BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 19: Gadis Bertopeng


__ADS_3

Sementara di puncak dari Menara Iblis. Pada lantai ke sembilan, pria dengan topeng batu itu sedang duduk di singgasananya dengan menatap putrinya yang sedang ada di hadapannya.


"Jadi, kau ingin keluar sekte untuk sementara waktu?"


"Iya ayah. Aku ingin mencari pengalaman di luar sana." Wanita bertopeng itu menundukkan kepala.


Meski menggunakan topeng, dari kedua mata lentik gadis itu bisa dilihat kalau ia memiliki paras yang sangat cantik terlebih kulitnya yang seperti salju, putih dan lembut.


Rambut panjang nya yang berwarna hijau gelap ia kuncir tunggal, serta matanya seperti batu zamrud. Dengan segenap keberaniannya ia meminta izin ayahnya untuk berkelana selama satu tahun demi mencari pengalaman.


"Apa yang kau inginkan pada saat saat seperti ini?!, Kita akan bersiap berperang. Akan berbahaya jika kau pergi ke luar sendirian." Kata Pria Bertopeng Batu.


Alhasil gadis itu tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia sangat kesal sekarang, terlihat beberapa tubuh tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan akibat racun di dekatnya.


Vena, Anak semata wayang Ketua Sekte Menara Iblis. Meskipun baru berusia tujuh belas tahun namanya begitu di takuti oleh para anggota sekte.


Ia terkenal begitu Kejam dan Sadis, tidak ada yang berani mendekati gadis itu. Karena salah berbicara kepadanya saja, bayarannya adalah nyawa. Tidak segan segan ia langsung meracuni orang yang menyinggunya.


Selain terkenal kejam, ia juga terkenal akan kekuatan sihir dan kecantikannya. Lahir dengan Dua elemen pada spirit rootnya. Yaitu Angin dan Racun, salah satu elemen lanjutan.


Di umur semuda itu ia telah mencapai tahap akhir dari Pro Magician sebentar lagi memasuki tahap Advance Magician.


Meski ia telah di larang untuk keluar sekte, tapi bukan Vena namanya jika menurut begitu saja seperti gadis baik. Ketika malam ia menyelinap keluar sekte dengan jalan rahasia yang sudah ia siapkan jauh hari sebelumnya.


Kini, sudah tiga Minggu ia berada di luar sekte. Jika ada yang mencarinya ia langsung sembunyi karena tidak ingin tertangkap dan di seret kembali.


Ia berjalan memasuki sebuah desa, Vena sudah berjalan cukup jauh dari Desa sebelumnya. Ia berencana untuk beristirahat di tempat ini.


Suasana desa itu begitu suram namun ketika ia memasuki gerbang desa, kemunculannya menarik perhatian para penduduk yang melihatnya.

__ADS_1


Penampilannya yang mengenakan baju ketat menarik perhatian beberapa pemuda, mereka tergoda oleh tubuh Vena namun tidak berani mengganggunya. Apalagi ketika melihat mata Vena yang menatap mereka dingin, meski memakai topeng tidak diragukan lagi jika Gadis ini memiliki paras yang tidak biasa.


Ingin Vena melemparkan jarum jarum beracun miliknya pada mata mata yang memandang tubuhnya, belum lagi tangannya mulai gatal ingin meracuni seseorang karena selama beberapa waktu tidak melakukan eksperimen namun ia menahan diri agar tidak memancing terlalu banyak perhatian


Karakter gadis ini memang bermasalah, ia suka melakukan eksperimen eksperimen sadis terhadap racun yang ia buat kepada orang yang membuat masalah dengannya. Sampai neneknya khawatir jika tidak ada pria yang cukup berani untuk mendekati Vena.


Ia terus berjalan sampai menemukan sebuah penginapan yang menjadi satu dengan rumah makan.


Sewaktu ia memasukinya tidak ada pengunjung lain selain empat orang yang duduk bersama di satu meja. Seorang anak kecil, remaja usia belasan tahun, seorang pria dan Kakek tua.


Ia tidak menghiraukan mereka dan memanggil pelayan dan segera memesan.


"Rencananya akan di mulai sebentar lagi, aku akan menyusup ke sana dan meracuni tempat penyimpanan sake mereka." Kata remaja itu.


Vena yang awalnya tidak tertarik menjadi berdiri telinganya karena mendengar kata racun. Meski mereka berbicara sambil berbisik Vena bisa mendengarnya. Vena tiba-tiba menjadi antusias.


"Kau yakin bisa menyusup tanpa ketahuan?, Mereka dapat mendeteksimu karena Energi Sihir yang kau miliki." Pria di sampingnya angkat bicara.


