BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 27: Perang Dingin


__ADS_3

Andros membuka matanya dan hal yang pertamakali ia lihat adalah Vena yang tengah tertidur di samping ranjang miliknya.


Ia mencoba menggerakkan badannya namun rasa sakit menyelimuti seluruh tubuhnya, ketika Andros hendak duduk. Paman Ozo datang menghentikannya.


"Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu masih proses pemulihan. Hampir saja nyawa mu melayang di pertempuran terakhir kau tau?"


Andros hanya mengepalkan tangannya


"Itu salahku, karena aku lemah. Aku tidak bisa melindungi tuan putri dengan kemampuan seperti ini. Apalagi karena aku sudah mengambil banyak nyawa, meskipun mereka adalah perampok tapi tetap saja mereka juga manusia." Andros mulai merasa terguncang akibat pembunuhan yang ia lakukan.


"Apa yang kau bilang, hal yang mustahil seorang bocah ingusan bisa melukai seorang Silver Mage. Apalagi tanpa menggunakan sihir sedikitpun. Dan juga kuberi tahu ini Andros, dunia sihir adalah dunia kejam dimana yang kuat menindas yang lemah dan Jika kau bersikap naif seperti itu maka kau pasti tidak berumur panjang."


Andros terkejut karena Paman Ozo mengetahui jika ia tidak bisa menggunakan sihir. Namun ia mengerti jika ia masihlah sangat naif.


Vena terbangun dan menanyakan apakah Andros baik baik saja, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tertangkap tapi Andros berkata itu bukan salah Vena.


"Ini semua salah wajah ini, jika saja aku tidak memiliki wajah seperti ini mereka pasti tidak akan menangkap ku"


"Memang sih wajahmu itu sangat indah di pandang, wajar saja mereka terpesona. Iya kan?" Andros melirik Paman Ozo yang menjadi teringat kembali akan istrinya lalu keluar kamar meninggalkan Vena dan Andros berdua. Sementara di balik topengnya Vena tersipu malu, ia belum pernah sebahagia ini bila di puji kecantikannya.


Vena membantu andros keluar rumah kepala desa karena penduduk tengah berkumpul di luar, setelah penaklukan itu Paman Ozo mengumpulkan pemuda desa untuk mengosongkan ruang harta para Bandit itu. Semuanya di bagi rata kepada penduduk desa sedangkan Paman Ozo tidak meminta sepeserpun.


Ketika Andros keluar, terlihat warga desa semuanya berkumpul di depan rumah. Para gadis yang di selamatkan langsung menghadap Andros dan berterima kasih.


Begitu juga orang tua mereka, setelah itu mereka mengadakan pesta dan menjamu tiga pendekar itu. Paman Ozo sedang menyantap makanannya ketika Kepala desa datang dengan membawa seorang gadis bergaun putih.


"Maaf mengganggu saat makan Anda tuan Ozo" Paman Ozo mempersilahkan Kepala desa untuk duduk.


"Begini, tuan Ozo. Apakah Anda sudah menikah?, Jika belum saya menawarkan putriku sebagai ucapan terima kasih telah membebaskan desa ini dari kelompok itu" Kepala desa memperkenalkan putrinya, sementara Paman Ozo mengerutkan dahinya, ia merasa belum pernah melihat gadis ini. Gadis itu terlihat masih muda mungkin sekitar umur tiga belas atau lima belas tahun, di umur segini sudah menikah merupakan hal yang lumrah tidak heran jika sudah ada perempuan yang berumah tangga meski berumur belia.


"Ketika penangkapan itu, dia saya sembunyikan di ruang bawah tanah rumah ini agar aman. Bagaimana tuan, apakah Anda bersedia?"


Paman Ozo mengerti jika ada tujuan lain selain berterima kasih dari Kepala desa. Ia hendak menikahkan Putrinya agar Paman Ozo tinggal di desa ini dan melindunginya.


"Saya merasa tersanjung tuan kepala desa, karena berkesempatan mempersunting Putri anda yang cantik ini namun saya adalah seorang pria yang sudah berumah tangga. Mungkin teman saya yang di sana tertarik dengan penawaran Anda?" Ucap Paman Ozo sambil menunjuk Andros yang kesulitan memasukan makanan ke mulutnya.


"Maaf jika begitu" orang tua itu langsung berpindah ke hadapan Andros. Melihat itu Paman Ozo hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


Melihat Andros yang kesulitan memakai sumpit, Putri kepala desa berinisiatif mengambil sumpit itu dan mengambil sepotong daging dan hendak menyuapi Andros. Ia menjadi bersemangat jika di jodohkan dengan pemuda seusianya.


Andros menyambut makanan itu lalu berterima kasih, Putri kepala desa tersenyum dan lanjut menyuapi Andros. Melihat suasana itu Kepala desa hanya mengangguk pelan dan pergi.


"Jadi, Anda ini Putri kepala desa?." Tanya andros sambil mengunyah makanannya.


"Panggil saja saya, Adik Nirma. Kak Andros." Jawab Nirma ambil tersenyum.


"Ah, Baik. Dik Nirma" mendengar itu Nirma tersenyum senang sedangkan Paman Ozo menggeleng pelan karena ia sedari tadi memerhatikan mereka berdua.


