
"Kriaaak!!"
Andros menarik Cyana menghindar. Tubuh monyet itu berukuran seperti beruang dewasa.
'Kekuatannya setara Dengan Advance Magician tingkat akhir.!!' batin Andros.
"Mundurlah Cyana, akan ku tangani ini!"
Andros melesat cepat ke depan, menghampiri monyet itu.
Monyet itu mengeluarkan serangan dari kukunya yang tajam. Andros menghindari serangan yang cepat itu.
Lalu melancarkan beberapa serangan di lengan monyet itu.
"Jurus Seratus Pedang, Teknik ke-54. Hujan di musim dingin!"
"Cih, kulitnya keras sekali." Andros mulai menghujani punggung Monster itu dengan serangan cepat.
Pertarungan sangat tidak seimbang. Andros berusaha bertahan tapi tidak bertahan lama. Lalu ketika melihat celah, Cyana berlari kearah punggung Andros dan menggunakannya sebagai pijakan.
Cyana melompat tinggi lalu menusuk mata monyet itu.
"Kriaaakhh!!!" Mata tengah monyet itu tertancap belati hitam. Dia menjerit-jerit sebelum Andros menusuk Batang tenggorokan monyet itu sampai tembus.
"Jurus Seratus Pedang, Teknik ke-5. Tusukan Fatal."
Pedang tertusuk menembus kepala monyet itu, tidak sampai disitu. Andros mengeluarkan jurus yang lain.
"Teknik ke-1, Tebasan Tunggal" Andros membelah dua kepala monyet itu.
Monyet itu langsung tumbang tak bernyawa. Darah mengucur deras dari kepalanya yang terbelah. Nafas Andros tersengal, karena bertarung dengan monyet ini. Jika Cyana tidak membuat monyet itu lengah pasti dia tidak bisa mengimbangi monyet itu. Dan nyawa mereka akan terancam.
Cyana mencabut belatinya dengan santai seolah tidak terjadi apa apa, Andros sedikit kagum dengan mental dewasa Cyana, ia seperti tidak terganggu dengan pembunuhan ini, Andros saja masih merasa tidak nyaman jika membunuh terlalu banyak. Meski Andros kagum ada rasa khawatir muncul di dalam diri Andros.
Baru saja mereka menghela nafas, dua Three Eyed Devil Monkey Muncul.
"Sial, pasti mereka mencium bau darah teman mereka, ayo pergi Cyana!" Andros menarik tangan Cyana. Namun makhluk itu mengepung mereka.
Andros menggemeretakkan giginya, jika dia menjadi umpan ada kemungkinan Cyana dapat kabur tapi bisa jadi salah satu monyet ini mengejar Cyana.
"Sial, ini seharusnya daerah aman. Tapi kenapa mereka sampai kesini?!"
Jantung Andros berdetak cepat, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Sampai ia mendengar suara tawa.
Andros melihat ke sumber suara itu, seorang laki laki paruh baya bertopi jerami dengan empat pedang yang berbeda satu sama lain tersarung di pinggangnya. Belasan pisau kecil tergelantung di pinggangnya. Ada rantai yang melintang di bahunya. Dan ia membawa keranjang di punggungnya yang berisi belasan pedang. Ia juga merokok.
Setelah ia tertawa, ia menghisap rokok itu lalu menghembuskan nya dengan santai.
"Lumayan juga, bocah!" Serunya.
Andros mengerutkan dahi, Sementara kedua monyet itu menatap pria itu dengan penuh kebencian. Monyet itu mengganti target mereka kepada orang tua itu.
__ADS_1
"Dasar hewan tidak berakal. Kalian tidak sadar berapa hewan seperti kalian yang sudah kubunuh?." Pria itu tersenyum sinis lalu memegang dua pedang dari pinggangnya, lalu melepasnya dari sarungnya.
Andros melebarkan matanya karena pedang itu, yang di tangan kanan pria itu melepaskan hawa dingin yang kuat lalu pedang yang di tangan kanannya mengeluarkan Cahaya kemerahan dari bilahnya yang seperti magma.
Ketika kedua monyet itu menyerang, pria tua itu tiba-tiba menghilang. Dan muncul di balik kedua monyet itu.
"Teknik Pedang Terlarang, Berkedip!" Ucap pelan pria itu lalu dengan ganas menebaskan kedua pedangnya di tubuh monyet itu.
"Teknik Pedang Terlarang, Pemakan Manusia!" Tubuh monyet itu dengan mudahnya di belah seperti tahu oleh kedua pedang orang itu.
"Cepat sekali!, Teknik apa yang dia gunakan?!"
"Terlalu cepat dua puluh ribu tahun untuk kalian mengalahkan aku." Pria itu menyarungkan pedangnya lagi dan berjalan santai mendatangi Andros. Namun keanehan terjadi, mayat monyet itu berubah menjadi sebongkah es dan daging yang terbakar.
Andros menjadi siaga, di dunia sihir seperti ini orang yang kuatlah yang memakan yang lemah. Dan juga tidak ada alasan bagi pria itu menyelamatkan Andros dan Cyana. Itu membuat Andros curiga.
Meskipun siaga Andros tidak bodoh untuk memasang kuda-kuda menyerang kepada pria ini. Andros tersenyum ramah lalu menyapa.
"Terima kasih senior telah menyelamatkan kami. Kami..."
Belum sempat Andros menyelesaikan kata katanya pria itu menghilang. Andros lalu melihat ke belakang, ternyata Cyana telah disandra orang itu.
