
...~Happy Reading~...
Niat hati ingin pulang lebih awal, atau sore seperti yang sudah di janjikan pagi tadi. Namun, pada kenyataan nya, pekerjaan nya begitu menumpuk hingga membuat Adnan tidak bisa pulang lebih dulu. Jangan kan untuk pulang cepat, hanya sekedar makan saja, sejak tadi siang ia tidak sempat.
Dan kini, waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam, pekerjaan nya baru selesai. Adnan meregangkan otot otot nya keatas, sambil melihat ke arah ponsel. Berharap bahwa Nasya menghubungi nya atau sekedar mengirimkan pesan chat. Namun ternyata tidak, tidak ada sama sekali.
Huufftt
“Sabar,” gumam nya dalam hati merutuki nasib nya sendiri.
“Yoga, kamu mau pulang kemana?” tanya Adnan ketika hendak keluar ruangan bersama Yoga.
Beginilah nasib Yoga, bila Adnan lembur maka dia akan senantiasa menemani. Namun, bila dirinya yang lembur, jangan harap Adnan akan menemani nya, yang ada atasan nya itu akan memberikan nya tambahan pekerjaan.
“Ke apartemen aja Bang. Aku capek,” keluh Yoga sambil menggerakkan kepala nya ke kanan dan ke kiri karena pundak nya terasa begitu pegal.
Adnan hanya menganggukkan kepala nya, “ Ya udah kalau begitu, kamu bawa mobil kantor aja. Biar aku pulang sendiri,” kata Adnan.
“Yakin Bang? Emang gapapa?” tanya Yoga sedikit kurang yakin.
__ADS_1
“Gapapa, besok juga Nasya berangkat pagi, jadi sekalian. Kamu bisa langsung ke kantor, besok.” Ucap Adnan seketika membuat Yoga mendengus.
Ia pikir, Adnan akan pulang sendiri karena kasihan padanya. Namun, ternyata dugaan nya salah, Adnan menyuruh nya pulang sendiri, karena agar besok Adnan bisa berduaan dengan Nasya.
Setelah mengendarai mobil beberapa saat, kini Adnan sudah sampai di rumah. Keadaan rumah sudah sangat sepi, mengingat kini jam sudah hampir tengah malam. Nasya pun juga pasti juga sudah tertidur pikir Adnan.
Adnan pun berniat untuk langsung masuk ke dalam kamar dan istirahat. Namun, ketika dirinya membuka pintu, langkah nya seketika terhenti ketika melihat Nasya yang ternyata sedang tertidur di atas sofa ruang tamu. Dengan keadaan meringkuk dan ber bantal tangan nya sendiri.
Rasa lelah dan lesu nya kini mendadak hilang dan tergantikan dengan sebuah senyum yang mengembang di wajah nya.
“Nasya ... “ panggil Adnan yang sudah berjongkok tepat di depan wajah Nasya.
Euugghh
Nasya menggeliat ketika merasakan ada seseorang yang menyentuh wajah nya. Ia menguap dan langsung membuka mata nya, “Mas ... “ gumam nya dengan suara yang begitu serak khas bangun tidur.
“Kenapa tidur disini hem?” tanya Adnan lembut.
“Hoaaamm, nungguin kamu,” jawab Nasya masih sesekali menguap dan memejamkan mata karena masih sangat mengantuk.
__ADS_1
“Kenapa gak tidur di kamar?” tanya Adnan lagi, dan kini hanya mendapatkan gelengan kepala dari Nasya.
“Kangen ya sama aku?” tanya Adnan dengan tersenyum, hingga membuat Nasya seketika langsung memanyunkan bibir nya dengan kesal. Bukan kesal, namun lebih ke arah malu, karena kini wajah nya sudah merah merona.
“Kamu tahu gak, seharian aku kerja capek banget,” ucap Adnan, kini dia meletakkan dagu nya untuk bertumpu di sisi sofa tempat Nasya tertidur, hingga kini posisi wajah keduanya begitu dekat.
“Aku juga capek banget,” balas Nasya yang juga mengeluh.
“Tapi sekarang udah ilang capeknya,” kata Adnan masih menatap wajah Nasya.
“Nasya juga,” balas Nasya kembali.
“Kamu tahu gak kenapa?” tanya Adnan mengulum senyum nya.
“Karena lihat Nasya ya?” kata Nasya terkekeh sendiri.
“Kenapa bisa berpikir begitu?” tanya Adnan sangat gemas dengan Nasya.
“Ya karena Nasya juga begitu,” jawab Nasya langsung menutup wajah nya dengan telapak tangan.
__ADS_1
“Hahahaha ... “ Adnan langsung tergelak, karena awalnya dia yang ingin menggombal, namun ternyata Nasya malah lebih dulu menggombal untuk nya.