Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Move on


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Dua hari sudah Nasya menginap di kosan Aqila, dan kini dirinya sudah mendapatkan pekerjaan baru. Dan rencana ya, Nasya akan mencari tempat tinggal yang letak nya tak begitu jauh dari tempat kerja nya. Sebenarnya, Nasya ingin mengekos di tempat Aqila dan Riska, hanya saja tempat itu sudah penuh. Sementara peraturan di sana, tidak boleh lebih dari satu orang di setiap kamar nya. Kalau hanya menginap beberapa hari di perbolehkan, namun bila untuk menetap lama berbulan- bulan maka di larang keras.


“Kamu yakin, gapapa Sya?” tanya Aqila sedikit berat berpisah dari Nasya.


“Astaga La, ya gak lah!” jawab Nasya terkekeh, “Kita masih berada di satu kota ya La. Dan juga, kita masih satu kampus, kamu takut banget sih,” imbuh Nasya tak habis pikir.


Kini Nasya sudah resmi di terima bekerja di sebuah restauran. Dan beruntung karena restauran itu bisa menerima Nasya yang masih kuliah. Jadi Nasya bisa bekerja tanpa harus berhenti kuliah. Untuk pegangan sementara, Nasya masih menyimpan gaji gaji nya ketika bekerja di rumah Adnan.

__ADS_1


Karena dulu, selama bekerja, nasya tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun. Untuk semua kebutuhan nya dan keinginan nya selalu di tanggung oleh Adnan. Jadilah uang gaji Nasya utuh, bahkan tak jarang Adnan juga mengirimkan uang lebih ke rekening Nasya.


Rekening, benar. Adnan lah yang membuatkan rekening untuk Nasya, agar nasya bisa menabung. Adnan memberikan banyak pengetahuan dan bantuan kepada Nasya. Namun kini semua hanya kenangan, tidak akan ada lagi yang memberikan nya perhatian apalagi kasih sayang.


“Oh ya, jangan kasih tahu siapapun dimana tempat tinggal ku yang baru, apalagi tempat kerja ku,” kata Nasya memohon kepada dua sahabat nya.


“Kamu tenang aja Sya. Kita udah sahabatan sejak kecil, jadi kamu bisa percaya sama kami. Semangat ya Sya, aku yakin kamu bisa melewati semua ini,” tutur Riska tersenyum dan menggenggam tangan Nasya.


Nasya mengambil beberapa piring, mangkuk serta gelas untuk ia gunakan makan sehari hari. Nasya belum tahu berapa gaji yang akan dia dapatkan di tempat barunya bekerja, akankah lebih besar dari tempat Adnan atau akan lebih kecil. Maka dari itu, Nasya berusaha untuk berhemat, bahkan kalau bisa dirinya akan memasak setiap hari agar bisa lebih menghemat uang.

__ADS_1


Saat Nasya hendak membayar belanjaan nya, tiba tiba matanya menyipit saat melihat ada Ryan dan Ryana yang juga sedang berada di supermarket tersebut. Padahal jarak rumah Adnan dan supermarket itu cukup jauh, namun entah mengapa anak anak itu bisa berada di sana.


Ingin sekali Nasya menghampiri, namun ia kembali melangkah mundur, saat melihat Adnan bersama dengan seorang perempuan berambut panjang dengan dress serta sepatu hak.


‘Siapa dia?’ gumma Nasya dalam hati, hingga tanpa sadar membuat dadanya kian terasa sesak.


‘Secepat itu ya Mas, secepat itu kamu—“ Nasya sudah tidak mampu meneruskan kata kata nya, ia segera membekap mulut nya sendiri agar suara isak tangis nya tidak keluar. Nasya memilih untuk menjauh dan menghindar dari Adnan dan anak anak, karena tidak mau melihat Ryana kembali marah padanya.


Nasya berjongkok di ujung rak yang agak terpencil dimana sangat jarang di lalui orang. Ia menutup wajah nya dengan dua telapak tangan dan terisak. Napas nya terlihat naik turun menahan tangis, ternyata rasanya jauh lebih sakit, dari saat dirinya melangkah pergi dari rumah Adnan. Ini adalah jatuh cinta pertama nya, dan patah hati pertama juga.

__ADS_1


“Kenapa nangis disini?” tanya seseorang hingga membuat tangis Nasya berhenti.


...~To be continue .......


__ADS_2