BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 05: Si Rambut Perak


__ADS_3

Andros akhirnya menuju ke rumah.


Ketika ia masuk ia lihat ibunya sedang membersihkan sup yang terjatuh di lantai.


"Ada apa Bu?"


"Gadis itu berontak ketika aku beri makan dan menumpahkannya."


"Hei, kau tidak boleh seperti itu. Kau mengerti?" Kata Andros.


Gadis itu tidak bergeming, hanya menatap Andros.


"Sepertinya ia bukan dari daerah sini, dia bisa berbicara namun aku tidak mengerti bahasa yang ia pakai."


"Sudahlah nanti saja urusan itu, ia pasti sangat lapar. Ayo kemari nak" kata ibu pada gadis itu dengan sup yang baru.


Ketika ibu mendekati Andros dan gadis itu.


"Grrrrrrr...." tatapan gadis itu jadi menakutkan dan mengejutkan ibu, hampir saja supaya tumpah lagi.


"Hei, itu Ma Ka Nan. Untuk di makan kan. Makanan itu untuk di makan" Andros menunjuk mangkuk itu lalu memperagakan gerakan makan.


Gadis itu mengangguk dan mendekati ibu dan menyalak nyalak.


"Grraaaa, raaaggghhh"


Ibu kaget dan meletakkan sup itu di lantai. Dan mundur.


Gadis itu langsung melahap sup itu dengan tangannya. Ia begitu lapar hingga ia makan dengan lahap.


"Sepertinya ia menurutimu." Kata ibu.


"Em... aku tidak tau, dia tadi bilang sesuatu tapi aku tak paham."

__ADS_1


"Baiklah, sudah waktunya aku ke ladang sebelum lanjut latihan." Andros langsung keluar ke ladang.


Gadis itu menyadari Andros hilang. Langsung berlari keluar mencari Andros. Ibu kaget dan menyusulnya


Gadis itu menemukan Andros dan mendekat. Ibunya menyusul dengan tertatih.


"Hei, kamu disini saja ya. Aku mau pergi ke ladang." Andros mengisyaratkan agar gadis itu tidak ikut. Gadis itu mengangguk lalu Andros pergi.


Ibu datang namun gadis itu menyalak nyalak lagi.


Sampai selesai Andros dari ladang. Gadis itu masih ada di situ.


Andros menepuk jidatnya, maksud dia tadi itu menunggu di rumah bukan diam di tempat selama 2 jam. Ia bahkan tidak bergerak sedikit pun.


Ketika sampai di rumah Andros duduk di kursi kayu. Sedangkan gadis itu duduk di lantai. Andros mengangkat gadis itu dan mendudukkannya di kursi juga. Gadis itu terkejut, di Westminster budak yang duduk di tempat duduk seperti orang lain akan di hukum cambuk 10 kali.


Ibunya datang dan menjelaskan kalau anak ini tidak bisa di ajak jika bukan Andros. Bahkan tadi Andria sampai menangis karena mengajaknya.


Ajaibnya gadis itu mengangguk angguk. Padahal Andros tadi tidak yakin ia memperagakan dengan benar atau tidak.


Ibu perlahan mengelus kepala anak itu, kini ia tidak lagi menyalak seperti tadi. Ia diam sekarang.


Namun ketika ibu menarik tangannya untuk mandi ia langsung melepaskan tangan dan menyalak lagi.


"Grrr... Graah...rhrhr..." gadis itu terlihat menakutkan.


Andros mengisyaratkan dengan tangan untuk mengikuti ibu dan patuh.


Gadis itu mengangguk lalu membiarkan dirinya di bawa ibu, sementara matanya masih melihat Andros di belakang.


---


Ibu menggandeng tangan gadis itu dan tangan andria. Mereka menuju ke tempat mandi di pinggir danau yang sudah ada di buatkan rumah kecil penghalang agar tidak ada yang bisa mengintip.

__ADS_1


Ibu dan Andria menanggalkan pakaian mereka sedangkan gadis itu masih tidak bergerak.


"Kamu kotor sekali, juga bau" kata Andria.


"Tenang saja, ibu akan membersihkannya. Ia akan terlihat cantik setelah ini. Bahkan akan lebih cantik darimu Andria." Ibu mulai menanggalkan pakaian si gadis itu. Andria hanya memanyunkan bibirnya mendengar hal itu.


Ibu tertahan nafasnya melihat banyak bekas luka di tubuh gadis itu dan otot ototnya yang keras. Tangannya kasar. Itu bukan tubuh seorang gadis pada umumnya.


Ibu mulai bertanya-tanya kehidupan seperti apa yang sebelumnya di lalui gadis ini.


Gadis itu pasrah saja, walau cara tuannya menjelaskan itu sangat aneh tapi ia paham kalau dua orang di depannya bukanlah musuh.


Ibu dan andria menggosok tubuh gadis itu menggunakan pembersih tubuh buatan ayahnya dari bahan alami. Yang ia sebut Shaboon. Membantu menjaga kemulusan kulit dan berkhasiat meremajakan kulit. Karena itulah Ibu masih terlihat muda dan tidak ada kerutan di wajahnya di usianya yang sekarang.


Dengan cepat tubuh gadis itu bersih lalu rambutnya yang kusut di bersihkan dari kutu dan di sisir.


"Wah rambut anak ini halus sekali dan lurus seperti sutra saja." Kata Andria.


"Rambutmu juga bagus Andria, coklat bergelombang seperti milik ibu."


"Jadi... kenapa tubuhmu banyak bekas luka seperti itu?. Apa kau habis terjatuh?. Aku pernah jatuh dan lututku lecet dan bekasnya masih ada sampai sekarang" kata Andria.


Gadis itu tidak menjawab, Andria terus mengeluh karena gadis itu tidak berbicara.


"Dia berasal dari negara yang jauh, jadi bahasanya berbeda sayang." Jelas ibu.


Setelah mandi ibu membuang baju lama gadis itu dan memberikan baju yang cukup bagus dari lemari namun ia menolaknya. Ia mengambil kembali baju lamanya dan memakainya.


Dan ia duduk di lantai di dekat perapian dan tidak mau beranjak. Hanya menatap api yang selalu bergoyang-goyang.


---


Dukung penulis dengan memberikan like dan bagikan ke teman-teman kalian, setiap dukungan kalian Begitu berharga.

__ADS_1


__ADS_2