Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Permintaan Ryan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Di sebuah rumah petak yang begitu sederhana, seorang gadis dengan seorang anak laki- laki berusia delapan tahun, sedang asik bercerita dengan begitu serius. Ryan sedang mencurahkan segala isi hatinya kepada Nasya, tentang apa yang selama ini ia rasakan ketika tidak bertemu dengan Nasya.


“Kenapa kakak gak kembali lagi sih ke rumah?” tanya Ryan dengan suara serak menahan tangis.


“Ryan, kak Nasya kan sekarang sudah bekerja di tempat lain. Dan juga, kak Nasya sudah punya tempat tinggal sendiri, kakak gak bisa kembali ke rumah kamu.” Ujar Nasya berusaha menjelaskan dengan lembut.


“Kakak gak kasihan sama Ryan dan Ryana?” tanya Ryan langsung menatap wajah Nasya dengan begitu sayu, hingga membuat hati Nasya berdenyut nyeri kala melihat tatapan mata Ryan yang seperti menahan luka.

__ADS_1


“Ryan .... “ gumam Nasya, lalu ia segera memeluk Ryan dengan begitu erat, ia mengadahkan kepala nya ke atas, berharap air matanya tidak lolos. Dan berulang kali dirinya harus menarik napas panjang serta menggigit bibir agar isak tangis nya tidak terdengar di telinga Ryan.


“Kakak masih marah ya sama Ryana? Kakak gak mau maafin Ryana?” tanya Ryan lagi, “Kak, Ryana baik kok. Dia udah gak nakal lagi, nanti kalau dia nakal lagi, Ryan deh yang tegur dia. Nanti Ryan ajarin dia agar mau meminta maaf sama kak Nasya. Tapi kakak harus mau pulang ke rumah kami,” pinta Ryan dengan penuh permohonan.


Sungguh kini Nasya semakin tak kuasa menahan kesedihan nya, “Ryan. Kakak gak pernah marah sama Ryana. Kakak sayang sama kalian, tapi kakak juga punya kehidupan sendiri. Ada kalanya, kakak kelak juga akan menikah dan memiliki keluarga, jadi kakak gak bisa selalu bersama kalian.”


“Kenapa kak Nasya gak menikah sama Daddy saja?” tanya Ryan dengan polos.


“Daddy ganteng kok, kaya Ryan. Daddy juga baik, dan juga banyak uang nya. Nanti kak Nasya minta apa pasti di beliin sama Daddy. Jadi kak Nasya gak usah capek kerja lagi, Ryan dan Ryana juga gak akan nakal lagi. Ryan janji,” ucap Ryan lagi dan kini anak itu sudah menangis sesenggukan.

__ADS_1


Nasya langsung terdiam hingga tiba tiba matanya tak sengaja menatap pada jari manis nya, yang masih tersemat sebuah cincin yang di berikan oleh Adnan satu tahun yang lalu. Cincin yang di anggap sebagai cincin pertunangan, dan akan di gantikan dengan cincin pernikahan. Meskipun mereka sudah putus hubungan, namun Nasya masih tetap memakai cincin itu. Hampir setiap malam, Nasya masih terus memikirkan Adnan serta anak anak nya. Hingga membuat Nasya begitu sulit untuk melepaskan cincin tersebut.


Tok .. Tok ... Tok ...


Suara ketika pintu, membuat Nasya dan Ryan langsung melepaskan pelukan mereka. Keduanya saling menatap bingung. Pasalnya, tadi Nasya sudah izin kepada Olin bahwa Ryan akan menginap di sana, lantas mengapa harus di jemput? Batin Nasya.


“Olin sudah pikun,” celetuk Ryan memanyunkan bibir nya kesal, sambil menghapus air matanya. Namun setelah beberapa detik ia seolah baru tersadar akan sesuatu, “Apa jangan jangan Daddy sudah datang ke sini!” pekik nya dengan wajah yang langsung berubah menjadi bahagia.


“Daddy? Bukankah kamu bilang besok di antar sama Olin?” tanya Nasya mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


“Harusnya sih begitu, tapi mungkin saja daddy mau ketemu kak Nasya, jadinya nekat pulang ke kampung juga. Ayo kak buruan buka, ayo!” seru Ryan langsung beranjak dari tempat duduk dan menarik tangan nasya agar membuka pintu.


...~To be continue ......


__ADS_2