
Vena menekan nekan dada Andros untuk menjaga jantung pemuda itu tetap bekerja.
'tolong jangan pergi. Jangan pergi!' jerit Vena di dalam hati.
Paman Ozo menyingkap tenda dan langsung mendekati Andros.
"Dia kenapa?" Tanya Paman Ozo panik.
"Aku tidak tau, ia tiba tiba memuntahkan darah dan pingsan" Vena tidak bisa menahan isakannya lagi. Kain cadar itu telah basah karena air matanya.
"Ini... Tidak mungkin" Ozo memeriksa tubuh andros, ia terkejut karena organ dalam Andros terluka parah dan yang lebih mengejutkannya adalah tubuh Anak ini tidak memiliki sihir sama sekali.
'Bagaimana anak ini memiliki kekuatan sebesar itu' batinnya, ia masih ingat Energi kuat yang terpancar dari tubuh pemuda itu ketika keluar dari tenda. Ia bertanya tanya dari mana asal kekuatan pemuda itu jika bukan dari Energi Sihirnya.
"Kenapa Paman?, Apakah ia bisa selamat?" Tanya Vena khawatir.
"Ah, tidak. Meski parah, Lukanya masih bisa di sembuhkan." Paman Ozo memasukkan Pil penyembuh ke mulut Andros. Perlahan nafas Andros mulai normal dan detak jantungnya membaik.
Vena langsung bernafas lega dan ia pamit untuk mencari sesuatu di ruang penyimpanan harta para bandit itu, ia berharap menemukan Health Potion, pil dan Magic Herb berharga yang membantu pemulihan luka dalam.
Sementara Paman Ozo menggunakan sihir penyembuh tingkat rendah yang ia kuasai.
"Fire Magic - Holy Flame" selimut api keluar dari tangan Paman Ozo dan menyelimuti seluruh tubuh andros. Perlahan meregenerasi sel-sel yang rusak. Perlahan luka luka Andros menutup dengan cepat, lalu Vena kembali dengan membawa lima Health Potion dan Beberapa pil yang ia sekiranya dapat menyembuhkan luka.
Setelah Andros meminum health Potion itu luka dalamnya segera membaik kondisinya.
---
Malam begitu hening, bulan bersinar terang di langit yang berawan. Sesekali menampakkan diri dan sesekali bersembunyi.
Di bawahnya terlihat seorang pemuda dengan sebilah pedang panjang di pinggulnya serta luka dan darah di sekujur tubuhnya berlari dengan tertatih menggendong seorang gadis berwajah pucat yang terus memegangi perutnya dan menahan darah agar tidak keluar melalui luka di perutnya.
Nyawa Mereka berdua sudah seperti berada di ujung tanduk, setelah diserang oleh ratusan Demonic Beast. Luka terlihat di sekujur tubuh mereka dan noda darah di kulit dan pakaian mereka sudah tidak bisa di bedakan antara darah mereka sendiri maupun Demonic Beast yang mereka bunuh.
Wajah gadis itu sudah begitu pucat karena kehilangan banyak darah, sedangkan pemuda itu tetap memaksa berlari meski ia rasa sebentar lagi sendi di lututnya akan terlepas. Meski begitu ia tidak boleh berhenti jika tidak ingin menjadi santapan para Demonic Beast lapar yang mengincar mereka.
__ADS_1
Energi Sihir dan stamina mereka sudah habis. Pemuda itu terus berlari sambil berharap akan keajaiban. Ia terus mengulang kalimat yang sama di dalam pikirannya.
'Tolong Elisa, Bertahanlah.'
Nafasnya tersengal seakan paru parunya sudah tidak bisa lagi berfungsi, kepalanya terasa nyeri dan mengalami sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
Ia berusaha tetap berlari tapi sayangnya tubuhnya sudah tidak mau menuruti perintahnya, pemuda itu terjatuh. Gadis itupun ikut terjatuh dari dekapan pemuda itu.
Pemuda itu merapatkan giginya dengan kuat.
"Berdiri!, Ayo Berdiri!" Pemuda itu berteriak kepada kakinya sendiri, Wajahnya menunjukkan guratan keputus asaan dengan jelas.
