Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Kedatangan Olin


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Seperti yang di katakan Olin tempo hari, kini dia datang lagi ke Jakarta untuk menjenguk cucu dan menantu nya. Tidak seperti biasanya, kini wanita yang sudah cukup berumur itu, datang hanya membawa sebuah tas kecil saja. Padahal, biasanya ia akan membawa begitu banyak oleh- oleh untuk Adnan dan juga si kembar. Tapi tidak dengan kali ini, karena Adnan sendiri yang menolak, akhirnya Olin hanya datang dengan tidak membawa apa apa.


“Olinn!” seru Nasya ketika melihat Olin turun dari mobil. Bukan Ryan atau Ryana yang pertama kali memeluk wanita itu, melainkan malah Nasya yang langsung berlari dan memeluk Olin.


Sementara itu, Ryan dan Ryana serta Adnan hanya menatap dari kejauhan, yakni di teras rumah.


“Bagaimana Nasya, apa kamu betah disini?” tanya Olin ketika sudah melepaskan pelukan nya.


“Betah Olin. Anak anak juga udah gak rese kaya dulu hiihihi. Nasya sudah bisa membagi waktu untuk bekerja dan kuliah,” jawab Nasya begitu senang karena akhirnya setelah beberapa bulan, dirinya kembali bertemu dengan Olin.


Wanita tua yang sudah ia anggap sebagai nenek nya sendiri. Serta, orang yang sering membantu nya di saat kesusahan.

__ADS_1


“Olin, cucu nya ada disini! Kenapa malah kak Nasya yang di peluk duluan!” seru Ryana yang mulai kambuh penyakit cemburu nya.


“Kalau kamu mau di peluk juga, ya udah sana lari kaya kak Nasya. Kenapa malah diem aja disini. Kamu gak kasihan sama Olin udah tua!” saut Ryan berdecak kesal.


Dengan menghentakkan kaki nya kesal, Ryana pun segera berlari menghampiri Olin dan juga Nasya. Ia langsung memisahkan antara Nasya dan juga Olin hingga membuat dua orang tersebut terkekeh dan menggelengkan kepala nya.


“Ini itu Olin nya Ryana, kenapa kakak ambil!” seru Ryana kesal dan langsung menepis tangan Nasya.


“Ah benarkah? Kakak kira, Ryana sudah tidak mau jadi, kakak ambil lah,” kata Nasya dengan santai dan menggoda Ryana.


“Olin jangan pukul pukul kak Nasya!” seru Ryan dari kejauhan dan langsung berlari menghampiri Nasya.


“Ini lagi, kamu gak mau peluk Olin, kenapa malah begitu? Memang nya gak kangen sama Olin?” tanya Olin tak percaya. Bagaimana bisa, Ryan datang bukan karena ingin memeluk nya seperti Ryana, melainkan malah ingin memarahi nya karena dirinya sudah memukul Nasya.

__ADS_1


“Kalau Olin mau peluk Ryan, ya sudah sini peluk, sebentar saja!” kata Ryan melepaskan pelukan dari Nasya dan memeluk Olin sekilas.


Meskipun kesal dan menggerutu, namun Ryan tetap memeluk nenek nya dengan begitu erat. Sementara Ryana, ia juga masih begitu lengket dengan sang nenek.


“Ini mau sampai kapan di luar begini? Gak ada yang mau masuk?” tanya Adnan yang kini ikut menghampiri dan berdiri di samping Nasya.


“Baiklah, ayo kita masuk,” ajak Olin dan langsung menggandeng kedua cucu nya.


Nasya dan Adnan pun ikut mengekor dari belakang, namun tiba tiba langkah kaki Nasya terhenti ketika merasakan ada sesuatu yang aneh.


Sementara itu, Adnan yang melihat Nasya berhenti, ikut menghentikan langkah nya dan menatap pada Nasya, “Kamu kenapa Sya?” tanya Adnan seraya mengerutkan dahi nya.


“Bukan saya yang kenapa, ini bapak yang kenapa?” kata Nasya malah balik bertanya hingga membuat Adnan semakin merasa bingung.

__ADS_1


Nasya pun menghela napas nya dengan cukup kasar, lalu ia mengangkat tangan nya sedikit ke atas, “Ini bapak kenapa megang tangan saya? Memang nya kita mau nyebrang? Nasya juga bukan anak kecil yang harus di gandeng terus Pak,” kata nasya seketika itu juga membuat Adnan tersadar dan langsung melepaskan tangan nya dari Nasya.


...~To be continue .......


__ADS_2