"Teknik Pedang terlarang. Berkedip!" Pria itu tersenyum mengejek ke arah Andros sedang kan Cyana meronta-ronta dan hendak menusuknya.
"Ups, gadis kecil sepertimu tidak seharusnya memegang senjata seperti ini." Pria itu membuat Cyana pingsan dengan menotok bagian belakang lehernya.
"Senior. Mohon lepaskan dia." Andros memegang gagang Pedangnya.
"Tolong lepaskan gadis kecil itu. Senior" Andros mengeratkan genggamannya.
"Aku akan membawa gadis ini, kau pergilah. Anggap saja gadis ini sebagai bayaran karena aku menyelamatkanmu"
"A-aku akan memberikan emas sebagai gantinya. Tolong lepaskan dia."
"Apa kau pikir aku orang yang terlihat sedang membutuhkan uang?" Pria itu semakin tersenyum sementara Andros merasa percuma berbicara dengan orang ini. Ia tidak akan menyerahkan Cyana secara baik baik.
"Tidak bisa senior. Aku tidak akan memberikannya. Meski aku harus membayar dengan nyawaku." Andros mengeluarkan pedangnya kali ini.
Pria itu melempar Cyana ke semak semak lalu berdiri di depan Andros.
"Kau tidak sayang nyawamu, bocah tengik. Baiklah akan kubunuh kau dengan cepat." Pria itu tidak menarik pedangnya. Bahkan ia bisa membunuh Andros dengan satu jari kalau mau.
Andros merapatkan giginya dan maju menyerang. Ia mengerahkan tenaga dalamnya yang tersisa dari pertarungan dengan monyet tadi.
"Jurus seratus pedang, Teknik ke-54. Hujan di musim dingin!"
Andros mengerahkan serangan yang menyerang titik vital lawan.
"Hmph, aku sudah melihat jurus itu. Tidak akan mempan kepadaku." Pria itu menghindar dengan mudah. Sambil mengejek.
"Cih, Jurus Seratus Pedang. Teknik ke-56. Tangisan musim semi!"
__ADS_1
"Hahaha, teknik itu bagus. Tapi tidak cukup." Kali ini pria itu melepaskan sebuah pukulan ke perut Andros.
Seketika Andros muntah darah lalu terpental dan menabrak pohon.
Andros meludahkan darah segar dari mulutnya.
"Kau, tidak mengalirkan energi sihir di setiap seranganmu. Apa kau tidak punya akal atau Jangan-jangan kau tidak bisa menggunakan sihir ya." Pria itu tertawa terbahak-bahak, ia bisa mengetahui itu juga karena sewaktu ia mendaratkan pukulan di perut Andros dia memeriksa tubuh andros tapi ia tidak merasakan sedikitpun energi sihir dalam tubuh pemuda itu.
"Orang yang tidak mempunyai sihir itu seperti Debu di dunia ini. Tidak ada harganya. Sampah tidak berguna, bahkan sebongkah batu saja memiliki sedikit sihir di dalamnya. Apa kau tidak malu untuk hidup?" Orang itu tersenyum remeh.
Andros mencoba berdiri dengan susah payah, nafasnya putus putus.
Andros kembali maju dan mengeluarkan segenap kemampuannya. Ia menebas, menusuk dan memukul namun tidak dapat mengenai lawannya.
"Lihatlah kau, begitu menyedihkan"
"Diam"
"Seperti Bayi yang tidak berdaya. Orang tuamu pasti malu telah melahirkanmu!"
"Diam!!"
"kau bisa melindungi orang orang yang kau sayang dengan kemampuan seperti itu?"
"DIAM!!!"
Andros semakin menyerang tanpa arah nafasnya makin memburu. Serangannya makin liar.
"Contohnya saja, apa kau bisa menyelamatkan adikmu yang pingsan disana?" Dengan mudah pria itu menghindar dan berbicara seperti berjalan di taman saja, mudah, gampang, Ez.
"Hm..Dia bukan adikmu sepertinya. Wajah kalian begitu berbeda. Aku juga belum pernah melihat wajah seperti milik gadis ini." Pria itu menghindar sambil menggaruk kepalanya.
"Ah, atau mungkin kau mencintai gadis ini?, Hahaha dasar anak kecil."
"KUBILANG DIAM!!" Andros berhenti menyerang lalu tertunduk dengan nafas tersengal.
"Lho, kenapa berhenti?. Kau sudah letih?"
"Aku... tidak.... boleh, MARAH!" Andros masih tertunduk, ia mencoba mengatur nafasnya. Pria bertopi jerami itu tidak bisa melihat raut wajah Andros.
"Omong kosong apa itu?"
"Sudah kubilang, aku tidak boleh marah!!" Suara Andros berubah menjadi mengerikan, Andros mengangkat kepala dan menatap pria itu penuh dengan kebencian. Mata Andros menjadi merah menyala dan raut wajahnya sangat mengerikan. Pria itu mengerutkan dahi.
Pria itu sempat berkeringat dingin walau sesaat karena sekilas ia seperti merasakan hawa pembunuh yang amat pekat, hawa itu penuh dengan kebencian, kegelapan, dan kejahatan yang amat besar. Tidak ada makhluk yang memiliki hawa pembunuh sepekat itu.
'sudah kuduga ada sesuatu di dalam tubuh bocah ini' batinnya.
---
Dukung terus Battle Cry dengan memberi like pada setiap chapter dan bagikan ke teman-teman kalian!!
__ADS_1