
...~Happy Reading~...
Hari demi hari berganti dengan minggu. Kini hubungan Nasya dan Ryana benar benar sangat renggang. Bahkan gadis kecil itu begitu enggan untuk berbicara banyak pada Nasya.
Malam ini, saat akan menjelang anak anak tidur, Nasya memaksa masuk ke dalam kamar Ryana dan mencoba untuk mengajak nya berbicara dari hati ke hati.
“Kak Nasya mau apa? Ryana mau tidur!”
Nasya tidak marah, dia malah berjongkok di depan Ryana. Menyamakan tinggi badan nya agar sama, “Ryana kenapa?” tanya nya dengan lembut.
Ryana tidak menjawab pertanyaan Nasya. Ia malah memalingkan wajah ke samping agar tidak melihat ke arah Nasya.
“Apakah kakak ada melakukan kesalahan sama Ryana? Hem, coba bilang sama kakak.” Kata Nasya lagi masih dengan suara yang begitu lembut. “Kalau kakak ada salah, kakak minta maaf ya. Sekarang, Ryana bilang sama kakak, apa yang buat Ryana begini sama kakak. Kak Nasya gak mau lihat Ryana terus begini sama kakak.”
__ADS_1
Cukup lama Nasya berbicara dengan lembut kepada Ryana, namun ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari gadis kecil itu. Hingga tiba tiba Ryana mengeluarkan suara ultimatum nya.
“Kakak gak boleh menikah sama Daddy!” seru Ryana tiba tiba hingga membuat Nasya langsung terdiam.
“S—siapa yang bilang kalau Kakak mau menikah sama Dady kamu?” tanya Nasya pelan dan berusaha untuk tidak terkejut.
“Kak Nasya itu cuma pembantu Ryan dan Ryana. Ryana gak mau punya mama pembantu! Ryana gak mau!” seru Ryana lagi seketika membuat jantung Nasya seperti tertusuk ribuan jarum, yang begitu menyakitkan.
Nasya berusaha untuk menarik napas nya sedalam mungkin, ia tersenyum menatap Ryana, “Memang nya, siapa yang bilang kalau kakak dan Daddy kamu akan menikah hem?” tanya nya berusaha menahan rasa sakit di hati.
“Ryana memang ingin punya Mommy, tapi Ryana ga mau sama kak Nasya. Kak Nasya gak pantes jadi Mommy nya Ryana!”
Brakkk!
__ADS_1
“Ryana!” bentak Adnan yang sejak tadi diam di balik pintu kamar dan mendengar pembicaraan Ryana dan Nasya. Pada akhirnya ia geram pada putri nya sendiri, dan tidak kuat mendengar putri nya terus menghina Nasya.
Sungguh, Adnan sangat terkejut, mengapa Ryana yang masih berusia sekecil itu bisa mengeluarkan kata kata yang sangat menyakitkan. Padahal Adnan maupun Olin apalagi Nasya tidak pernah mengajarkan kata kata seperti itu kepada Ryana.
“Tuh kan, kak Nasya jahat! Kak Nasya buat Ryana di marahin sama Daddy. Ryana benci sama kak Nasya, keluarr!” pekik Ryana yang mulai menangis dan terus mendorong tubuh Nasya.
“Ryana dengerin kakak dulu,” kata Nasya berusaha untuk menenangkan Ryana, “Mas lebih baik kamu keluar!” usir Nasya memberikan kode kepada Adnan agar keluar dari kamar Ryana.
“Ryana, jawab Daddy. Kenapa kamu bisa bicara seperti itu, apakah Daddy dan Olin selama ini mengajari mu untuk bicara sekasar itu?” tanya Adnan langsung menatap tajam pada putri nya dan mengabaikan permintaan Nasya.
“Ryana jawab Daddy!” sentak Adnan lagi hingga membuat Ryana semakin terisak dan meremas ujung baju nya.
“Mas!” seru Nasya menggelengkan kepala nya menatap Adnan.
__ADS_1
“Kak Nasya jahat hiks hiks hiks, kak Nasya jahat,” gumam Ryana menggigit bibir bawah nya dan menundukkan kepala ke bawah.
...~To be continue .......