Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Jualan roti tawar


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Karena tidak tega, akhirnya Adnan pun segera pergi dengan menggunakan motor untuk ke minimarket dua puluh empat jam, yang letak nya berada di seberang komplek perumahan nya.


Sepanjang jalan, Adnan sedikit menggerutu dan menyesali keputusan nya yang membiarkan Yoga untuk pindah dari rumah nya. Andai saja, kini Yoga masih tinggal di rumah nya, tentu saja dirinya tidak perlu repot repot mencari roti tawar wanita malam malam seperti itu.


"Astaga, aku lupa bawa ponsel!" umpat Adnan dalam hati ketika bari sadar dirinya tidak membawa ponsel.


Kini, Adnan tengah berdiri di depan rak khusus yang berisi berbagai macam merk roti tawar dari berbagai type dan ukuran.


"Astaga, merk apa dan yang mana?" gumam nya dalam hati seraya menghela nafas nya berat.


Tidak ingin berlama lama, Adnan pun mengambil satu persatu dari berbagai merk dan ukuran yang ada. Bahkan, Adnan sampai mengambil yang model seperti pampers balita, karena saking tidak mengerti dengan apa yang biasa di gunakan oleh Nasya.


Setelah bertahun tahun, kini pada akhirnya Adnan kembali melihat dan memegang benda seperti itu lagi. Setelah yang terakhir kalinya ia melihat milik istri nya dulu ketika melahirkan si kembar.


Ketika hendak membawa belanjaan nya ke kasir, Adnan tak sengaja melewati rak yang berisi berbagai macam jenis mie instan. Ia pun kembali teringat mie yang di masak oleh Nasya. Dengan inisiatif Adnan mengambil satu persatu jenis mie yang menurut nya cukup asing dan berbeda dari mie yang biasa ia lihat. Tak hanya itu, Adnan jiga membeli beberapa minuman botol juga pereda nyeri untuk Nasya.


"Harusnya aku membawa mobil tadi, ckckck!" decak Adnan ketika melihat barang belanjaan nya terbagi menjadi empat kantung besar.

__ADS_1


Kini, dirinya bingung bagaimana cara membawa nya dengan mengendarai motor.


Sementara itu, Nasya kini masih menunggu kedatangan Adnan sambil berdiri di samping meja makan. Olin sudah kembali ke kamar nya sejak tadi.


Olin tidak berniat untuk ikut campur atau melarang Adnan dan Nasya. Karena Olin juga mengerti, bahwa Adnan adalah seorang laki-laki. Sangat tidak mungkin bila Olin harus menuntut kesetiaan dari Adnan untuk putri nya. Sementara putri nya sudah pergi meninggalkan Adnan dan anak anaknya.


Brumm...


Nasya yang mendengar suara motor, segera berlari untuk membuka pintu. Namun, ketika pintu terbuka, seketika ia di buat bengong dan speechless karena melihat dua motor yang datang dan dua orang lainnya.


"Bapak beli barang dapet bonus orang? apa gimana?" celetuk Nasya masih terkejut.


"Terimakasih Pak," ucap karyawan tersebut, lalu segera pamit pergi.


"Bapak mau jualan roti tawar sama mie? kenapa banyak banget?" tanya Nasya lagi ketika melihat begitu banyak merk pembalut serta mie instan yang di beli oleh Adnan.


"Bukankah bapak bilang, kalau gak boleh ada mie disini? terus ini kenapa banyak banget?"


"Aku gak tau, merk dan bentuk apa yang kamu gunakan! jadi gunakan yang mana terserah, sisanya terserah juga mau di apakan!" kata Adnan langsung merebahkan tubuh nya di sofa karena merasa cukup lelah.

__ADS_1


Sudah lama Adnan tidak mengendarai motor, dan kini malam malam bahkan dirinya belum mandi sepulang kerja. Sudah harus mengendarai motor mencari roti tawar.


"Pak... " panggil Nasya pelan.


"Hemm," jawab Adnan singkat tanpa menatap ke arah Nasya, karena kini matanya tertutup oleh lengan.


"Bapak dapet juga?" tanya Nasya sedikit bingung.


"Hemm, dapet keberuntungan!" sindir Adnan dengan ketus.


"Saya baru tahu, kalau ternyata laki laki juga bisa datang bulan," celetuk Nasya tiba tiba membuat Adnan langsung membuka mata dan menatap Nasya.


"I—itu bapak berdarah," gumam Nasya lirih sambil menggigit bibir bawah nya ketika matanya menunjuk ke arah bagian sensitif Adnan.


Adnan yang berasal bingung, akhirnya mengikuti arah pandangan Nasya yang menunjuk daerah selatan nya. Dan betapa terkejut nya dia, ketika melihat ternyata kemeja nya terdapat noda merah darah di sana. Tepat di depan sang pedang pusaka.


"Nasyaaaaaaaa!" teriak Adnan, yang mana membuat Nasya langsung berlari ke kamar dengan membawa satu pack pembalut.


...~To be continue.... ...

__ADS_1


__ADS_2