
...~Happy Reading~...
“Ya—ya sudah.” Jawab Nasya tergugu.
“Ya sudah apa?” tanya Adnan langsung mengerutkan dahi nya.
“Ya udah iya,” jawab Nasya menunduk malu.
“Iya apa? Jelaskan,” kata Adnan berpura pura tidak mengerti.
“Iihh bapak kenapa harus gak ngerti sih!” pekik Nasya dengan kesal, dan langsung memukul mukul bahu Adnan hingga membuat laki laki itu langsung tertawa melihat wajah Nasya yang memerah karena malu dan juga kesal.
“Terimakasih,” jawab Adnan yang langsung mengangkat tubuh Nasya dan menggendong nya.
“Bapak!” pekik Nasya terkejut saat Adnan menggendong nya ke atas, seketika ia langsung mengalungkan tangan nya di leher Adnan.
“Bisa gak, kalau mulai sekarang jangan manggil saya begitu? Saya merasa seperti punya tiga anak,” kata Adnan sedikit menghela nafas nya berat.
“Kan emang Nasya masih anak anak,” jawab Nasya terkekeh sendiri.
__ADS_1
“Kamu memang masih anak anak, tapi kamu sudah bisa membuat anak,” bisik Adnan seketika membuat mata nasya langsung membulat dengan sempurna.
“Mas Adnannnnn!” teriak Nasya dan langsung memukul mukul bahu Adnan, hingga membuat sang empu nya semakin tergelak begitu puas.
“Coba dong, saya mau mendengar nya sekali lagi,” kata Adnan kini ia menurunkan Nasya namun masih memeluk pinggang gadis tersebut.
“Coba apaan?” tanya Nasya yang kini berpura pura tidak mengerti.
“Tadi, kamu manggil saya apa? Coba sekali lagi,” kata Adnan sedikit berdecak.
“Coba apaan sih? Coba buat anak? Hah!” celetuk Nasya, yang tiba tiba. Namun dirinya juga yang terkejut sendiri dan langsung menutup mulut nya dengan telapak tangan.
“Masss!” pekik Nasya saat Adnan hendak mengajak nya pergi.
“Apa?” tanya Adnan dengan senyum miring di wajah nya, “Kan kamu yang ngajak, ya sudah ayo.”
“Ihhh nyebelinnn!” seru Nasya dan langsung memukul mukul dada bidang Adnan dengan begitu kesal.
“Tapi suka kan?” tanya Adnan lagi dengan senyuman di wajah nya, yang membuat jantung Nasya semakin berdetak tak karuan.
__ADS_1
“Tau ah, sana pergi!” usir Nasya langsung memunggungi Adnan kembali, dan kini dirinya menghadap ke arah mesin cuci, karena gara gara Adnan pekerjaan nya terbengkalai.
“Kenapa kamu mengusir ku? Ini rumah ku loh,” kata Adnan dan kembali memeluk Nasya dari belakang.
“Sana kerja!!” usir Nasya terus berusaha melepaskan diri, namun begitu sulit karena tenaga nya kalah besar dari tenaga Adnan, “Kalau kamu gak kerja, nanti gak bisa bayar gaji ku. Aku gak mau ya, gaji nya di potong!” ucap Nasya yang kini sudah mulai menyebut aku kamu.
Adnan hanya terkekeh mendengar celotehan kesal seorang Nasya, “Tanpa aku berangkat kerja, aku bisa membayar gaji mu berkali kali lipat, Sayang.” Goda Adnan tiba tiba memanggil nya sayang.
“Mas, jangan aneh aneh deh. “ celetuk Nasya bergidik sendiri ketika di panggil sayang, karena belum terbiasa. Nasya masih merasa sedikit risi, walau sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa bahagia karena merasa benar benar di cintai oleh laki laki tersebut. Tapi Nasya juga takut bila nanti Adnan keceplosan dan terdengar oleh Olin.
Karena setahu Nasya, Olin adalah ibu mertua Adnan. Yang berarti ibu dari ibu nya anak anak. Dan sejujurnya Nasya merasa tak enak hati juga takut kepada Olin bila tau tentang hubungan nya dengan Adnan.
“Gak akan aneh, dan biasakan mulai sekarang,” bisik Adnan di telinga Nasya.
“Tapi Nasya takut kalau ada Olin—“
“Saya kenapa Sya?” tanya seseorang yang datang dengan tiba tiba, seketika membuat kedua sejoli itu langsung memisahkan diri.
“Olin!” pekik Nasya terkejut dan takut.
__ADS_1
...~To be continue .......