BATTLE CRY

BATTLE CRY
Chap 49: Gadis Berambut Hitam 2


__ADS_3

Andros mengikuti vena ke depan lalu Vena memberinya bayi yang sedang tertidur itu, Andros menggendongnya dengan tanda tanya besar. Ini bayi siapa?, Pikirnya.


Vena duduk di depan tungku dan menyalakan api menggunakan batu api seperti yang dilakukan Andros dulu.


"Kau pandai melakukannya?" Andros duduk di samping Vena.


"Aku disini dua tahun tidak hanya duduk duduk menganggur" Vena meniup apinya agar tidak mati lalu melempar beberapa kayu.


"Jadi... si kecil ini..."


"Dia anak gurumu"


Andros mengerutkan dahi lalu menyingkap poni anak ini. Spirit Beast jika berubah menjadi wujud manusia tidak akan seperti Demonic Beast yang akan menyisakan beberapa bagian tubuh seperti tanduk atau ekor.


"Jadi... apa yang terjadi dengan rambut dan bibirmu? Seingatku kau bilang warnanya hijau karena efek samping ilmu racun yang tidak bisa dihilangkan."


"Aku berhasil menghilangkan sisa racun di tubuhku dan mereka kembali menjadi warnanya semula"


"Oh, kukira kau tidak mau berlatih lagi."


"Karena tidak ada yang bisa kulakukan aku menemukan Kitab Ilmu Racun tingkat tinggi di perpustakaan dan mempelajarinya."


"Hm, jadi begitu..."


Akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan saling bertukar cerita di bawah bintang seperti dulu.


Andros menceritakan latihan berat yang di berikan oleh Weiss sementara Vena mendengarkan dengan seksama, lalu Vena menceritakan pertemuannya dengan beberapa Spirit Beast yang ada di hutan ini bersama istri Weiss, bahkan para spirit Beast itu memberinya petunjuk terhadap ilmu racun serta menurunkan beberapa ilmu yang hebat padanya.


Itu membuat kemampuan Vena berkembang pesat, ilmu racun Vena sangat tinggi berkat kitab yang ia temukan itu serta mencapai tahap Gold Mage karena tanaman ajaib yang ia konsumsi.


"Kamu sudah mencapai tahap itu?!"


Andros sekarang memahami betapa pentingnya sumber daya bagi seorang Magician. Jika memiliki sumberdaya yang cukup dan banyak bukan tidak mungkin untuk membentuk banyak pasukan Wizard.


"Oh iya ngomong-ngomong, dimana kucing kecil itu?. Ia tidak terlihat sedari tadi."


"Oh, dia sedang...." belum Vena selesai berkata sesuatu yang berwarna kelabu hitam dengan kilatan cahaya melintasi langit malam.

__ADS_1


"Ah, itu dia!" Vena menunjuk sesuatu itu. Mata Andros melebar.


Makhluk itu berwujud Kucing berukuran harimau dewasa berwarna hitam serta berekor dua, di keempat pergelangan kakinya terdapat kobaran api berwarna emas yang sama dengan warna matanya yang menyala-nyala. Kucing itu memiliki dua ekor yang melambai di udara.


Kucing itu mendarat di depan Vena lalu mengeluskan kepalanya pada tubuh Vena, terlihat bersikap manja.


"Besar sekali, ini kucing kecil itu?, Kau yakin ini bukan harimau atau singa?"


Vena mengangguk, lalu kucing itu mengeong kepada Andros.


"Miaw!"


"Wah, luar biasa. Beneran kucing"


"Rin ini kira kira kekuatannya sudah setara dengan Silver Mage tahap awal" Vena mengelus kepala kucing itu.


Spirit Beast maupun Demonic Beast dapat meningkatkan kekuatan lebih cepat dan lebih kuat dari manusia pada tahap yang sama. Apalagi dengan asupan Magic Herb dari dimensi ini, perkembangannya sangat cepat.


Keesokannya Andros menjalani latihan pemurnian tenaga dalam di lorong hampa udara di dalam perpustakaan tempat mereka masuk.


Andros berkeringat dingin karena begitu tipisnya udara yang ada disini, pembuluh nadinya membesar paru parunya mengempis.


Berhari hari di dalam lorong itu, perlahan dia mulai terbiasa dengan tipisnya udara dan itu membuat tenaga dalam yang dihasilkan tubuhnya semakin murni.


