Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Seperti bebek


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Kamu gak kuliah?" tanya Adnan ketika Nasya tidak segera bersiap.


"Enggak Pak, hari ini saya libur. Tapi saya mau ikut anak anak sekolah yah," kata Nasya dengan wajah memelas nya.


Adnan pun langsung mengerutkan dahi melihat wajah Nasya yang begitu pucat, "Kenapa?"


"Saya masih takut Pak, di rumah sendiri. Mbok Yem kan lagi izin ke rumah saudara nya. Dan baru pulang sore nanti kalau gak malem. Terus aku di rumah sama siapa? Gak mungkin aku di rumah sama mang—"


"Cepat masuk ke mobil!" kata Adnan dengan cepat memotong pembicaraan Nasya.


Tentu saja Adnan tahu kemana arah tujuan pembicaraan Nasya. Benar, Nasya masih terlalu muda dan masih terkesan baru. Tidak mungkin, dia membiarkan Nasya di rumah sendiri dengan para pekerja laki laki.


"Ehemmm."

__ADS_1


Mendengar suara berdeham seketika membuat Adnan langsung memberikan tatapan tajam pada sang empu nya.


"Diamlah Ga, dan cepat jalan. Anak anak sudah terlambat!" kata Adnan datar dan segera masuk ke dalam mobil.


Sementara itu, Yoga yang tadi sempat menggoda Adnan hanya mampu terkekeh. Ketika melihat wajah bos nya terlihat masam.


Entah mengapa, Yoga merasa bahwa ada sesuatu di antara Adnan dan Nasya. Hanya saja, laki laki itu begitu sulit untuk mengakui nya. Maka dari itu, Yoga begitu senang menggoda setiap kali ada waktu.


Selama bersama Adnan, sejak kematian istrinya, Adnan tidak pernah lagi dekat dengan gadis atau wanita manapun. Ia selalu melalui hari harinya sendiri. Terkesan datar dan kaku, Adnan bisa bersikap humoris dan sering tersenyum hanya bila sedang pulang ke kampung halaman sang istri, yakni rumah Olin.


Setelah menempuh perjalanan, kini mobil yang di kendarai Yoga sudah sampai di sekolahan duo R. Nasya pun segera turun dan hendak mengantarkan Ryan dan Ryana. Namun, dengan cepat di tahan oleh Adnan.


"Kamu tunggu disini," kata Adnan menahan tangan Nasya.


"Kan saya mau nunggu di dalem Pak. Ya kali saya nunggu disini? mau ngapain coba?" tanya Nasya seketika langsung memanyunkan bibir nya dengan kesal.

__ADS_1


"Masuk ke mobil! dan jangan pernah memanyunkan bibir seperti itu. Kami terlihat seperti bebek mainan milik Ryana!" kata Adnan lagi, lalu ia segera menggendong Ryana dan menggandeng tangan Ryan.


Sementara Nasya yang merasa di katai oleh Adnan, langsung menyentuh bibir nya yang masih cemberut kesal.


"Enak aja bebek!" cetus nya kesal dan kini bibir itu malah semakin ia manyun kan sambil berkaca di kaca mobil. Hingga membuat Yoga yang masih di dalam nya semakin tak kuasa menahan gelak tawa nya.


"Ngapain kamu?" seru Adnan yang sudah kembali dan masih melihat Nasya berdiri di samping mobil.


"Gak!" jawab Nasya ketus, lalu ia segera masuk ke dalam mobil.


"Jalan, Ga!" titah Adnan kepada Yoga, dan mobil pun segera berjalan menuju kantor.


"Sya, kamu udah punya pacar belum?" tanya Yoga memulai pembicaraan.


Bukan memulai pembicaraan, mungkin lebih tepat nya ia mulai menyalakan api kompor. Karena sambil menunggu jawaban dari Nasya, ia juga melirik ke arah belakang, dimana yang tadinya Adnan tengah memeriksa tablet nya langsung menatap ke arah Nasya.

__ADS_1


__ADS_2