Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Sahabat


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Nasya pun langsung memecahkan tangis nya ketika sudah berada di dalam kosan Aqila dan Riska. Ia sudah menceritakan semuanya kepada para sahabat nya. Dan sudah hampir dua jam lamanya Nasya menangis di pelukan Riska. Mata yang semula sudah sembab, kini terlihat semakin sembab, bahkan ia merasa begitu sulit untuk melihat.


“Sudahlah Sya, sabar ya. Mungkin kamu dan pak Adnan memang tidak berjodoh, atau seperti yang kamu bilang ke pak Adnan, kalau saat ini Tuhan lagi menguji kisah cinta kalian. Mungkin dengan ini, kamu bisa mendewasakan diri dan memantaskan diri sebelum akhirnya kalian bener bener bersatu.” Ungkap Aqila mencoba menenangkan Nasya.


“Hiks hiks hiks, Iya La. A—aku juga udah sabar. A—aku hiks hiks aku uda coba sabar dan tegar, tapi hiks hiks tapi disini sakit banget La, hiks hiks hiks.” Gumam Nasya terisak sambil memukul dada nya sendiri yang terasa begitu sesak.


“Jadi sekarang planning kamu gimana?” tanya Riska ikut membuka suara.


“A—aku gak tau hiks hiks. Aku ingin mencari kerja di tempat lain, sekarang sudah ada kalian disini, jadi aku gak takut lagi.” Kata Nasya dan kembali memeluk dua sahabat nya.

__ADS_1


“Kamu tenang saja Sya, kita akan selalu ngedukung kamu kok. Kalau kamu butuh sesuatu kapan pun itu kamu bisa menghubungi kami,” ujar Aqila tersenyum.


“Nah bener banget. Nanti, kalau kamu mau kita juga bantu kamu mencari kerja.” Sambung Riska.


“Terimakasih,” gumam Nasya yang semakin mengeratkan pelukan nya.


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Adnan sejak tadi terlihat begitu lesu, tidak memiliki semangat sama sekali untuk melanjutkan pekerjaan nya. Baru satu hari dirinya di tinggalkan oleh Nasya, namun ia sudah merasa sangat kacau.


“Bang,” panggil Yoga ketika masuk ke dalam ruangan Adnan, “Ini berkas yang ini belum di tanda tangani. Sama pembahasan poin yang ini, abang yakin setuju? Sepertinya ini—“


Ucapan Yoga terhenti ketika ia melihat bahwa sejak tadi Adnan hanya diam melamun dan tak mendengarkan ucapan nya sama sekali. Yoga pun menghela napasnya dengan cukup kasar, ia melihat ke arah jam dimana sudah menunjuk lima sore, dan Adnan seharian belum keluar dari ruangan nya. Adnan belum makan sama sekali, bahkan pekerjaan nya pun tidak ada yang benar.

__ADS_1


“Bang, mending abang pulang aja deh. Daripada disini Cuma buat melamun!” kata Yoga berdecak, membuat Adnan seketika langsung menatap datar pada Yoga.


“Ini kantor ku Ga, kenapa malah mengusir ku!” ucap Adnan tak suka.


“Gak ada yang bilang kalau ini kantor Yoga, Bang. Cuma, kalau abang kaya gini, mendingan abang pulang, istirahat. Tenangkan pikiran abang, kalau abang di kantor begini, yang ada kepala abang akan semakin pusing. Bukan kepala abang aja yang pusing mikirin masalah pribadi, tapi karyawan sini terkhusus nya aku, juga ikut pusing mikir kerjaan yang makin kacau,” omel Yoga panjang lebar.


Sejarah bagi Adnan di omelin oleh bawahan nya sendiri, ia langsung berdecak dan cemberut kesal. Namun Adnan juga membenarkan perkataan Yoga. Dirinya butuh istirahat, semalaman tidak tidur, seharian tidak makan. Komplit bukan, dan ini semua karena siapa? Batin Adnan menghela napas kasar.


...~To be continue ......


...“Hayooo menurut kalian ini gara gara siapa? Nasya apa Ryana?...

__ADS_1


__ADS_2