
"Guru, tidak adil. Berikanlah aku sedikit keringanan, memakai kekuatan penuh bukankah itu sedikit tidak adil?" Andros berdiri dan memegangi perutnya.
"Keringanan?. Jika aku memakai kekuatan penuhku maka kau tidak akan mungkin bertahan meski hanya satu kedipan mata, jangan banyak mengeluh dan hadapi ranting kecilku!!" Weiss kembali maju dan di tahan Andros.
Mereka bertukar puluhan serangan, Andros mulai memahami jika gurunya sedari tadi memakai pola yang sama dan mulai mengikuti serangan gurunya.
"Kau meniru jurusku, Menarik..." Weiss mulai menambah kecepatan serangannya. Andros menjadi sedikit kesulitan namun memakai teknik keseratus untuk mengimbangi gerakan gurunya.
"Teknik Seratus Pedang, Teknik ke-100. Aliran Penuh!" Daya serang Andros meningkat pesat, dengan tulang harimau biru serta otot merahnya membuat kekuatannya jauh melebihi sewaktu kepungan para perampok.
"Menarik... sungguh menarik muridku, bagaimana dengan ini?!" Weiss secara tiba-tiba mengubah pola serangannya dengan cepat. Andros yang terkejut mengikuti gerakan gurunya meski dengan susah payah.
"Hal yang bodoh, jika kau terus mengikuti jurusku maka aku dapat memprediksi gerakannya selanjutnya!!" Weiss melepaskan sebuah serangan yang nyaris mengenai Andros. Andros melompat mundur dan nafasnya tidak teratur dan perlahan wujudnya kembali normal, tidak ada tanda-tanda tubuhnya mengalami shock seperti yang dulu karena kualitas tulangnya yang telah meningkat.
"Cobalah terus bernafas menggunakan teknik dari kitab Bintang Naga itu, jika kau hanya menggunakan teknik pernafasan milikmu itu maka kau tidak akan dapat berkembang dengan pesat."
Andros mengetahui itu hanya saja ketika terus menerus menggunakan pernafasan Naga itu, kepalanya dan paru parunya serasa hampir meledak. Meski begitu Andros tetap menuruti perintah gurunya. Ia memakai pernafasan Naga dengan teratur.
Ia menggenggam erat pedangnya dan melesat maju, mereka kembali bertukar puluhan jurus.
Kaliini setiap pedang dan ranting itu bertaut maka gelombang kejut akan tercipta. Itu karena kali ini Andros mengalirkan tenaga dalam pada pusakanya dan kembali memulihkan tenaga dalamnya dengan pernafasan Naga.
"Bagus tetap pertahankan itu!!" Weiss juga meningkatkan serangannya dengan mengalirkan Sejumlah Energi Sihir yang besar di rantingnya.
Sekian lama mereka saling beradu jurus tiba tiba pedang itu memiliki retakan lalu hancur menjadi cairan darah, Andros melebarkan matanya sedangkan Weiss melepaskan tebasan yang mengenai lengan Andros, pemuda itu terlempar jauh sekali sampai tertabrak sebuah pohon bahkan pohon itu langsung roboh ketika mengenai punggung Andros.
Di depan Weiss darah itu berserakan di tanah lalu cairan itu terlihat hidup dan bergerak kearah Andros, Weiss mengikuti darah itu dan sampai ke lokasi pemuda itu sedang bersandar di Batang pohon yang ia tabrak sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
Darah itu masuk melalui pergelangan Andros dan luka yang di hasilkan kembali menutup. Andros memegangi lengan atasnya yang sepertinya retak sambil mengelap darah di sudut bibirnya.
"Lihat, bahkan pusaka sekuat Bloody Sky Spirit Sword akan terlihat payah jika di pegang seorang bayi" Weiss melemparkan ranting yang di pedangnya ke arah sebuah batu besar, ranting itu tidak hanya menancap pada batu itu melainkan terbelah hingga ranting itu tertancap di batu yang berada di belakang. "Sementara seorang ahli pedang itu dapat mengubah apapun yang menjadi senjatanya setara dengan pusaka tingkat tinggi, meski itu hanyalah sehelai daun"
Andros melebarkan matanya melihat batu itu terbelah. Pedang pusaka saja dapat hancur seperti tadi apa lagi sekedar batu biasa seperti itu.
