
Ketua Orochi tidak menyangka jika penyusup bisa masuk ke sektenya, Ketua Orochi menghela nafas dan mengeluarkan Aura pembunuh yang besar.
"Baiklah, biarkan aku yang menghabisinya sebagai penebusan ku"
"Tunggu dulu Ketua Orochi, kita akan menggali informasi darinya." Yazel menghentikan Pria itu.
Orang berjubah itu mengeluarkan sepasang sabit yang di lapisi sihir angin di tangannya, meski mengetahui bahwa ia akan terbunuh ia tidak akan diam saja tanpa melakukan perlawanan.
"Oh, yang benar saja. Itu sangat tidak perlu" Yazel menjentikkan Jarinya dan bekas tusukan tombak api tadi meledakkan api hitam yang menyala-nyala.
"Sacred Fire Magic - Illusion Flame"
"Argh..." Orang itu menjerit dan mencoba memadamkan api itu menggunakan elemen air miliknya namun api itu seperti tidak terpengaruh dengan sihir yang dia alirkan.
Api itu menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya, ia berniat menerobos keluar tapi ketua Sekte Desa Kabut Hantu mengibaskan tangannya dan mengeluarkan sebuah Pisau angin besar yang memotong kedua kaki Orang itu sekaligus.
Pandangan Orang itu mulai kabur dan sedangkan kesadarannya perlahan menghilang.
---
Sekarang pria itu duduk di sebuah kursi di ruangan yang gelap. Ia melihat ke kanan dan kiri namun percuma tidak terlihat apapun, Tangan dan kakinya terikat oleh tali khusus yang membuatnya tidak bisa mengeluarkan sihir miliknya.
Ia berfikir keras bagaimana keluar dari sini namun ia mendengar suara besi yang di seret di lantai dengan suara jejak kaki. Ia mencoba mendeteksi dari mana asal suara itu namun tidak bisa, energi sihir miliknya sudah habis dan ia tidak bisa mengumpulkan sihir.
'di mana ini?' Tanyanya di dalam hati.
"Jadi... tuan penyusup, berikan informasi yang kau miliki" suara itu terdengar seperti suara perempuan.
"Aku tidak akan..." belum selesai ia berbicara rahangnya di hantam oleh sebuah besi keras.
"Cepat beri tahu aku!!" Bentak suara itu lagi.
"Aku belum sel..." belum selesai ia berbicara mulutnya di hantam lagi.
"Kenapa kau keras kepala sekali?"
"Kau..." sekarang kepalanya yang di hantam, membuat pria itu terdiam sambil menggigit bibir menahan sakit.
Pria itu mengumpat di dalam hati, ia bahkan belum selesai berbicara namun sudah di pukul menggunakan gada besi. Meski ruangan ini sangat gelap meski tidak dapat melihat ia bisa merasakan embusan nafas Wanita itu di dekat lehernya.
"Kau keras kepala sekali, dan aku suka pria yang keras kepala" ucap wanita itu menggoda.
Pria itu jadi merinding, perasaannya jadi tidak enak. Ia merasa wanita itu sekarang menggigit daun telinganya.
"Em..mmm..mmhh" desah wanita itu.
Darah mengalir ke bagian leher pria itu dan wanita itu terus menggigit hingga daun telinga itu tercabut dari tempatnya.
Pria itu merasa daun telinganya terlepas tapi ia mendengar wanita itu sedang mengunyah sesuatu lalu menelannya, pria itu menelan ludah.
'wanita ini sudah gila!' teriaknya dalam hati.
"Ah... darahmu membuatku sangat bergairah." Wanita itu menjilati jari jari tangannya.
__ADS_1
Lalu tangan wanita itu mengelus dada dan perut pria itu dari belakang.
"Bau mu sangat nikmat" pria itu merasa hidung wanita itu mengendus belakang lehernya sekarang.
"Sayangnya kedua kakimu telah putus, padahal aku ingin mencabuti kuku jari kakimu tadi" suara wanita itu terdengar kecewa.
