
...~Happy Reading~...
Pagi harinya, Nasya masih sedikit meringis dengan dahi yang sudah di perban oleh Adnan semalam. Ia memulai aktifitas nya seperti biasa. Membuat sarapan, bekal serta membangunkan para anak asuh nya.
“Astaghfirullah! Nasya, kamu kenapa?” tanya Olin begitu terkejut saat membuka pintu kamar Ryana dan melihat dahi Nasya yang sedang di tambal perban.
“Hehehe gapapa Olin. Semalem di tabrak sama pintu,” kata Nasya seraya tersenyum lebar.
“Astaga, kamu ini ceroboh banget sih. Bagaimana ceritanya, pintu bisa jalan nabrak kamu!” cetus Olin berdecak.
“Pintu nya emang gak jalan Olin, tapi Nasya yang lari hehehe,” kata Nasya lagi dengan menyengir kuda, membuat Olin langsung menggelengkan kepala nya.
“Ryana biar sama saya. Kamu bangunin Ryan saja, dia lebih mudah kan, apalagi lihat kamu sakit gini, aduh siap siap aja kamu. Saya tidak mau membayangkan nya,” ucap Olin menggelengkan kepala nya, lalu ia segera kembali masuk ke kamar Ryana.
__ADS_1
Sementara itu, Nasya pun menganggukkan kepala nya dan langsung menuju kamar Ryan untuk membangunkan nya. Tak butuh waku lama, Ryan pun langsung bangun ketika di panggil oleh Nasya.
“Kakak kenapa?” pekik Ryan yang sama terkejut nya dengan Olin. Bahkan, anak itu langsung bangun dan loncat dari tempat tidur.
Ryan langsung menghampiri Nasya dan mengecek perban di kening nya.
“Gapapa Ryan, cuma luka sedikit kok,” kata Nasya tersenyum, “Sekarang kamu mandi. Kakak siapin baju seragam ya,” katanya lagi dan langsung di balas anggukan kepala oleh Ryan.
“Pagi Daddy, Olin,” sapa Ryan lalu ia segera duduk di dekat sang ayah, bersama Nasya. Berseberangan dengan Olin dan Ryana.
“Pagi Sayang,” balas Olin dan Adnan.
“Nasya, bagaimana kening kamu? Kalau sekiranya kamu masih pusing, ga usah kuliah dan anter. Kamu istirahat aja di rumah,” ucap Adnan di sela memakan sarapan nya.
__ADS_1
“Gapapa kok Pak, nanti saya juga kelas nya siang.” Jawab Nasya tersenyum kikuk.
“Ya sudah, kamu tidak perlu ikut mengantarkan anak anak, kamu istirahat dulu di rumah!” kata Adnan dan langsung di balas anggukan kepala oleh Nasya.
Tentu saja Nasya langsung setuju, karena dirinya juga ingin mencuci terlebih dulu. Mencuci sprei dan juga kemeja milik Adnan yang semalam ia paksa buka dari tubuh Adnan agar bisa ia cuci. Itulah sebab nya, mengapa Adnan memilih mandi terlebih dulu sebelum menemui Yoga, karena memang saat itu ketika keluar dari kamar nasya, dirinya sudah tidak memakai baju. Sehingga membuat simbok dan beberapa yang lain nya, semakin salah paham.
“Ayo sayang, kita berangkat.” Ajak Olin kepada dua cucu nya, sementara Nasya, dia memilih langsung ke belakang untuk mencuci, mumpung tukang cuci belum datang.
Nasya melambaikan tangan ke arah Ryan dan Ryana sebelum menaiki mobil nya. Lalu ia segera bergegas menuju laundry room, untuk mencuci cucian nya. Namun, ketika dirinya hendak mengambil deterjen, tiba tiba saja Nasya langsung membulatkan mata dengan sempurna, kala merasakan adanya sebuah lengan kekar yang memeluk nya dari belakang secara tiba tiba.
Deg!
...~To be continue .......
__ADS_1