Ia melakukan itu selama enam bulan penuh tanpa keluar lorong itu, dan Weiss akan memberinya sumber daya yang sekaligus menjadi makanan Andros secara berkala. di dalam lorong hampa udara itu selama beberapa waktu, Andros mulai merasakan jika ada hawa unik yang merembes keluar dari dinding lorong itu.


Andros menghentikan meditasinya ini sudah waktunya ia keluar dan lanjut pada tahap pelatihan selanjutnya. Ia berdiri meregangkan tubuh, ini sudah enam bulan dan ia harus keluar untuk melakukan latihan lain. terasa efek dari meditasi di lorong ini yaitu sekarang ia bisa menghasilkan tenaga dalam yang sangat murni, dalam mimpinya pun tidak terlintas di pikirannya bisa mencapai tingkatan ini.


Meski tenaga dalamnya masih berjumlah tiga puluh empat, tapi kualitasnya jauh berbeda.


Andros yang penasaran melangkah mendekati dinding lorong itu, jika di lihat secara detil dinding lorong ini terbuat dari kristal hitam yang tidak beraturan permukaannya. Ia menyentuh dinding itu dengan tangannya, sangat dingin seperti es. Andros memejamkan matanya, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan kristal ini.


'huh, apa ini?... aura ini sangat mencekam' ujarnya dalam hati.


Semakin lama Andros menyentuhnya, semakin Andros mengeluarkan keringat dingin, rasa khawatir mulai bermunculan di benaknya tanpa alasan. Lalu tiba-tiba ia merasa takut dan lututnya bergetar dan Andros langsung melepas sentuhannya dan jatuh terduduk.


Jantungnya berdetak kencang, sementara keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia masih merasa lututnya tidak berhenti bergetar.

__ADS_1


'aura apa itu? Sangat menakutkan' Andros menelan ludahnya.


---


Setelah keluar, Andros mendapati tidak ada siapa siapa di ruangan besar ini. Andros memasuki kamar namun tidak ada tanda-tanda adanya Vena.


Andros keluar perpustakaan dan sinar matahari menyambut matanya. Ia menghirup nafas dalam dalam hingga udara yang berada lima meter dari arahnya lenyap selama satu detik.


Andros menghela nafas dan asap putih keluar dari hidungnya.


"Ilmu Nafas Naga ini sangat luar biasa"


Andros berjalan turun ke bawah, disana banyak bunga bunga yang warnanya beragam tumbuh dengan suburnya. Di tengah tengah petak bunga itu seekor kucing hitam besar sedang berbaring berjemur sambil bermalas-malasan.


Andros menghampiri kucing berekor dua itu. Rin yang menyadari kehadiran Andros langsung terlentang memperlihatkan perutnya.


"Oh kau mau aku menggaruk perutmu? Baiklah"


Andros menggosok gosok perut Rin dengan lembut hingga kucing itu mengeluarkan suara eraman yang menandakan jika ia suka di gosok perutnya.


"Prrrrr"


Lalu Andros mendengar langkah seseorang dari hutan, Andros mengalihkan pandangan dan mendapati Vena sedang berjalan bersama Bibi Gurunya yang sedang menggendong bayi yang Tempo hari.


"Sepertinya Rin menyukai mu?" Ucap Elian, istri Weiss.


Andros memberi hormat pada bibi gurunya sebelum mengangkat kepalanya kembali.


"Iya, tapi dia ini kucing pemalas. Yang dia lakukan sedari tadi hanyalah tidur" setelah berkata seperti itu. Sebuah ekor menepuk lehernya keras.


"Aw, itu tidak baik. Kucing nakal" gerutu Andros.


"Miaw!" Rin berbalik memunggungi Andros.


kucing ini tidak tahu berterima kasih, setelah perutnya di gosok Andros di campakan begitu saja.


"Haha, kalian ini ada ada saja" Vena tertawa kecil lalu mendekati Rin, Rin yang menyadari itu Vena bangkit dan mengeluskan kepalanya di tubuh Vena.

__ADS_1


"Iya iya, ini makananmu" Vena mengelus kepala Rin dan mengambil sesuatu dari kantung kulit yang ada di pinggangnya.


Vena mengambil sepotong daging ikan segar Yang terlihat lebih besar dari pada kantung itu. Mata Andros kembali melebar.


__ADS_2