BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 10: Toko Pedang


__ADS_3

"Persiapannya bagaimana?" Pria dengan topeng batu di wajahnya menatap tajam ke arah pemuda yang sedang berlutut di hadapannya.


"Semuanya lancar, Ketua. Semua sekte aliran hitam yang diundang. Semua menyetujuinya"


"Bagus, Mereka harus membayar perbuatan mereka." Pria itu tersenyum sinis. "Sekarang persiapkan Anggota Sekte kita untuk perang!, Menara Iblis harus bisa menguasai Kerajaan Geateria!"


"Baik, ketua!. Tapi....." Pemuda itu langsung menghilang dari pandangan.


"Tapi?" Pria dengan topeng batu itu menatap pemuda di hadapannya dengan tajam hingga pemuda itu berkeringat dingin.


"Maaf ketua, tapi kami membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan tumbal untuk makhluk itu."


Menara Iblis adalah sebuah sekte aliran hitam yang terdapat di wilayah kerajaan Geateria, mereka berdiri di bagian paling barat yang berbatasan dengan kerajaan Myth Turtle.


Beberapa tahun lalu anak dari ketua sekte menara Iblis terbunuh oleh seorang kesatria sihir dari kerajaan Geateria, demi membalas dendam ia mengumpulkan seluruh sekte aliran hitam di kerajaan ini untuk menyerang istana. Para sekte aliran hitam menyetujui dengan syarat mereka akan diberi wilayah dan beberapa persen dari jarahan.


Dengan begini bantuan bagi istana hanyalah yang berasal dari lembah alam yang bersekutu dengan kerajaan, karena sekte aliran putih yang lain belum tentu akan mengirimkan bala bantuan jika tidak menguntungkan mereka.


Para sekte aliran putih akan mencari alasan untuk tidak membantu, jika membantu pun mereka akan memberikan bantuan sedikit. apalagi pemimpin penyerangan ini adalah Menara Iblis, sekte aliran hitam terbesar di Kerajaan Geateria.


Tapi sekarang rencananya tertunda karena sesuatu yang amat merepotkan.


---


Malam itu ayah tiba di rumah, ia sudah mendengar kabar jika anaknya tidak lolos menjadi Magic Knight kerajaan.


Ia menguatkan Andros dan membimbing anaknya untuk meningkatkan tenaga dalam dan penguasaan pedangnya.


"Dengan kekuatan fisik dan tenaga dalam seperti itu, jika kamu mengasahnya terus menerus maka tidak menutup kemungkinan kamu bisa mengimbangi mereka yang di tingkat Platinum Mage" Ucapan ayahnya di awal latihan begitu membekas di benak Andros.


"Siapa gadis itu?" Tanya ayah yang langsung masuk dan ibu sudah di depan untuk menyambutnya ayah melihat Cyana yang sudah rapi duduk di pemanas Ayah sedang sibuk bulan ini karena prajurit baru jadi baru pulang setelah satu Minggu di akademi.


"Itu gadis yang waktu itu di selamatkan Andros, kami memberi nama Cyana." Ibu menyambut ayah.


"Hm, aku sempat tidak mengenalinya Dia manis sekali ya, bentuk wajahnya yang unik dan rambutnya menyatu , mungkin setara dengan Putri Elvena" ayahnya tertawa kecil.


Cyana hanya melihat ayah sekilas lalu bersiaga, ia melompat mundur lalu menyerang ayah. Ayah terkejut namun dapat menangkis semua serangan. Belum Cyana mendarat sebuah tendangan ia Lesatkan ke perut ayah.

__ADS_1


Ayah yang tidak siap langsung terkena dan mundur dua langkah. Sementara wajah gadis itu masih tanpa ekspresi.


"Ayah!" Jerit ibu.


Gadis itu lalu mengambil kayu yang sedang terbakar di pemanas dan langsung menusukkannya ke arah ayah.


Ketika kayu itu hampir mendarat di perut ayahnya, andros langsung menangkap tangan Cyana.


Cyana kaget namun langsung maju membelakangi Andros seolah melindunginya.


"Apa yang kau lakukan, Cyana?!" Kata Andros.


namun gadis itu tidak menunjukkan ekspresi. Hanya menatap ayah dengan dingin.


Lalu Andros kembali menjelaskan dengan peragaan anehnya jika ayah bukanlah musuh.


Cyana mengangguk dan membungkuk maaf kepada ayah lalu kembali duduk di depan pemanas seolah tak terjadi apa-apa.


"Apa apaan dia itu?" Ayah bertanya.


