasal dari belakang kakak beradik itu.
Seorang bocah gempal berusia 15 tahun bersama 4 orang lainnya di belakangnya sedang memandang Andros dan Andria.
"Oh kalau kalian ingin Flavors Fruit maka panjatlah sendiri, lihat masih banyak kok" kata Andros.
"Hah!, Pohon ini milikku. Jadi buah buahan yang di keranjang itu juga milikku!" Kata anak gempal itu kasar.
"Hei, ayolah biarkan adikku memakan yang ini,. Baiklah akan aku panjatkan bagaimana?" Jawab Andros ramah.
__ADS_1
"Tidak bisa, jangan mengatur ku kau anak yang dikutuk"
"Earth Magic - Groundspiltter" anak itu menghentakkan tanah lalu dari depan mencuat tanah dan membentur dahi Andros. Anak itu terjatuh ke belakang dan keningnya berdarah.
"Hahaha, sudah melewati usia 10 tahun tapi belum bisa menggunakan sihir. Kau memang adalah anak yang dikutuk." Bocah itu tertawa bersama kawan kawannya.
Andria menghampiri kakaknya dan melihat darah mengucur dari keningnya. Ia marah terlebih jika seseorang memanggil kakaknya dengan sebutan anak yang dikutuk. Wajah Andria merah padam, ia murka kepada bocah gempal itu.
"Minta maaf!!" Andria berdiri di depan kakaknya yang masih mengerang. Andria menghentakkan kaki ke tanah dengan wajah merah padam. Kemarahannya membuncah.
"Haha, hei gadis kecil. Kau adiknya si anak terkutuk itu ya"
"Minta Maaf!!... sekarang!!" Andria mengepal tangannya.
"Hei lihat, dia suruh kita meminta maaf" salah satu anak di belakang bocah itu menunjuk Andria.
Mereka semakin tertawa.
"Mana mungkin aku merendahkan diriku sendiri dengan meminta maaf pada seseorang yang dikutuk. Dia lebih rendah dariku. Bahkan lebih rendah dari seluruh manusia di kolong langit ini!"
"Kau... kau..." Andria menggerakkan tangannya. Lalu dari sungai muncul sebuah keanehan. Sungai itu membuat pusaran. Lalu Andria mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada sekumpulan anak itu. Tiba tiba sebuah ikan hiu yang terbentuk dari air melompat dan mengarah ke komplotan bocah gendut itu. Hiu itu menabrakkan dirinya ke bocah gendut itu, bocah itu terlempar tubuhnya seperti terhantam batu besar dan kesakitan.
Anak anak lain langsung lari melihat sihir yang di keluarkan Andria. Mereka menyadari bahwa sihir yang di keluarkannya barusan adalah salah satu sihir tingkat menengah yang mereka tidak mampu mereka lawan.
"Water Magic - Canon Splash" andria mengeluarkan sihir lagi
Dari sungai terbentuk sebuah meriam besar dari air yang menembakkan bola air berkecepatan tinggi ke arah bocah itu.
"Earth Magic - Dirt Wall" bocah itu berlindung di balik dinding tanah yang ia buat. Namun tidak cukup kuat untuk menahan peluru meriam air itu, dengan cepat tembok itu bolong.
"Minta maaf sekarang!!" Andria makin memperkuat tembakannya
Ketika tembok itu roboh dan peluru air itu hampir menyentuh tubuh bocah gendut itu sebuah tembok dari tanah kokoh melindungi anak itu.
"Earth Magic - Earth Wall" seorang pria paruh baya datang dan melindungi bocah itu.
"Sudah cukup, hentikan!" Kata pria itu. Ia terkejut seorang gadis kecil berusia 5 tahun mengeluarkan sihir yang kuat seperti itu, hanya jenius diantara para jenius yang dapat melakukannya. Ia sadar jika peluru air yang dikeluarkannya mengenai si bocah gendut itu maka bocah itu akan babak belur dibuatnya.
__ADS_1
"Maafkan atas kelakuan cucuku gadis kecil. Dia memang kurang berpendidikan." Pria itu mendekati Andros lalu mengalirkan Sejumlah energi sihir untuk memulihkan lukanya.
Dengan cepat luka Andros tertutup dan Andria yang sudah tenang mendekatinya.
"Kakak tidak apa apa." Kata Andria.
"Ya, sudah tidak apa apa kok." Kata Andros lalu bangkit.
"Terima kasih Paman." Ucap Andros.
"Tidak, ini kesalahan cucuku..... Zang, kemari dan minta maaflah. Aku tidak mengajarimu teknik sihir untuk menindas mereka yang lemah." Bocah gemuk bernama Zang itu meminta maaf walau terpaksa, ia masih merasa dirinya yang benar. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Andros dan Andria. Mereka mendengar kalau Zang masih di marahi oleh kakeknya di perjalanan mereka.
Kakek Zang pun mengambilkan banyak Flavors Fruit untuk Andros bawa pulang.
"Ayah, ibu tadi Andria bisa membuat hiu dari air. Dan bisa membuat meriam dari air. Keren!!" Kata Andros melaporkan apa yang terjadi namun ia tidak membicarakan jika tadi ia sempat di hajar Zang.
Wajah kedua orang tuanya begitu cerah mendengar Andria menguasai teknik hebat seperti itu.
Malam itu ketika Andros duduk di pinggir danau dekat rumahnya. Andria mengikutinya dan duduk di samping kakaknya.
"Kenapa kakak tidak mengadukannya kepada ayah saja, pasti ayah akan buat perhitungan dengan bocah gendut itu." Protes Andria.
"Tidak usah, kan lukaku juga sudah sembuh. Juga Si Zhang itu sudah minta maaf. Tidak perlu di perpanjang."
"Dia itu belum minta maaf dengan benar, lagipun dia sudah menghina kakak." Dahinya mengerut.
"Hahaha, sudahlah. Wajah manismu tidak pantas merenggut Andria. Bukankah tidak enak memiliki dendam atau kemarahan, hanya membuatmu sakit hati. Kenapa tidak memaafkan dan berbaikan?. Dunia pasti akan menjadi tempat yang menyenangkan jika semua orang seperti itu." Andros mengangkat kedua tangannya. Lalu mengepalkannya.
Andria matanya berkaca-kaca mendengar ucapan kakaknya.
Sementara itu ayahnya dan ibunya bersembunyi di balik pepohonan mendengar ucapan anaknya barusan. Mereka begitu merasa bangga dengan kedewasaan anaknya. Seharusnya anak seusia Andros itu hanya sibuk bermain dan bersenang-senang. Namun Andros malah membicarakan tentang perdamaian dunia betapa lucunya isi kepala anak itu.
Malam itu angin danau berhembus menerpa keluarga kecil itu, mereka berempat tersenyum sambil memandang bintang di langit.
---
**Dukung terus Penulis dengan meninggalkan like dan komen agar penulis lebih Bergairah ketika bangun pagi. dan Bagikan Juga ke teman teman kalian agar banyak yang mampir dan membaca karya ini.
__ADS_1
akhir kata, Saya Haturkan Terima Kasih dan Selamat Makan**!!