"Kalau begitu sebelum kau mati, aku akan membuatmu nyaman terlebih dahulu" pria itu merasa pakaian nya di robek di ikuti deritan besi berkarat
"Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan!" Pemuda itu berteriak namun berkeringat dingin, sudah di dipastikan jika ia akan mati dengan sangat menyakitkan.
"Oh, benarkah?. Ayo bermain satu ronde terlebih dahulu, baru pikirkan lagi yah~" dalam gelap gulita wanita itu tersenyum tanpa ada yang melihatnya.
---
Akhirnya Andros dan Paman Ozo meninggalkan desa itu setelah berada di sana selama satu Minggu. Paman Ozo dan Vena sangat terkejut dengan kemampuan pemulihan Andros, tubuh pemuda itu sangat cepat meregenerasi luka dalam maupun luar, terlepas bantuan Pil dan Health Potion kemampuan penyembuhan dirinya memang lebih cepat. si kepala desa nampak kecewa karena tidak berhasil membuat mereka menetap namun tetap menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam.
Walaupun sudah terlewat beberapa hari, perasaan Andros masihlah tidak nyaman. Bagaimanapun ia telah membunuh banyak orang meski mereka bukan orang baik tapi itu tidak mengubah fakta jika mereka juga manusia. Bahkan Andros sampai terbawa mimpi.
Desa itu tidak memiliki kereta kuda yang memadai untuk di pakai dalam perjalanan menuju desa lain jadi mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, dan....tentu saja Vena ikut bersama Andros.
Vena memaksa ikut dan beralasan jika ingin melihat ibu kota, Paman Ozo sebenarnya agak keberatan namun ia tidak bisa menunjukkannya. Paman Ozo mengetahui jika Vena berasal dari aliran hitam namun ia tidak gegabah dengan membukanya secara terang terangan.
Mereka berjalan sudah cukup jauh, matahari sudah berada tepat di atas kepala ketika mereka mendengar jeritan.
Mereka bertiga segera mendatangi lokasi dan betapa terkejutnya mereka karena terlihat Mantha yang sedang menggaruk garuk badannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Paman Ozo, sewaktu di desa ia cukup dekat dengan bocah ini.
Paman Ozo menghela nafas lalu melihat punggung anak itu dan menemukan bercak kehitaman di punggung Mantha.
"Kau terkena racun Serangga"
"Eh, bagaimana ini?. Gatalnya tidak tertahankan" ucapnya sambil menggarukkan punggung ke sebatang pohon.
"Biar aku menolongmu" Vena mendekati Bocah itu tapi Mantha masih sedikit takut akan pandangannya namun memberanikan diri. Vena menyentuh bagian bercak hitam di punggung Mantha lalu dengan sihirnya ia menyerap Racun dari tubuh Mantha.
"Poison Magic - Venom Absorber" perlhaan bercak hitam itu menghilang dan berpindah di kulit tangan Vena namun dengan cepat tangan Vena kembali seperti semula.
Vena menghela nafas, Spirit Root racun miliknya membuatnya dapat mempelajari sihir racun tingkat tinggi dan membuat tubuhnya dapat mengubah beberapa jenis racun menjadi Energi Sihir.
"Kalian Pasti sudah tau jika aku berasal dari aliran hitam, tapi aku tidak berniat melukai kalian." Vena melirik Paman Ozo sekilas karena ia tahu pria itu menjadi ekstra waspada kepadanya ketika melihat mayat mayat yang mati keracunan pada pertempuran sebelumnya.
"Aku mempercayaimu, meski berasal dari aliran hitam aku tidak punya alasan untuk menyerangmu. Dan membakar mayat mayat itu sebenarnya merupakan hal yang tidak lazim di lakukan oleh aliran putih sepertiku" paman Ozo juga mengakui itu.
Andros hanya memperhatikan mereka berbincang, ia mengetahui apa itu aliran dalam dunia sihir tapi ia masih tidak mengerti mengapa mereka di pisahkan oleh dua aliran seperti itu. Memandang sebagian lebih baik dan sebagian lain dengan buruk.
