Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Takut


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Ba—Bapak?” gumam Nasya, seraya menelan saliva nya dengan susah, ketika merasakan hembusan napas Adnan yang berada tepat di ceruk leher nya.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan nya, ia merasa seluruh tubuh nya terasa lemas. Tak hanya itu, jantung nya berdetak dengan begitu cepat, serta ia juga merasa bahwa aliran darah nya semakin deras.


“Apa kamu, benar benar sudah merasa lebih baik?” tanya Adnan sedikit berbisik.


Sebenarnya, dirinya juga tidka tahu, mengapa ia bisa memiliki keberanian untuk memeluk Nasya seperti itu. Semuanya terjadi seolah reflek tubuh nya dengan tiba tiba.


“B—Bapak gak berangkat ke kantor?” tanya Nasya mengalihkan pembicaraan.


“Apa kamu ingin aku pergi?” tanya Adnan seraya mengerutkan dahi nya.


“Bapak, i—ini tolong lepasin dulu, s—saya takut,” ujar nasya tak enak dan berusaha untuk melepaskan pelukan Adnan.


“Apa yang kamu takutkan?” tanya Adnan lagi.

__ADS_1


Entah pikiran dari mana, antara kepolosan atau kebodohan yang Nasya lakukan. Dengan tiba tiba, ia meraih tangan Adnan yang melingkar di perut nya, untuk ia bawa dan letakkan di atas dada nya.


Tanpa ia duga, bahwa perbuatan nya itu semakin membuat degup jantung nya kian bertambah, “Tuh kan, bapak ngerasain sendiri. Jadi tolong lepasin,” kata nasya langsung melepaskan tangan Adnan.


Adnan masih terdiam, merasakan jantung nya yang juga sudah mulai tidak beres. Namun meski begitu, Adnan masih berusaha untuk tetap stay cool.


Bukan karena degup jantung Nasya, yang membuat jantung Adnan juga tidak beres. Melainkan karena tangan nya yang tanpa sengaja dan permisi melewati dan menyentuh sebuah gunung.


“Nasya,” panggil Adnan dengan begitu lembut. Ia belum melepaskan pelukan nya, namun ia malah semakin mengeratkan pelukan tersebut, hingga membuat jantung Nasya semakin tak sehat.


“Bisa gak, kalau gak manggil saya Bapak?” tanya Adnan sedikit kesal, lalu ia menghela nafas nya panjang, dan ia hembuskan perlahan di ceruk leher Nasya, hingga membuat gadis itu semakin merasa gelisah dan tak tenang.


“Na—nanti jatuh nya saya kurang ajar Pak. B—bapak jauh lebih tua dari saya,” jawab Nasya dengan polos nya.


“Aku belum tua Nasya, umur ku tak berbeda jauh dari Yoga!” kata Adnan mendengus.


“Tetap saja Pak, Yoga saja di atas saya, ya sudah pasti Bapak juga jauh di atas saya,” ucap Nasya masih berusaha untuk menetralkan jantung nya.

__ADS_1


“Meskipun saya di atas, tapi aku pastiin bisa buat kamu senang,” bisik Adnan.


“Ini Bapak ceritanya mau nembak Nasya bukan sih? Pakai peluk peluk, terus ngomong nya agak aneh, jangan bikin Nasya baper Pak, jangan mainin Nasya!” kata Nasya seraya berusaha menepis wajah Adnan yang bersandar di bahu nya.


“Kamu mau ku tembak?” tanya Adnan dengan senyum menyeringai.


“Mati dong di tembak,” celetuk Nasya seraya menahan senyum nya.


“Kan kamu yang mau,” ucap Adnan ikut tersenyum, “Kamu mau di tembak seperti apa?”


“Dihh, apaan sih Pak. Enggak ya, Nasya cuma, itu emmtt. Cuma—“


“Nasya, kalau saya bilang, saya menyukai kamu. Dan ingin membuat kamu selalu ada di samping ku, menemani ku hingga tua bersama, apa kamu mau?” tanya Adnan tiba tiba, dan ia langsung memutar tubuh Nasya hingga kini keduanya berdiri saling berhadapan.


“Kamu begitu sayang dengan anak anak. Begitupun sebaliknya, terlebih Ryan, dia sangat menyukai mu. Tak hanya anak anak, tapi saya juga. Entah sejak kapan, saya sendiri juga tidak tahu, tapi kini saya hanya ingin kamu menjadi milik ku, Saya. Bagaimana?” imbuh Adnan, seraya menggenggam jemari tangan Nasya dengan mata yang saling menatap satu sama lain.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2