BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 16: Keadaan Istana


__ADS_3

"Kalau gitu gawat ya" ucap raja dengan santai ia satu-satunya orang yang masih bisa mengupil disaat tegang begini.


Ruangan itu sekarang berada pada tekanan yang besar. Semua merasa sakit kepala kecuali sang raja. Lalu seorang pria paruh baya datang dengan mendobrak pintu dengan kakinya.


"Kalian para orang tua terlalu khawatir soal itu, apa kalian tidak berpikir jika sekte aliran putih akan tidak diuntungkan jika kerajaan ini di kuasai aliran hitam. Kita gunakan alasan itu untuk membujuk mereka." Para menteri merasa geram namun tidak satupun orang yang berani menyinggung pria itu di ruangan ini.


"Ah, Saudara Han. Selamat datang, cara masukmu tidak pernah berubah ya." Raja berdiri lalu menyambutnya.


Pria itu adalah Ketua sekte lembah alam. Berkatnya lah kerajaan menjadi di segani para sekte aliran putih. Karena lembah alam adalah satu dari tiga aliran putih terbesar di Kerajaan Geateria selain Tato Besi dan Tungku Giok Api yang baru saja masuk ke dalam kategori sekte besar.


"Walau dengan posisimu saat ini, Ketua Han. Berilah sedikit muka kepada sang raja." Ujar seseorang yang berdiri di samping raja. Sedangkan raja tidak menganggap itu masalah.


"Hmph!" Ketua Sekte Lembah Alam, Han memalingkan wajahnya.


"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita juga mulai mengumpulkan para ketua sekte aliran putih secepatnya. Jika tidak mau kerajaan ini runtuh." Raja memberi titah dengan santai sambil mengibaskan tangannya.


Banyak yang tidak menyadari, jika orang terkuat di ruangan ini bukanlah Han dari Sekte Lembah alam melainkan Raja yang terlihat santai ini. Raja Duncan. Kepribadiannya sedikit bermasalah untuk seorang raja karena sifatnya yang Flamboyan dan kekanak-kanakan.


Tidak banyak yang mengetahui sihir apa yang di miliki Raja Duncan. Tidak banyak yang tahu di balik wajah bodoh dan suka mengupil itu tersembunyi kekuatan yang amat besar.


---


Raja Duncan berhasil lolos dari kejaran Sekertarisnya. Orang itu selalu melarikan diri jika disuruh menanda tangani dokumen yang tebalnya seukuran Batang kayu besar itu.


Ketika berjalan di taman ia melihat putrinya sedang berjalan di temani seorang pengawal berwajah serius yang seumuran dengan putrinya.


"Elveennaaa!!" Ia melambaikan tangan dengan cepat.


Sementara Putri memijat keningnya melihat ayahnya seperti itu.


Entah bagaimana caranya Raja Duncan langsung sekejap mata muncul di hadapan Putri Elvena.


"Yang mulia" kedua orang itu menundukkan kepala.


"Ah, sudah kubilang berkali-kali jangan bersikap seperti itu kepadaku Elvena, kau putriku kan, bersikaplah manja dan imut kepada ayahandamu ini~" Raja Duncan menghela nafas."padahal dulu kau manis sekali"


"Meskipun demikian. Anda adalah Raja dari Geateria Kingdom ini, Ayahanda." Kata Elvena.


"Phuh, merepotkan saja. Angkat kepalamu juga Nak Chalice. Kau juga sudah kuanggap anak sendiri, terima kasih telah menjaga Putri kecilku." Raja tersenyum pada pemuda berzirah lengkap dengan pedang tersarung di pinggangnya itu.

__ADS_1


"Tidak, yang mulia itu sudah tugas saya." Rambut emasnya berayun ayun. Matanya menyiratkan jika ia lelaki tegas dan berintegritas.


"Hei Chalice, mau ikut aku mengintip pemandian." Raja berbisik di telinga Chalice.


"Maaf yang mulia, saya menolak. Itu tindakan yang kurang sopan bagi Kesatria seperti saya."


"Ah, membosankan." Memasang wajah kecut yang menggelikan


"Yang mulia, Ibunda bisa sangat marah jika mendengar apa yang Anda katakan barusan." Putri Elvena tersenyum dingin


"Oh, ayolah sayang. Ayahanda hanya ingin mengajak Chalice untuk tumbuh dewasa. Lagipula ibumu sedang marah pada ayah. Jadi dia tidak mau di dekati."


"Itu karena ayahanda meletakkan tikus di supnya."