"Jadi... mengapa kau mengikuti kami?" Tanya Paman Ozo kepada Mantha.
"Saya... ingin belajar Sihir" ucap mantha dengan mata menyala nyala.
Paman Ozo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana dengan kerabat mu di sana" tanya Paman Ozo.
__ADS_1
"Saya adalah yatim piatu sejak lahir, saya sebatang kara hidup di desa itu. ayolah Paman Ozo kumohon jadikanlah saya muridmu!!" Manta meminta dengan sepenuh hati.
Paman Ozo menghela nafas, ia merasa hal yang bagus jika ia mengambil seorang murid dan karena ia dan istrinya masih belum di karuniai seorang anak. mungkin Mantha bisa menjadi anak angkatnya dan ia yakin istrinya akan sangat senang akan hal itu.
"Baiklah, akan aku ajari kamu menjadi Seorang Magician tapi... aku tidak mengangkatmu sebagai murid tapi aku akan mengadopsimu" Paman Ozo tersenyum dan mengelus kepala Mantha. Sementara Mantha matanya berkaca-kaca lalu menangis dan memeluk Paman Ozo.
Andros tersenyum hangat kepada kedua Orang itu sedangkan Vena sedang larut dalam lamunannya.
"Oke, pertama Tama aku akan memberimu sebuah nama baru, Bagaimana?"
"Iya"
Paman Ozo mulai berpikir nama apa yang bagus untuk Mantha.
"Bagaimana dengan Robert?"
"Bukannya itu nama laki-laki?" Tanya Mantha sambil mengerutkan dahi.
Paman Ozo mengerutkan kening. Ia cukup yakin jika Mantha ini merupakan seorang bocah laki laki.
"Saya perempuan." Mantha mengucapkannya ringan.
Bahkan Andros dan Vena Terkejut, mereka berdua juga mengira jika Mantha Adalah Bocah Laki-laki.
"Paman mengharapkan seorang anak laki-laki?" Tanya Mantha
Paman Ozo hanya menggeleng pelan sambil tersenyum lembut dan mengelus kepala Mantha.
"Kalau perempuan maka lebih baik, istri saya sangat menginginkan anak perempuan" Mantha yang mendengar itu seketika menjadi cerah wajahnya.
"Bagaimana jika Hazel?"
"Um, saya suka itu" Hazel mengangguk.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Ibu Kota Geateria Kingdom.
---
**Kemarin ketika penulis berjalan jalan menggunakan mobil dan parkir di depan sebuah minimarket, teman penulis turun dari mobil dan masuk ke dalam mini market itu untuk membeli beberapa barang.
ketika menunggunya keluar, sekelompok gadis berhenti di depan mobil kami lalu berbincang sebentar dan salah satu dari mereka masuk ke mini market.
salah satu gadis yang berada di samping mobil menghadap pintu mobil di bagian pengemudi, sontak penulis yang sedang duduk di kursi pengemudi kaget dan gadis itu sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke kaca mobil. ia merapikan rambutnya lalu membuat beberapa wajah aneh seperti sedang selfie.
penulis yang sedikit merasa terhibur hanya membiarkan itu sampai beberapa lama, dan karena gadis itu tidak kunjung menghentikan perilakunya. Dengan senyum bodoh dan tawa yang di tahan, perlahan penulis menurunkan kaca mobil itu.
sontak gadis itu lompat terkejut dan meminta maaf beberapa kali, sementara teman temannya menghujaninya dengan tawa terbahak bajak lalu gadis itu pergi sambil di ikuti rombongannya.
ketika mereka cukup jauh, penulis tertawa lepas hingga teman penulis datang dengan alis terangkat dan wajah kebingungan karena melihat penulis yang sedang Ngakak.
Sekian Curhat Cocot dari Author Owl's. semoga kalian terhibur dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.
jangan lupa like, dan rekomendasi ke teman teman kalian ya!!😂**
__ADS_1