
...~Happy Reading~...
Siang harinya, Nasya sudah bersiap untuk kembali ke jakarta. Namun, entah mengapa dirinya merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal. Hampir semalaman Nasya tidak bisa tidur karena memikirkan Adnan serta anak anak nya.
Ini adalah jatuh cinta pertamanya, dan ini juga patah hati perdana nya. Kini Nasya membenarkan kata kata orang di luar sana. Bahwa cinta pertama memang sangat sulit untuk di lupakan. Sekuat apapun kita berusaha untuk move ono, pasti jauh di dalam lubuk hati masih mengingat nya.
Nasya menghela napas nya dengan sedikit berat, menatap kembali cincin di jemari manis nya. Lalu ia melepaskannya secara perlahan. Nasya mengurungkan niatnya untuk pergi, dia memilih pergi ke rumah Olin untuk menemui Adnan dan anak anak.
“Assalamualaikum, Olin,” sapa Nasya tersenyum ketika melihat Olin hendak masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam, Nasya. Katanya mau berangkat siang ini, ada apa?” tanya Olin, lalu mengajak Nasya untuk masuk ke dalam rumah, namun dengan cepat Nasya menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Disini saja Olin,” kata Nasya menahan tangan Olin, “Hemm saya mau ketemu—“
“Adnan?” tebak Olin seraya tersenyum, “Baru saja dia berangkat ke Jakarta sama anak anak.” Jawab Olin dengan cepat, seketika membuat senyum di wajah Nasya luntur.
“Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu Nasya pamit dulu ya Olin. Dan salam untuk anak anak kalau nanti kemari lagi,” ujar Nasya dengan sopan.
“Sya, kamu yakin mau pergi? Kamu gak mau menemui anak anak dulu? Setidaknya Ryan—“
“Nasya, kamu berhak bahagia. Dan juga, Tuah sudah mengatur perjalanan hidup seseorang. Tanpa saya pun, bila Tuhan sudah berkehendak, kamu pasti bisa lebih dari ini. Semangat ya, jangan lupakan saya,” ucap Olin tersenyum tulus.
“Saya tidak mungkin melupakan Olin. Sejak Bapak dan Ibu pergi, hanya Olin yang saya punya. Terimakasih Olin, dan saya pamit dulu. Assalamualaikum,” ujar Nasya lalu ia segera mencium punggung tangan Olin, berpelukan sebentar hingga akhirnya dia benar pulang ke rumah nya.
__ADS_1
Sebenarnya, kepulangan Nasya ke kampung kali ini, tak lain adalah untuk mengambil beberapa berkas dan keperluan yang akan dia butuhkan ketika ke luar negri. Nasya akan mengikuti pertukaran mahasiswa ke Korea untuk dua smeester. Itulah sebab nya, semalam ia ingin mengajak anak anak tidur dengan nya, tapi ternyata Ryana tidak mau. Ryan setuju dan mau ikut dengan nya, namun ternyata sang pemilik datang untuk menjemput. Padahal Nasya belum sempat pamit kepada Ryan.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Kini Nasya sudah sampai kembali di kosan nya yang di Jakarta. Besok, dirinya akan cukup sibuk karena harus mengurus beberapa berkas lagi, tak hanya itu Nasya juga harus mengurus pengunduran dirinya di tempat kerja.
“Sya, jadi kapan kamu berangkat nya?” tanya Riska membuka suara. Kini ketiga gadis itu sedang berada di dalam kosan Nasya.
“Minggu depan,” jawab Nasya yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci wajah.
“Huaaa kita pasti bakal kangen banget nih,” rengek Aqila tiba tiba dan langsung memeluk nasya dari belakang. Tak hanya Aqila, namun Riska pun juga ikut memeluk Nasya hingga membuat gadis itu terkekeh serta merasa sesak karena di peluk oleh dua orang sekaligus.
“Kita bisa Video Call La, jangan lebay deh. Biasanya juga kalian berdua asik pacaran, aku di lupain kok,” cetus Nasya pura pura merajuk, membuat kedua sahabatnya langsung melepaskan pelukan itu dan menyengir polos.
__ADS_1
...~To be continue ......