"Mungkin ia menganggap ayah sebagai ancaman, karena ayah meminumkannya ramuan yang membuatnya tidur itu, aku masih tidak mengerti kenapa dia seperti itu. Ia juga tidak pernah menunjukkan wajah lain selain wajah datarnya itu." Andros menatap Cyana iba.


---


Cyana melihat mata kalungnya dalam dalam. Ia suka warnanya.


Sebenarnya kehidupannya sebelum ini sangat berat, di pikirannya hanya ada perintah dan perintah. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti kalau membunuh itu salah.


tapi ia merasa sedikit terganggu dengan anak perempuan yang berisik itu, anak itu tidak pernah diam.


Meskipun baru berusia 10 tahun, Cyana cepat belajar, dalam waktu dua Minggu ini ia sedikit dapat memahami apa yang dikatakan tuannya. Cyana juga tidak lepas dari Andros, ketika Andros latihan ia mengikutinya sampai mountain of Waterstone.


Meskipun begitu dia tidak pernah melemahkan kewaspadaannya. Ia yang terbiasa hidup di Medan perang, tidur di kelilingi ledakan senjata api dan dentingan pedang. Kehidupannya seperti itu tiada hari tanpa perang.


Tidak banyak yang gadis kecil itu pikiran, ia hanya tergerus arus kehidupan.


"Nah, ayo" Andros sudah terlihat rapi dan mengajak Cyana yang memakai baju bekas Andria, gaun putih sederhana dengan rompi kulit dan rok hitam panjang.

__ADS_1


Hari ini di desa ada bazar yang diadakan seminggu sekali, Andria tertidur di meja belajarnya sehingga tidak bisa ikut sedangkan ayah baru pulang, ia hendak istirahat sedangkan ibu, Andros melihatnya senyum senyum tidak jelas melihat ayah.


Andros melangkah meninggalkan rumah. Dengan Cyana yang berjalan lurus tanpa banyak bicara, Cyana sendiri larut dalam pikirannya. Ia tidak banyak berbicara.


"Kamu, apakah berasal dari pasukan militer?"


"...."


"Seperti apa kehidupanmu sebelum ini?"


"..."


Andros hanya menatap wajah tanpa ekspresi itu dengan hati tersayat, bagaimana bisa anak sekecil itu dapat membunuh?


"Hei, jika ada yang kau inginkan nanti. Katakan saja akan kubelikan"


Ketika sampai di pusat desa, suasana begitu meriah, cahaya terang agak redup berpendar dari tiang tiang. Para pedagang menawarkan dagangan mereka, anak anak yang menikmati apel madu, para remaja yang terlihat asik bermain permainan. Hari ini merupakan hari yang meriah di desa ini.


Andros berencana untuk pergi ke area pandai besi untuk membeli sebuah pedang. Ia tidak bisa menggunakan pedang kayu itu jika ingin berburu Magic Beast.


Magic Beast adalah hewan hewan yang memiliki kekuatan luar biasa dan memiliki energi sihir di dalam Core mereka, Magic Beast yang memiliki Energi Sihir di bagi menjadi dua jenis, yaitu Demonic Beast dan Spirit Beast.


Demonic Beast adalah hewan buas yang hampir tidak memiliki kecerdasan dan berkekuatan besar. Dalam tingkat tertentu mereka dapat memiliki kecerdasan seperti manusia dan mereka meningkatkan kekuatan dengan cara memangsa Magic Beast lain.


Sedangkan Spirit Beast adalah Magic Beast yang memiliki kecerdasan layaknya manusia dan dapat menjelma menjadi bentuk manusia jika telah mencapai tahap tertentu, mereka juga berlatih meningkatkan Sihir mereka dengan berlatih.


Setiap Magic Beast memiliki Core yang sangat berharga, Setiap nilai Core tergantung pada kekuatan dari Magic Beast itu dan dapat digunakan untuk meningkatkan energi sihir namun jika memakai Core dari Demonic Beast secara berlebihan maka di tubuh akan tumbuh bagian dari tubuh Demonic Beast yang corenya di gunakan atau biasa disebut Demonic Transformation.


Selain pedagang dari dalam desa, kebanyakan penjual atau penyedia jasa di bazar ini merupakan dari luar desa. Karena dengan cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain akan meningkatkan keuntungan.


Sepanjang jalan banyak pasang mata yang melihat Cyana, Cyana sangat menarik perhatian karena wajah cantiknya dengan rambut perak miliknya.


Andros sampai ke bagian pandai besi. Ia datang ke sebuah toko yang menjual senjata berjenis pedang.


---


**Dukung Battle Cry dengan memberi Like di setiap Chapter dan jangan lupa untuk membagikan cerita ini ke teman-teman kalian!.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter selanjutnya**!


__ADS_2