
...~Happy Reading~...
“Daddy!” pekik seorang gadis kecil yang langsung berlari menghampiri mobil sang ayah yang baru saja terparkir di halaman rumah sang nenek.
“Aduhh! Putri Daddy sudah berat sekarang!” kata Adnan yang langsung turun dan menggendong putri nya.
“Ihh, enggak kok. Ryana gak berat, iya kan Olin?” tanya gadis itu dan langsung menoleh melihat ke arah sang nenek yang sedang berdiri di teras rumah.
“Enggak berat, Cuma sedikit berisi,” celetuk sang nenek terkekeh.
“Oliiinnn!” pekik Ryana merengek manja, yang membuat semua ikut terkekeh gemas melihatnya.
“Dimana Ryan?” tanya Adnan ketika tidak melihat keberadaan sang putra.
__ADS_1
“Ryan lagi pergi sebentar. Ayo, kalian masuk saja dulu, istirahat.” Kata Olin langsung mengajak menantu nya untuk masuk ke dalam rumah.
“Dady, Ryan pergi sama kak Nasya,” bisik Ryana seketika membuat langkah kaki Adnan langsung terhenti, “Dari tadi pagi, Ryana gak punya temen. Ryan ninggalin Ryana,” adu nya dengan wajah yang begitu sendu.
“Kenapa kamu gak ikut Ryan saja?” tanya Yoga ikut menimpali percakapan Adnan dan Ryana.
Ryana tidak menjawab, ia hanya menatap Yoga dengan tatapan kesal dan marah. Lalu dengan cepat, ia meminta untuk turun dari gendongan sang ayah, dan langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
“Lah, ngambek!” celetuk Yoga seraya mengangkat kedua bahu nya menatap Adnan.
Saat Adnan hendak menghampiri putri nya di dalam kamar. Tiba tiba ia menghentikan langkah nya, ia mengerutkan dahi ketiak baru tersadar bahwa di kampung itu ada Nasya. Apakah gadis itu sudah tidak berada di jakarta? Batin Adnan bertanya tanya dalam hati.
“Bang, gak mau ke rumah Nasya juga?” tanya Yoga seraya tersenyum menggoda, namun Adnan tak menanggapi nya sama sekali dan malah masuk ke dalam kamar Ryana.
__ADS_1
“Ckckc, anak sama bapak sama saja.” Celetuk Yoga, lalu ia segera mencari keberadaan Olin untuk menanyakan dimana rumah Nasya. Sudah cukup lama dirinya tidak bertemu dan mengobrol dengan Nasya. Terakhir, ia hanya melihat dari kejauhan tanpa berani sempat untuk menemui secara langsung. Dan kini, selagi gadis itu berada di kampung, mungkin ini saatnya Yoga menemui dan menanyakan sesuatu kepada Nasya.
“Eh mau kemana?” tanya Adnan ketika melihat Yoga hendak keluar rumah.
“Mau ngapel cewek lah. Kenapa Bang? Mau ikut?” jawab Yoga tersenyum lebar guna menggoda Adnan.
“Ckckck, cewek mana yang mau kamu apelin!” kata Adnan berdecak.
“Siapa lagi kalau bukan Nasya,” jawab Yoga dengan santai, seketika membuat Adnan langsung menatap nya tajam.
“Mau ikut gak? Kalau ikut, ayo.” Ajak Yoga sekali lagi, namun Adnan enggan untuk menjawab. Adnan memilih untuk masuk ke dalam kamar nya, karena ternyata Ryana sudah tertidur.
Adnan berencana untuk mandi dan membersihkan diri, karena sejak kedatangan nya tadi, dirinya belum sempat mandi. Adnan menghela napas nya dengan berat, ketika melihat sebuah bingkai foto yang masih terpajang di dalam kamar nya. Foto dimana dirinya dan Riri yang baru saja melangsungkan pernikahan. Dan di sebelahnya terdapat foto mereka bersama si kembar yang saat itu masih bayi, foto yang di ambil beberapa hari sebelum kecelakaan.
__ADS_1
‘Ri, menurut kamu, apa yang harus ku lakukan?’ gumam Adnan menatap foto alm. Istrinya yang tengah tersenyum bahagia di hari pernikahan nya.
...~To be continue .......