BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 39: Buku Tua


__ADS_3

Scar mengerutkan dahi tapi menurut saja, Raiden perlahan membuka matanya lalu mengeluarkan salah satu kemampuan matanya.


"Bidang Visi!"


Ketika Scar menatap ke mata Raiden, matanya juga ikut berubah menjadi biru lalu ia bisa melihat semua yang di lihat oleh Raiden, ia lihat sesuatu yang terbungkus kain putih melayang di udara lalu menghilang.


Raiden menutup mata dan semuanya menjadi normal, Scar mengerjapkan matanya yang telah normal beberapa kali.


"Kau bisa melakukan hal seperti itu, kekuatan matamu itu sangat unik. Tapi kurasa ia mendengar pembicaraan kita, ia mengetahui jika kita sedang mengincarnya."


"Ya, kita akan memburunya sebelum ia berhasil mengumpulkan kekuatan"


---


"Andros kau harus melihat ini!" Vena berteriak kencang membuat meditasi Andros berakhir.


Andros berlari mendatangi asal suara Vena. Ia melihat Vena sedang melebarkan matanya di depan pintu sebuah ruangan kecil.


"Ada apa?.... Hah?" Andros juga melebarkan matanya.


Ruangan kecil itu seperti kamar dengan sebuah tempat tidur, sebuah meja dan sebuah kursi. Namun ada sesosok bertudung dan berjubah hitam yang sedang duduk di kursi itu.


Sosok itu sedang duduk sambil menghadapi sebuah buku tebal dengan sebuah pena bulu di tangannya.


Andros mendekati Sosok itu dengan hati hati sementara Vena di belakangnya waspada.


"Permisi, senior." Andros menyentuh bahu sosok itu lalu seperti tak bertenaga kepalanya terkulai kebelakang dan memperlihatkan wajahnya yang hanya tinggal tulang belulang.


Tubuh itu sudah sepenuhnya tulang tanpa daging sedikitpun, sepertinya jasad ini telah lama meninggal.


"Sepertinya orang ini adalah pemilik perpustakaan ini." Vena berpendapat.


"Ya, sepertinya begitu." Andros mengambil buku tebal yang berada di hadapan jasad itu.

__ADS_1


Ia membersihkan debu yang menempel lalu membaca sampulnya.


"Pendekar Terakhir" Andros membaca sampulnya dan duduk di atas ranjang berdebu itu lalu membaca isinya.


Raut wajah Andros berubah ubah ketika membaca buku itu, ia mendapat beberapa pencerahan dari kisah di buku itu.


"Ini!!"


---


Semakin Andros membaca buku itu semakin ia tidak bisa berhenti karena kisah di dalamnya. Sementara Vena yang ikut melihat juga tidak bisa berhenti.


Berkat buku ini Andros mengetahui jika para leluhur Awalnya tidak menggunakan sihir tapi menggunakan tenaga dalam seperti dirinya. Ia juga mengetahui jika perpustakaan ini berisi ilmu ilmu dari Zamannya.


Lalu anak kucing yang di pelihara Vena mendesis ke arah bawah meja seperti melihat sebuah ancaman.


"Ada apa Rin?" Tanya Vena lalu mengangkat kucing itu.


Benda itu melompat ke arah Andros lalu dengan gesit Andros menghindari segumpal besar Cairan berwarna merah darah itu.


"Benda apa itu?" Andros waspada sedangkan Vena berdiri di belakang Andros.


Cairan kental itu bergerak gerak lalu melompat kembali kepada Andros, dengan lincah Andros menghindari setiap terjangan benda itu.


Namun yang membuat Andros heran adalah Vena seperti tidak di pedulikan oleh benda itu, cairan itu hanya menyerang Andros.


Lalu Andros melihat sebuah toples kaca di lemari dan mengambilnya, ketika cairan itu melompat Andros membuka toples itu dan memasukkan cairan kental itu di dalamnya lalu menutup toples itu.


"Benda apa itu?, Menjijikkan."


"Entahlah" Andros membawa buku itu keluar bersama Vena menuju Pondokan tepi danau. Andros berniat menyelesaikan bacaannya terlebih dahulu.


Andros membaca setiap lembar di temani Vena di dekatnya namun perhatian Vena tidak sepenuhnya pada buku namun sebagian pada wajah antusias Andros.

__ADS_1


Sementara kucing hitam bernama Rin itu mengeluskan diri pada tangan Vena, sambil mengeong ngeong pelan. Mereka berdua terkagum dengan kisah ini tapi Vena menggeleng pelan karena menemukan kemiripan sifat antara Andros dengan Satu tokoh dalam buku ini.


Di akhir buku ini terdapat sebuah halaman yang kiranya di tulis oleh darah..


'Kekacauan terjadi dimanapun di atas dunia ini, kedamaian menjadi sebuah fatamorgana di gurun panas, nyawa anak manusia melayang setiap hari, luka luka terbentuk di setiap menit dan darah tertumpah setiap detik.


Harga nyawa manusia terasa tidak lebih berharga dari serangga, mereka saling membantai satu sama lain Hanya untuk kekuatan, Tidak terkecuali diriku.


Aku melukis Kanvas kehidupanku dengan Pedang sebagai Kuas dan Darah sebagai Tintanya.


Aku pernah menemukan sebuah kehangatan dalam diri seseorang namun dengan kejam takdir merenggutnya dariku.


Aku yang sudah muak pada dunia ini mengangkat senjata namun bukan kepada musuh atau orang jahat, tapi kepada dunia ini.


Dengan sebilah pedang di tangan aku Menjelma menjadi Keputusasaan dan menghabisi semuanya sampai tak bersisa.


Dengan sebilah pedang aku menghianati semuanya


Dengan sebilah pedang aku merenggut semuanya.


Ini adalah sebuah kisah tentang kelahiran seorang monster, Monster Berwujud Manusia. kelahiran Pendekar Yang Memburu Pendekar lainnya.'


Setelah membaca lama menutup buku itu dengan menghela nafas panjang, ia membayangkan ada di posisi si pendekar. Ia benci mengakui pandangan si penulis itu ada benarnya, Lubang di hati manusia itu tidak dapat di puaskan. Sehingga mereka akan terus menerus mencari sesuatu untuk menutup lubang itu.


Keserakahan dan keegoisan merupakan penyakit jiwa yang sulit untuk di sembuhkan, dan kedamaian merupakan permata berharga yang tidak banyak yang menginginkannya sementara balas dendam merupakan buah terlarang yang di dambakan setiap orang.


Bagaimana kita lolos dari dunia yang penuh dengan tipu daya ini?, Jalan satu satunya adalah kematian. Dan jalan itulah yang di tempuh oleh sang penulis. Jalan berdarah yang ia harus tempuh demi masa depan yang lebih baik.


Dan Andros menyadari jika Pencarian akan kekuatan merupakan lingkaran dosa yang tidak pernah habis. Lalu di sampul balik buku itu tertulis.


'ketika kau sampai di puncak kau tidak akan melihat kemenangan atas semua itu, kau akan mendapati bahwa kau hanya berdiri sendiri. kau hanya akan melihat darah dan tangisan yang tiada akhir serta kekosongan yang abadi.'


Andros hanya menghela nafas berulang kali sampai sebuah suara yang terdengar berwibawa muncul dari arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2