Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Salah paham II


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Kenapa kamu disini?” kata Adnan malah balik bertanya dengan menatap tajam pada Yoga.


“A- aku, itu Bang. Hemm, aku tadi mau nganter berkas yang tadi sore itu. Ta—tapi .... “ Nampak Yoga begitu gelisah dan gugup untuk menjelaskan kepada Adnan. Sangat tidak mungkin, dirinya menguping adegan syurr antara Adnan dan Nasya, bukan?


“Ckc kamu begitu lama! Tunggu aku di ruang kerja,” kata Adnan, lalu ia melanjutkan langkah untuk menuntun nasya ke kamar mandi, “Oh iya mbok. Tolong gantiin sprei nya Nasya ya. Dia lagi sakit,” imbuh Adnan membuat mbok Yem langsung menganggukkan kepala nya.


“Mbok, jangan di bawa ke tempat kotor ya. Nanti di cuci lagi sama si embak. Biarkan saja di kamar Nasya, biar besok Nasya cuci sendiri,” sambung Nasya lalu ia berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Sementara itu, Yoga, dan yang lain nya hanya mampu menatap bingung kepada Adnan dan Nasya. Bagaimana pikiran mereka tidak berkelana, bila melihat adanya noda merah di kemeja Adnan, serta cara berjalan Nasya yang seperti itu? Tak ingin di marahin, akhirnya simbok segera masuk ke dalam kamar Nasya untuk menggantikan sprei nya.


Tak hanya simbok, namun Yoga juga ikut masuk karena penasaran.

__ADS_1


“Woahhh!” pekik Yoga begitu terkejut, ketika melihat tempat tidur Nasya yang cukup berantakan dengan adanya noda bekas darah juga di sana, “Mbok, sepertinya bang Adnan sudah menemukan gawang yang cocok!” gumam Yoga begitu pelan.


“Hussh, jangan begitu. Sudahlah kamu pergi sana, bukankah tadi kamu di suruh tunggu di ruang kerja. Sana pergi,” usir simbok yang langsung menggantikan sprei milik Nasya dengan yang baru.


Yoga pun segera pergi dan menuju ruang kerja milik Adnan. Namun sejak tadi pikiran nya sudah berkelana begitu jauh, membayangkan apa yang di lakukan oleh Adnan dan Nasya di dalam kamar hingga membuat nya merasa pusing sendiri.


Cklek!’


“Sorry lama, tadi mandi dulu. Jadi, gimana?” tanya Adnan yang baru saja mendudukkan diri di kursi,sambil membuka berkas di depan nya satu per satu.


“Bang, abang serius sama Nasya?” tanya Yoga dengan tiba tiba, membuat Adnan langsung mengehentikan aktifitas nya, “Ma—maksud aku. Abang sudah itu ... ”


“Sudah apa? Kenapa sih?” tanya Adnan yang semakin merasa bingung, “Oh ya tadi kalian semua ngapain di depan kamar Nasya?” imbuh Adnan, dan kini menatap penuh selidik.

__ADS_1


“Hehehe, gak sengaja Bang. Tadi, simbok mau ke kamar mandi, terus denger suara aneh,” kata Yoga dengan menyengir kuda, “Nah, aku yang lagi di dapur mau ambil minum ikut penasaran. Ya sudah akhirnya kami—hehhee ... “


“Suara apaan?” tanya Adnan lagi yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Yoga.


“Suara dimana Nasya, si gadis polos nan lugu merintih kesakitan. Sementara sang lelaki mengaduh kesempitan.” Celetuk Yoga dengan penuh drama, hingga membuat Adnan seketika langsung membulatkan matanya dengan sempurna dan menatap Yoga dengan begitu tajam.


“Emang se sempit itu ya Bang?” tanya Yoga dengan setengah berbisik, “Tapi wajar sih, Nasya masih perawan,” imbuh nya seperti orang berfikir.


Brugg!


“Bang!” pekik Yoga mengaduh kesakitan, setelah sebuah buku yang cukup besar dan tebal berhasil mendarat dengan sempurna di kepala nya.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2