
...~Happy Reading~...
“Pak, kok kita malah kesini?” tanya Nasya ketika mobil yang di tumpangi nya sudah sampai di sebuah butik yang cukup terkenal.
“Apakah kamu mau memperlihatkan penampilan mu itu kepada semua orang? Termasuk anak anak?” sindir Adnan menghela nafas nya dengan berat.
Seketika itu juga, Nasya baru sadar bahwa dirinya kini memakai jas milik Adnan yang terlihat sangat kebesaran. Karena kaos yang ia kenakan sebelumnya sudah sangat longgar dan bahkan sobek .
“Tapi Pak, gajian saya masih lama. Dan juga, baju disini mahal mahal, udah gapapa saya begini saja. Nanti di rumah saya ganti nya. Toh dalaman saya juga gak kelihatan kok ketutup sama jas Bapak. Ryan gak bakal ngeliat juga, tenang aja ya Pak. Nasya takut disini,” ucap Nasya panjang lebar, sambil matanya terus menelisik ke luar kaca.
“Takut kenapa? Ini siang Nasya. Gak ada hantu disini!” kata Adnan kembali menghela nafas nya berat.
“Kali ini bukan takut sama hantu. Tapi takut sama bandrol harga baju di dalem. Ini kan butik yang sering di datengin artis Pak, pasti mahal. Dan juga, duh enggak deh Pak, ini bukan saya banget, sayang sayang gaji saya. Bisa bisa gaji saya sebulan Cuma bisa kebeli segitiga sama kacamata doang lagi!” celetuk Nasya polos, yang tanpa sadar membuat Adnan menelan saliva nya dengan susah.
“Kamu terlalu banyak bicara, ayo turun!” kata Adnan dan langsung membuka pintu mobil untuk Nasya, ia segera mengajak Nasya untuk masuk ke dalam butik.
__ADS_1
“Haduhhh duren ku datang!” seru seorang wanita berambut panjang sepinggang dengan warna begitu terang benderang bak bendera.
“Bar, pilihin baju buat dia,” ucap Adnan segera menepis tangan wanita setengah tersebut, dengan risi.
“Iks, kamu itu manggil nya Bar, Bar Bar doang. Panggil nama panjang kenapa sih, Barbie!” celetuk nya dengan kesal.
“Bara, cukup! Buruan, aku sudah telat, sebentar lagi anak anak ku keluar dari kelas!” kata Adnan kepada Bara atau yang sering di panggil dengan sebutan Barbie, karena wanita tersebut hanya lah bagian luar saja. Namun bagian dalam nya masih pyur laki laki.
“Mulut kamu bener bener deh Nan, pengen aku ci pokk!” cetus Barbie dengan manja.
“Heyyyy nemu nemun. Memang nya kamu pikir aku barang?” cetus Barbie dengan kesal, lalu ia menatap Nasya dari ujung kepala hingga kaki.
"Maaf," cicit Nasya menunduk tak enak hati.
“Kamu manis juga ternyata ya. Persis seperti aku waktu masih gadis dulu,” puji nya tersenyum kepada Nasya.
__ADS_1
“Memang sekarang bukan gadis?” tanya Nasya dengan polos nya.
“Tidak! Karena kegadisan ku sudah di renggut oleh duren ganteng di sebelah kamu,” celetuk nya berakting sedih. Seketika ktu juga, Nasya langsung menoleh ke sebelah dan menatap wajah bos nya yang terlihat datar.
“Lanjutkan drama mu dan akan ku hancurkan butik ini!” ancam Adnan memberikan nya tatapan tajam.
Barbie hanya tersenyum lebar, sementara Nasya langsung memasang wajah datar. Bukan, mungkin lebih tepat nya, Nasya begitu syok mendengar kata kata Barbie. Benarkah majikan nya yang sudah—
Ctakk!
“Mikirin apa kamu!” seru Adnan langsung menyentil kening Nasya.
“Bapak! Sakit tahu ah!” seru Nasya langsung memanyunkan bibir kesal nya, ia mengusap kening nya yang terasa cukup sakit karena jari Adnan.
“Nasya tuh cuma bingung aja, dia beneran cewek apa bukan si? Cantik sih, tapi suaranya kaya gitu kaya piring pecah,” kata Nasya membuat Adnan mengulum senyuman, “Tapi, yang saya heran kan ya Pak, dia bilang kegadisan nya di renggut sama bapak. Nasya bingung, bagaimana caranya kalian—“ Nasya tidak melanjutkan kata kata nya, ia malah langsung menggigit bibir bawah nya karena kini pikiran nya sudah melayang entah kemana.
__ADS_1
Sementara itu, Adnan yang semula sudah tersenyum karena mendengar Nasya mengatai Bara dengan suara piring pecah, seketika langsung membulatkan mata nya ketika tahu kemana arah tujuan yang di bicarakan oleh Nasya.