
...~Happy Reading~...
“Jawab Sya,” ucap Adnan terus mendesak, ketika melihat Nasya yang hanya diam dan menundukkan kepala nya.
“Apa karena saya seorang duda, dengan dua anak. Makanya kamu tidak mau?” tebak Adnan mengira bahwa Nasya menolak nya.
Sementara Nasya yang mendengar Adnan mengatakan perihal status, langsung mendongak dan menatap wajah Adnan dengan begitu intens.
“Bukan masalah itu Pak. Tapi saya cuma pengasuh loh, saya cuma seorang pengasuh anak anak, kayaknya gak pantes banget kalau Nasya menerima perasaan Bapak,” kata Nasya begitu sendu.
“Memang nya kenapa? Apa yang salah dari status pengasuh kamu Saya tidak memperdulikan nya, selagi anak anak nyaman dengan kamu. Lantas, dimana salah nya?” tanya Adnan dengan nada tak suka.
“Apa bapak gak malu, masa seorang bos perusahaan besar menjalin hubungan dengan pembantu,” celetuk Nasya seraya menggigit bibir bawahnya dengan wajah menunjuk.
Adnan pun langsung menghela napas nya panjang, ia menyentuh dagu Nasya dengan begitu lembut, lalu ia naikkan ke atas agar kembali menatap ke arah nya, “Lihat aku.”
Nasya mendongak, dengan wajah sendu nya. Bibir yang sedikit manyun dengan mata yang begitu sayu, yang entah mengapa malah membuat Adnan semakin merasa gemas di buat nya.
__ADS_1
“Aduuhh bapakkk! Sakitt!” pekik Nasya tiba tiba, ketika Adnan dengan jahil nya mencubit kedua pipi nya.
“Saya tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh orang lain. Ini hidup kita, yang jalanin kita, yang merasakan kita Kenapa kita harus mendengarkan suara anjingg menggonggong?” kata Adnan seketika membuat Nasya terdiam.
“Memang nya kenapa dengan seorang pengasuh, aku juga seorang duda. Bahkan anak ku sudah dua, lantas kenapa?” imbuh Adnan lagi, namun Nasya masih terdiam, “Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan? Apakah hanya aku yang menyimpan perasaan ini?”
“Menurut bapak sendiri gimana? Bahkan tadi Bapak sudah memegang nya!” cetus Nasya dengan kesal hingga membuat Adnan sedikit menyunggingkan senyum nya.
“Jadi ... “ tanya Adnan sekali lagi tak sabar menunggu jawaban Nasya, “Sya, saya bukan type laki laki puitis, ataupun romantis. Jadi kalau kamu minta kata kata mutiara, saya tidak bisa. Tapi, kalau kamu meminta perhiasan mutiara, akan saya kabulkan.”
“Saya tidak mengatakan seperti itu,” kata Adnan dan dengan tiba tiba, ia menarik pinggang Nasya dan memeluknya dengan cukup erat.
“Pak ... “
“Jawab Nasya, selain bukan laki laki puitis, romantis. Tapi aku juga type laki laki yang tidak suka menunggu!” kata Adnan, kini tangan nya sudah menjalar menyentuh rambut yang menutupi wajah Nasya.
“Nasya malu!” kata Nasya dan langsung menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Adnan tersenyum tipis melihat tingkah Nasya yang semakin menggemaskan, ia pun menyingkirkan tangan Nasya dari wajahnya.
“Lihat aku Sya,” kata Adnan lagi ketika wajah Nasya sudah terbuka, tak tertutup tangan, “Saya memang bukan laki- laki sempurna Sya. Tapi saya akan berusaha untuk menyempurnakan hidup kamu.”
“Tapi Pak ... “
“Astaga Nasya, jangan ada tapi dong. Saya sudah coba merangkai kata kata loh. Sekarang jawab YA atau TIDAK!” ucap Adnan dengan begitu tegas.
“Kok bapak malah marah? Bapak itu mau nyatain cinta atau mau malak sih!” kata Nasya yang tiba tiba langsung menjadi kesal.
“Sudah ku katakan, aku bukan type laki laki penyabar. Saya tidak suka menunggu teralu lama,” bisik Adnan tepat di telinga Nasya.
“Y—ya sudah!” kata Nasya segera memalingkan wajah nya.
“Ya sudah apa?” tanya Adnan mengerutkan dahi menatap Nasya dengan begitu intens. Karena jawaban yang di berikan oleh Nasya, terdengar begitu ambigu untuk nya.
...~To be continue .......
__ADS_1