Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Pilihan Sulit


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Waktu sudah menunjuk pada angka tiga dini hari. Namun, Adnan masih setia menunggu di depan kamar Nasya. Adnan terus berusaha mengetuk pintu itu, namun tidak pernah mendapatkan jawaban. Hanya saja, sesekali Adnan mendengar suara isak tangis dari dalam sana.


Sementara Ryan dan Ryana, sudah tertidur pulas berdua di kamar Ryana. Tadi Adnan juga sudah mengecek ke atas dan ia sudah merasa sedikit lega karena pada akhirnya ia bisa mengandalkan putra nya. Meskipun Ryan dan Ryana kembar, namun keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda, dan beruntung nya, Ryan begitu dewasa memberikan ketenangan pada Ryana.


“Sya, buka pintu nya, sebentar saja.” Ucap Adnan menghela napas nya berat.


Cklek!


Nasya membuka pintu kamar nya, hingga membuat Adnan langsung beranjak dari duduk dan berdiri.


“Sya,” panggil Adnan lagi dan langsung menggenggam tangan Nasya.

__ADS_1


“Pak, saya mau resign,” ucap Nasya dengan menundukkan kepala nya ke bawah, ia tidak berani menatap ke arah Adnan.


Deg!


Sementara itu, Adnan yang mendengar suara Nasya begitu formal begitu terkejut. Apakah Nasya begitu sakit hati dengan perkataan Ryana? Batin Adnan. Walaupun ia tahu, bahwa memang perkataan putri nya sangat lah kejam dan menyakitkan.


“Sya, kenapa harus—“


“Biarkan saya Resign ya Pak. Saya tidak mau membuat Ryan semakin membenci saya, dan juga maaf kalau saya terpaksa harus mengehentikan hubungan kita. Mulai sekarang—“


“Apakah kamu tidak bisa memaafkan Ryana? Sayang, dia masih kecil, kita bisa bicara baik baik sama dia. Aku yakin kita bisa membujuk nya, plis Sya. Jangan seperti ini,” pinta Adnan memohon.


“Saya tidak pernah marah kepada Ryana, Pak. Hanya saja, saya membenarkan perkataan Ryana. Saya memang tidak pantas untuk bermimpi terlalu tinggi.” Jawab Nasya dengan menahan sesak di dada nya.

__ADS_1


“Nasya .. Sayang, kita—“


“Saya mohon,” pinta Nasya benar benar memohon kepada Adnan, bahkan kini dia sampai mengatupkan dua telapak tangan nya di depan wajah.


Tatapan mata nya begitu sayu, wajah nya memerah dengan mata yang sembab akibat menangis semalaman. Adnan pun semakin tak kuasa menahan hati nya, ia di ambang dilema antara anak dan juga kekasihnya.


“Aku akan berusaha membujuk Ryana, kamu sabar dulu sebentar saja. Dia hanya butuh waktu,” kata Adnan lagi membujuk Nasya.


Nasya pun langsung menggelengkan kepala nya, “Dan tolong berikan saya waktu juga, Pak. Biarkan saya keluar dari sini, biarkan saya mandiri dan menjadi diri sendiri. Setidaknya, nanti saya sudah bukan pembantu lagi disini,” imbuh Nasya mencoba tersenyum di tengah rasa sakit nya.


“Sayang, apa tidak ada jalan lain lagi?” tanya Adnan dengan berat hati, dan Nasya langsung menggelengkan kepala nya.


“Saya yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Bapak dan anak- anak. Bila memang kita ditakdirkan bersama, pasti ini adalah cara Tuhan agar saya bisa memantaskan diri sebelum bersanding dengan Bapak. Jadi saya mohon, izinkan saya pergi,” ucap Nasya semakin tak kuasa menahan tangis nya.

__ADS_1


Adnan pun ikut meneteskan air mata, dan ia langsung memeluk Nasya dengan begitu erat. Hingga keduanya pun saling beradu tangis, tanpa mereka sadari bahwa sejak tadi ada beberapa pekerja yang mendengar obrolan nya. Mereka tidak tahu ada permasalahan apa antara Nasya dan pak Adnan, namun mereka seolah ikut merasakan sesak seperti apa yang di rasakan oleh Nasya dan pak Adnan.


...~To be continue ........


__ADS_2