
...~Happy Reading~...
“Kenapa malu?” tanya Adnan terkekeh.
“Tau ah, pakai nanya lagi. Aku malu pokok nya,” kata Nasya dan semakin menenggelamkan wajah nya di leher Adnan.
Adnan hanya tersenyum, dan menggelengkan kepala nya. Setelah sekian lama, hampir enam bulan lamanya mereka berpacaran. Dan baru kali ini Adnan mendapatkan ciuman bibir dari Nasya. Bagaimana tidak, selama ini keduanya saling sibuk dengan urusan masing- masing. Adnan dengan pekerjaan nya di kantor, Nasya juga sibuk dengan kuliah serta mengurus dua anak Adnan.
Dan baru kali ini, mereka benar benar mendapatkan waktu berdua, hingga membuat Adnan begitu nekat meminta first kiss Nasya.
“Sebelumnya kamu pernah ciuman dengan siapa?” tanya Adnan kembali membuka suara.
“Harus banget ya nanya begitu?” kata nasya langsung menatap pada Adnan.
“Gak harus sih, gak penting juga. Tapi aku penasaran,” ucap Adnan tersenyum dan membelai wajah Nasya dengan lembut.
__ADS_1
“Kalau mas Adnan sendiri bagaimana?” tanya Nasya, “Aku juga penasaran.” Imbuh nya dengan menyengir.
“Entahlah,” jawab Adnan dengan santai, seketika membuat Nasya langsung mendelik tajam.
“Pasti udah banyak bibir yang mas Adnan cicipin!” cetus Nasya tiba tiba menjadi kesal.
“Masa sih?” kata Adnan berpura pura terkejut.
“Massss!” pekik Nasya dengan kesal dan langsung memukul dada bidang Adnan .
“Hahaha, iya iya maaf,” ujar Adnan dengan lembut dan lekas mencekal tangan Nasya, kini posisi keduanya masih sama, yakni dengan setengah tubuh Nasya menindih setengah badan Adnan.
“Kamu memang bukanlah yang pertama Sya. Tapi aku ingin, kamu akan menjadi yang terakhir dalam hidup ku. Nasya, nikah aja yuk.” Ajak Adnan masih dengan membelai wajah Nasya.
“Menikah?” gumam Nasya dengan pelan, ia terdiam untuk sesaat.
__ADS_1
Bukan dia tidak mau. Hanya saja, Nasya masih ragu bila harus menikah dengan Adnan. Bukan juga karena Nasya tidak mencintai atau menerima kekurangan duda dua anak tersebut. Adnan memiliki banyak kelebihan, selain dari paras yang begitu gagah, tampan serta menawan. Adnan juga orang terpandang, kaya raya tentu nya.
Tapi, Nasya masih merasa ada yang mengganjal dalam hati nya. Terlebih karena Ryana, karena hingga saat ini, anak itu masih begitu sulit untuk dia taklukkan. Nasya takut, bila dirinya terburu buru menikah dengan Adnan, maka Ryana akan membenci nya.
Pernah beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja Ryana menemukan ponsel Adnan berada di dalam kamar Nasya, dan Ryana begitu marah dan menangis karena ketakutan. Entah apa yang membuat gadis kecil itu menangis dan takut, namun Nasya berusaha untuk meyakinkan Ryana bahwa dirinya dan ayah nya memang lah tidak ada hubungan apapun.
“Mas—aku ... “
“Apa yang buat kamu bimbang Sya? Katakan, kita bisa bicara baik baik kan. Bukan hanya sekali ini aku mengajak mu untuk serius,” kata Adnan, pasalnya ini adalah ajakan yang entah ke berapa kalinya. Namun jawaban Nasya masih sama, dia bimbang.
“Beri aku waktu dulu ya Mas. Tunggu sampai aku yakin dengan sesuatu,” ucap Nasya begitu lirih.
“Apa yang membuat mu tidak yakin? Apakah karena aku seorang duda?” tanya Adnan mengerutkan dahi.
Nasya pun segera menggelengkan kepala nya dengan cepat, “Bukan. Bukan karena kamu duda Mas, tapi memang—“
__ADS_1
Sreekkk!
...~To be continue .......