"Pada dasarnya Bloody Sky Spirit Sword itu menghisap tenaga dalam, jika tenaga dalammu habis seperti tadi ia akan berubah menjadi cairan kembali" Weiss mengangkat tubuh andros di punggungnya.
"Dan juga, jangan suka meremehkan orang yang menjadi lawanmu. Jika kau meremehkannya sebelum bertempur maka kau telah kalah sebelum bertarung ingat itu!" Weiss membawa Andros terbang untuk di obati di oleh sumber daya di tempat peristirahatan.
"Baiklah guru, mata murid menjadi terbuka hari ini. Murid menyadari jika kekuatan murid sangatlah lemah di banding para Senior terdahulu." Ucap Andros.
"Hm, tenang saja. Jika kau rajin berlatih maka kau dapat melampaui mereka yang di masa lalu."
Guru dan murid itu melesat ke arah gunung pasak itu. Di sana terdapat gua kecil Andros duduk bersila lalu Weiss memberikan sebuah buah yang memiliki khasiat penyembuhan Andros menyerap khasiat buah itu perlahan luka di tubuhnya menutup.
"Tidak semudah itu" langsung saja Weiss menyadarkan Andros dari lamunannya,
"Eh, tidak bisa?"
"Aku bukan bilang tidak bisa, namun tidak semudah itu untuk melakukannya."
Weiss dapat terbang karena ia menggunakan sihirnya sedangkan Andros tidak memiliki sihir sedikitpun. Magician pun dapat terbang dengan sihirnya namun jarang yang dapat melakukannya karena kesulitannya begitu tinggi.
"Benar juga.... mana mungkin aku bisa terbang." Andros menurunkan bahunya.
"Tidak, itu dapat di lakukan"
__ADS_1
Andros kembali bersinar matanya, Weiss menjelaskan jika Andros dapat menguasai Ilmu Langkah Awan Petir dan angin maka ada kemungkinan Andros dapat terbang dengan di bantu tenaga dalam.
Latihan meringankan tubuh andros pun di mulai, Andros sangka ini akan menjadi latihan yang mudah sampai ia melihat Weiss mengumpulkan ranting ranting kecil, lalu menyuruhnya berlari.
"Guru.. itu untuk..."
Jdum!!!
Belum selesai Andros berbicara sebuah ranting melesat melewati samping lehernya dan tertancap pada pohon di belakangnya.
"Oi, apa yang kau lakukan?. Cepat berlari, jika tidak ranting ini akan menembus perutmu loh" Weiss kembali melempar ranting kecil yang seperti tombak besi itu Andros menghindar lalu menelan ludah.
'Ah, Lagi lagi...' ucapnya di dalam hati.
---
Sudah beberapa hari Andria menjadi Murid dari Kakek Guo, sedangkan teman-teman yang lain berhasil lulus dan di tempatkan pada asrama sendiri di komplek perumahan. Andria menolak untuk tinggal di villa dan memilih tinggal bersama Cyana di sebuah rumah yang dimiliki sebuah keluarga yang membuka rumah makan.
Karena tidak semuanya dapat rumah sendiri maka mereka akan tinggal bersama di rumah yang berada di dekat gunung itu.
Cyana tengah termenung di beranda kamarnya di lantai dua sambil melihat bulan dengan perasaan Melankolis.
Bulan purnama terlihat begitu cantik, pantulan sinar bulan membuat rambut perak Cyanan terlihat bercahaya karenanya
Gadis itu menghela nafas, sambil memegangi Belati hitam miliknya. Andria yang tidur satu kamar dengannya mendatangi Cyana lalu duduk di sampingnya.
"Kau sedang memikirkan apa yang dilakukan Kak Andros sekarang?"
__ADS_1
"Ya, Terkadang Tuan Andros sering kali muncul di benak saya. Ketika teringat dia saya selalu terbayang senyuman serta tangan hangatnya ketika mengelus kepala saya. Tapi ketika menyadari Tuan Andros sedang berada jauh dari saya, rasanya... ada sesuatu yang aneh di dada saya" Cyana menyentuh dadanya dengan tangan kanan lalu melanjutkan.