"Itu kejutan ulang tahun, kan setelah itu aku memberinya kado." Raja Duncan Protes.


"Tidak ada perempuan yang mau di hadiahi, sebuah kerikil sungai." Elvena mengerutkan dahi.


"Batu sungai itu bukan batu biasa, batu itu berwarna hijau. Bukankah itu keren, kerikil berwarna hijau?." Raja mengerutkan dahi.


"Dan di selimuti lendir. Jangan lupakan itu."


Elvena menggeleng kepala, bahkan Chalice juga menghela nafas.


"Yang mulia. Yang mulia!!" Terdengar sayup sayup suara parau di udara.


"Aih, itu Jansen. Aku harus pergi, dadah sayang."


Raja Duncan berlari meninggalkan mereka lalu tidak lama muncul pemuda berambut coklat dengan keringat di dahinya. Mencari keberadaan Raja.


---


Kereta berjalan pelan tanpa hambatan, Andros berbicara dengan seorang pria dengan Zirah besi.


"Dengar, Andros. Kau dipilih langsung oleh tuan putri untuk melindunginya jadi, siapkan dirimu" ucap pria itu dengan nada serius.


Perjalanan ke ibu kota memerlukan waktu dua hari dengan kereta kuda. Kereta itu hanya membawa Andros, si pria dengan baju zirah dan seorang kusir.


Mereka singgah ke sebuah desa untuk mengisi perbekalan terlebih dahulu, tapi ketika sampai di desa itu. Mereka melihat pemandangan yang aneh, seluruh penduduk di desa itu terlihat lesu dan murung bahkan anak-anak juga.

__ADS_1


Andros coba bertanya apa yang terjadi namun para penduduk menolak untuk memberi informasi.


"Ada yang aneh di desa ini, Paman Ozo."


"Ya, aku pun merasakannya."


"Sebaiknya kita membantu mereka Paman." Andros mengatakan itu dengan mantap.


"Tapi, Kamu harus tiba dua hari lagi di istana. Andros, tuan putri menunggu Anda." Paman Ozo mencegah Andros tapi bocah itu menolak keras.


"Kita harus membantu mereka Paman, jika Paman menolak maka silahkan Paman kembali ke istana sendiri. Saya tidak ikut." Andros langsung pergi ke pusat desa tanpa melihat ke belakang.


Sementara Paman Ozo tidak punya pilihan lain selain mengikuti Andros, karena perintah yang terima adalah membawa Andros ke istana namun tidak boleh memaksanya.


Ia menyuruh kusir untuk pergi terlebih dahulu dan menyampaikan kalau mereka akan sedikit terlambat. Kusir itu mengangguk lalu memacu kudanya dengan cepat.


Andros berusaha menemukan rumah kepala desa dengan bertanya ke anak anak yang lewat.


Ketika sampai di rumah kepala desa, ia lihat rumah Reyot yang bahkan lebih sederhana dari rumah warga yang lain.


Ketika ia masuk, seorang sepuh keluar dengan senyum di wajahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Anak muda?" Ucapnya.


Setelah Andros menyatakan jika ingin membantu desa ini, raut wajah kepala desa langsung berubah dan mengajak Andros untuk masuk. Sebelum mereka masuk Paman Ozo tiba dan ikut masuk.


"Jadi, apa yang terjadi dengan desa ini, Kakek?" Andros bertanya dengan nada khawatir.


Kakek menghela nafas lalu memberi tahu jika awalnya kehidupan di Desa Tani ini memiliki panen yang melimpah namun sejak kedatangan para kelompok bandit di dekat bukit, kehidupan mereka sangat sulit. Para bandit awalnya hanya meminta Upeti namun karena tahun ini gagal panen, para bandit mulai meminta para gadis dari Desa ini.


"Sudah dua belas gadis yang di culik dari Desa ini. Sedangkan kami tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka." Kakek kepala desa menutup wajah dengan kedua tangan, ia malu sebagai kepala desa.


"Bagaimana jika menyewa kelompok dari Sekte Sihir terdekat?" Ucap Paman Ozo.


"Mereka tidak mau membantu karena kami sudah tidak memiliki apa apa sebagai bayarannya." Kakek itu makin sedih.


Andros cukup kesal karena sikap mereka tapi memanglah begitu kenyataannya, jarang ada yang mau membantu seseorang jika tidak di beri imbalan.


---

__ADS_1


Tolong Berikan Dukungan kalian dengan memberikan like di setiap Chapter dan bagikan ke teman-teman kalian!!


__ADS_2