Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Menghindar


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Om Yoga, Ryan kirain Daddy!” cetus Ryan ketika ikut membuka pintu dan melihat siapa tamunya yang datang.


“Pengen banget apa pengen aja kalau Daddy yang kesini, hem?” tanya Yoga sedikit menggoda, bukan menatap ke arah Ryan, melainkan ke arah Nasya.


“Jadi sekarang, Daddy dimana?” tanya Ryan sambil memanyunkan bibir nya dengan kesal.


“Ada tuh, di luar!” kata Yoga dengan santai, dan seketika itu juga Nasya langsung membulatkan matanya melihat ke arah luar.


Dan benar saja, bahwa ternyata di sana ada Adnan yang tengah berdiri di halaman dan membelakangi pintu rumah Nasya, sambil menerima telfon. Nasya bisa melihat bagaimana pria itu tengah setengah berkacak pinggang dan satu tangan nya lagi sedang menggenggam telfon, sesekali pria itu mengadahkan kepala nya ke atas, melihat pohon pohon mangga.


“Daddy!” pekik Ryan dan langsung berlari menghampiri ayah nya.

__ADS_1


“Sya, gak pengen lari juga nyamperin, hem?” tanya Yoga sedikit berbisik kepada Nasya.


“Bukankah aku sudah meminta izin sama Olin. Katanya Ryan boleh menginap disini, kenapa malah di jemput?” tanya Nasya sengaja mengubah pembicaraan dan mengabaikan ucapan Yoga.


“Ayolah Sya, masa kamu gak mau ketemu sih sama bang Adnan. Udah satu tahun loh Sya,” bujuk Yoga namun dengan cepat Nasya menggelengkan kepala nya,


“Maaf ya Ga, aku harus ke kamar mandi. Kalau memang kedatangan kalian ingin menjemput Ryan. Aku pamit masuk ke dalam dulu, salam untuk Ryan, dan katakan permintaan maaf ku, karena harus buru buru masuk. Lagipula, ini juga sudah malem, gak enak kalau di lihat tetangga.” Ucap Nasya panjang lebar lalu ia segera menutup pintunya dengan cepat tanpa mau menunggu Yoga menjawab ucapan nya terlebih dulu.


‘Hiks hiks hiks, kenapa sakit banget sih?’ gumam Nasya sambil memainkan cincin di jari manis nya, terus memutar cincin itu hingga pada akhirnya ia memilih untuk melepaskan nya.


Sementara itu, di luar rumah. Tepatnya di bawah pohon mangga di halaman rumah Nasya. Tiga orang berjenis laki laki itu tengah menatap pintu nasya dengan tatapan yang sulit di mengerti.


“Om Yoga apain kak Nasya? Kenapa dia menutup pintu? Ryan kan mau tidur disini!” kata Ryan dengan kesal menatap marah pada Yoga.

__ADS_1


“Loh, kenapa Om yang di salahin. Tuh salahin Daddy kamu!” balas Yoga tak mau di salahkan, padahal ia tahu bahwa Nasya melakukan itu karena tidka mau bertemu dengan Adnan.


“Kenapa OM malah nyalahin Daddy?” kata Ryan tak terima.


“Astaga, terus Om mau nyalahin siapa? Kamu aja nyalahin om Yoga kok.”


“Sudah sudah, ayo kita pulang. Biar kak Nasya istirahat, kamu tidur sama Daddy,” ujar Adnan dan langsung menggendong Ryan menuju rumah.


Rumah antara Olin dan Nasya sebenarnya cukup jauh. Namun karena mereka berjalan kaki, jadi mereka melewati sebuah gang, makanya jadi lebih dekat. Dan tidak sejauh bila lewat jalan besar.


“Daddy gak mau gitu menikah sama kak Nasya? Kenapa harus tante Nuna? Ryan gak mau, Dad. Kasihan Ryana, jangan menikah sama tante Nuna ya Dad,” ucap Ryan begitu lirih di gendongan Adnan, seketika membuat Adnan langsung terdiam. Begitupun dengan Yoga.


...~To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2