Gadis yang terluka itu melihat ke arah pemuda itu dan dengan perlahan serta bergetar ia berusaha meraih tangan pemuda itu.
"Cepat Berdiri!, Kenapa kalian tidak mematuhiku?!" Ia terus memaksakan kedua kakinya.
Ketika gadis itu berhasil memegang tangan pemuda itu, pemuda itu tersadar dan menatap gadis itu. Ia tatap wajah ayu bersimbah darah milik gadis itu dengan perasaan sedih.
"Sudah cukup, Scar" dengan gemetar gadis itu tersenyum lembut ke arah Pemuda Scar itu.
Scar yang menatap senyum itu makin tersayat hatinya. Melihat senyuman itu yang kini ternoda oleh darah membuat Scar sakit.
"Scar sudahlah"
"Tidak!, Aku tidak akan membuatmu terbunuh di tempat ini!"
"Scar"
"Arrgghh... bergeraklah kalian kaki tidak berguna!"
"Scar,Sudah Cukup!" Suara gadis itu meninggi.
Scar menoleh ke arah gadis itu, ia lihat kedua mata yang indah itu tengah basah Karena air mata.
Scar begitu sakit melihat itu, padahal ia sudah berjanji tidak akan pernah membuat gadis itu menangis. Scar berusaha merangkak mendekati tubuh Gadis itu. Dengan susah payah ia bangkit dan duduk.
__ADS_1
Scar menarik lalu mendekap tubuh gadis itu dengan erat seolah akan kehilangannya. Gadis itu membalas pelukan Scar dan menangis, meski tanpa suara. isakan kecilnya tetap terdengar oleh Scar.
Scar berusaha menahan air matanya namun tidak sanggup, ia lepaskan dekapannya lalu menatap lekat lekat wajah gadis itu di pangkuannya.
Scar mengelus rambut hitam gadis itu dengan lembut sambil berkata semua akan baik-baik saja. Meski ia bilang begitu tapi kenyataannya nyawa mereka sedang dalam bahaya. Ia berusaha untuk berbohong kepada dirinya sendiri. Lihatlah betapa menyedihkannya ia, jika saja ia lebih kuat tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.
Gadis itu mengangkat tangannya lalu meraih pipi Scar lalu ia berkata dengan pelan.
"Scar, kau di panggil begitu karena luka yang ada di pipimu ini kan?" Tanya gadis itu lembut.
"Ya, luka ini peninggalan ayahku" scar menggenggam tangan yang sedang menyentuh pipinya itu lalu menciumnya.
"Dirimu terlihat gagah meski dengan luka itu" gadis itu tersenyum kecil.
"Sudah kubilang kan" Scar tersenyum tipis.
"Scar, jika kita bertemu di alam sebrang. Aku ingin kita berpetualang bersama lagi" gadis itu mengucapkannya dengan bergetar di selingi isakan.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku telah berjanji pada Skye akan menjagamu" sekarang suara Scar terdengar menenangkan namun di penuhi kesedihan.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik" gadis itu tersenyum lembut.
Gadis itu menghirup nafas panjang lalu menghembuskan nya pelan. Seketika perasaan Scar menjadi tidak enak.
"Terima Kasih, Scar. Bertemu denganmu adalah hal yang sangat berarti untukku." Gadis itu tersenyum lalu menutup matanya, tangan yang di genggam Scar kehilangan tenaganya.
"Elisa?, Elisa?. Bangun Elisa!" Scar tidak percaya akan ini, tidak mungkin ini terjadi kepadanya. Ia menatap langit dengan air mata berlinang. Siapa yang ingin ia salahkan atas ini?.
"Elisaaa!!" Ia berteriak kencang kepada langit malam. Namun Elisa sudah tidak akan pernah membuka matanya lagi.
Di langit Hanya sinar bulan dan kerlipan bintang yang menemani pemuda itu bersedih. Angin malam yang dingin menjadi saksi dan para serangga malam saling bersahutan seolah ikut bersedih.
---
**Maaf jika tidak ada update akhir akhir ini karena kesibukan penulis, pekerjaan yang harus di lakukan ada di mana mana.
__ADS_1
sekian.
Ingat!!, pekerjaan berat akan terasa ringan jika di tinggalkan**.