Andros masih menikmati makanannya ketika ia merasakan bulu kuduknya merinding, ia mengalihkan pandangan ke arah datangnya perasaan tidak nyaman itu. di situ terdapat Vena yang sedang membawakan sepiring hidangan menatap kearah Andros dengan dingin. Paman Ozo melihat kejadian itu lalu mengelus dagunya.


'Hm.. Ini akan menarik' ucap Paman Ozo sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Hai, Vena. Mari duduk bersama kami" ucap Andros tersenyum, di dalam hatinya ia merasa merinding. Ia tahu jika suasana hati Vena sedang tidak bagus tapi Andros tidak tahu apa penyebabnya.


Vena duduk dengan aura yang tidak menyenangkan.


Dengan berkeringat dingin Andros memperkenalkan Nirma tapi Nirma terlebih dahulu memperkenalkan dirinya.


"Aku Nirma, Putri semata Wayang kepala desa. Terima kasih atas bantuan yang Anda berikan" Nirma tersenyum tapi hanya Vena yang menyadari jika senyum itu adalah sebuah tanda perang.


'aw, kau kenapa Vena?' Andros tidak berani mengeluarkan kata-katanya namun hanya tersenyum kecut.


"Nampaknya luka Kak Andros sangat parah." Dengan nada simpati Nirma berkata sembari mengelus Paha kanan Andros.


Sebuah sensasi yang benar-benar berbeda antara paha kanan dan kirinya.


"Kak Andros, Bukankah Daging ini lezat sekali?. Buka mulutmu... Aaaaa" Nirma menyodorkan sumpit berisi daging itu. Dengan hati-hati Andros memakan daging itu, tapi Vena langsung menyendok sup dan menyuapi Andros.


"Sup hangat ini akan membantu proses pemulihanmu" belum selesai mengunyah ia langsung di paksa memakan sup itu.


"Hei, kak Andros. Yang mana yang lebih nikmat?" Tanya Nirma dengan suara manis.


Andros memandang senyum berkilau milik Nirma lalu mengalihkan pandangannya ke Vena yang terlihat seperti menunggu jawabannya.


Andros menelan ludah lalu dengan bergetar menjawab.

__ADS_1


"Nirma.." Andros langsung menangkap raut sedih di wajah Nirma. "Maksudku Dik Nirma.." seketika wajah Nirma menjadi cerah. Sementara Vena mulai menggerutu dalam hati.


"Maaf Dik Nirma, sup Vena lebih nikmat" ucap Andros dengan senyum kecut Andros berbicara seperti itu, ia tidak mau memancing Singa dari kandangnya. Wajah gadis itu menjadi kusut lalu seperti mendapat ide ia kembali sumringah.


"Jadi begitu.. Makanan DIK Nirma kurang lezat ya." Ia sengaja menekankan pengucapannya pada kata Dik agar memancing Vena. Dan parahnya Vena menangkap umpan itu.


"Hei, Andros. Mulai sekarang panggil Aku Dik Vena."


Nirma senang umpan miliknya termakan, ia sudah memperkirakan hal ini sementara Paman Ozo di sebrang sana sedang menerka apa yang sedang di rencanakan Nirma sambil mengelus dagunya.


"Em... Bukannya Kamu lebih tua dua tahun dariku" tepat sasaran, dugaan Nirma sangat tepat jika Vena lebih tua dari Andros.


"Kalau begitu panggil aku Kakak" Vena mengucapkan itu dengan cepat.


"B-baiklah" Andros tergagap.


Tapi Vena berpikir kembali, dalam sebuah hubungan lazimnya yang laki lakilah yang memanggil perempuan dengan sebutan adik walau lebih muda. Itu artinya jika Andros memanggilnya kakak berarti hubungan mereka tidak spesial hanya sebatas kakak dan adik. Ia sadar jika posisinya tidak diuntungkan menatap kesal ke arah Nirma yang menutup mulut sambil tertawa kecil.


Paman Ozo mengerti apa yang terjadi tertawa terbahak-bahak sedangkan Andros sangat tidak nyaman dengan situasi ini hanya bisa duduk sambil berkeringat dingin. Ia tidak mengerti kedua gadis ini sedang apa.


"Ah, kalau begitu tidak usah" dengus Vena.


'Oh, ini menyeramkan. Seseorang tolong aku!!' jerit Andros dalam hati.


Sementara di meja para pemuda desa mereka mulai mengeluh. Mereka memikirkan hal yang sama, yaitu nikmatnya menjadi Andros.


"Sial enaknya ..."


"Huh, bikin iri saja"


"Aku juga ingin di perebutkan gadis cantik!"


Para pemuda itu mulai mengeluh, Jika Andros mendengar itu ia pasti akan memukul kepala mereka dengan batu.


---


**Yah, akhir akhir ini semangat untuk update agak berkurang, karena melihat novel lain yang baru memiliki banyak like serta view. jadi saya minta tolong kepada para pembaca agar dapat memberikan like serta share dan rekomendasikan ke teman teman kalian😄

__ADS_1


sekian bacotan curhat dari saya, sampai jumpa di chapter selanjutnya**


__ADS_2