Sementara anak kecil itu lanjut makan dan Kakek itu dari tadi hanya berdiam diri mendengarkan.


Vena berfikir bagaimana cara agar dapat bergabung dengan mereka, ia sangat ingin meracuni seseorang sekarang.


Paman Ozo merasa wanita Bertopeng itu mendengar mereka ia menjadi waspada.


Ketika mereka hendak pergi, wanita itu juga ikut berdiri. Paman Ozo curiga namun ia tidak gegabah untuk menegur wanita itu. Sialnya ketika Paman Ozo melihat pakaian yang dikenakan perempuan itu Paman Ozo menelan ludahnya. Meski masih remaja tubuh Vena memang sudah seperti wanita dewasa. Bahkan Kakek tua itu melebarkan matanya.


Hanya Andros dan Mantha yang tidak bereaksi. Kedua mata Vena tampak tajam meski ia tidak berniat menakuti mereka.


Mantha ketika melihatnya langsung berkeringat dingin, sementara Andros malah tersenyum hangat mengisyaratkan sapaan kepada Vena.

__ADS_1


Vena malah mengerutkan dahinya, ia terkejut remaja seusia Andros tidak bereaksi setelah melihat tubuh indah milik Vena. namun yang membuat Vena lebih kebingungan adalah ketika ia memberikan tatapan tajam kepada pemuda itu, ia malah mendapat balasan senyuman lembut. ada yang aneh di kepala anak itu, pikir Vena.


Setelah itu mereka berempat langsung pergi ke luar, sementara Vena langsung membayar makanannya meski ia belum makan segigitpun. Pelayan menjadi bingung namun Vena langsung keluar mengikuti mereka berempat.


Paman Ozo merasa mereka di ikuti namun Andros menahannya agar tidak langsung menyinggung gadis itu, ia memiliki rencana untuk mengetahui maksud gadis itu. Walau begitu Paman Ozo yakin jika berhadapan dengan gadis itu ia akan keluar sebagai pemenang karena gadis itu mengeluarkan aura seorang yang masih berada di tingkat Pro Magician. Untuk seorang Silver Mage sepertinya sepuluh orang yang seperti gadis itu bukanlah tandingannya, apalagi pemahaman pedangnya bertambah setelah latih tanding dengan Andros, sungguh pemuda itu membuka matanya tentang ilmu berpedang.


Andros memisahkan diri dari rombongan dan berjalan menuju ujung desa. Sesuai dugaanya gadis itu mengikutinya dari jarak jauh.


Ia berjalan dan ketika sampai di luar desa tepatnya di sebuah Padang rumput luas, Andros menghentikan langkahnya.


"Anda ada perlu dengan saya?" Ucap Andros ramah tanpa membalikkan badan.


Vena tidak menjawab, ia hanya berhenti di tempatnya berdiri sambil waspada. Ia mengerti jika pemuda di hadapannya memisahkan diri agar bisa bertarung dengan leluasa jika terdesak, Vena menambah kewaspadaannya karena ia sama sekali tidak bisa melihat tingkat sihir milik andros.


Andros membalikkan badan dan tersenyum lembut kepada gadis itu.


Vena hanya menatap tajam ke arah pemuda itu lalu memasang kuda-kuda bertarung, ia penasaran dengan kemampuan pemuda di hadapannya tapi ia masih tidak menurunkan tingkat kewaspadaannya karena bisa jadi ilmu pemuda itu lebih tinggi darinya.


"Tunggu dulu, aku memancingmu kesini bukan untuk bertarung." Andros mencoba membujuk Vena.


Namun Vena malah tersenyum tipis di balik topengnya, jika Pemuda di hadapannya menolak bertarung ada kemungkinan pemuda ini lebih lemah darinya.


Vena melemparkan beberapa jarum beracun lalu maju dengan sebuah senjata pisau kecil.


Andros langsung menyadari jika gadis ini tidak memiliki niat baik, dengan cepat ia menarik pedangnya dan menangkis seluruh jarum itu.


'sial dia menggunakan racun!' ucap Andros dalam hati, ia mencium bau racun yang kuat di jarum itu. Ia harus berhati-hati.


Tapi Andros memiliki sebuah rencana, jadi ia menyarungkan kembali pedangnya, Vena mengerutkan dahinya lalu menyerang Andros menggunakan pisaunya.

__ADS_1


---


Mohon dukungan para pembaca sekalian agar memberikan like di setiap Chapter agar Novel ini makin sering Up. dan jangan lupa bagikan ke teman-teman kalian.


__ADS_2