
...~Happy Reading~...
Brukkk!
Adnan yang mendengar suara benturan yang cukup keras pun, akhirnya segera berlari menghampiri sumber suara. Dan betapa terkejut nya dia ketika melihat kini Nasya sudah terjatuh di lantai dengan menunduk menahan isak tangis.
“Kamu kenapa?” tanya Adnan semakin mendekat.
“Hiks hiks hiks, ini semua gara gara Bapak!” gumam Nasya terisak namun masih dalam posisi menunduk.
“Kamu yang berlari, kamu juga yang—“ Ucapan Adnan langsung terhenti ketika melihat Nasya yang sudah mendongak menatap ke arah nya, dengan wajah yang sudah berlumur darah, “Ka—kamu kenapa?” pekik nya terkejut.
“Kejedot itu, hiks hiks,” jawab Nasya terisak, kini air matanya sudah bercampur dengan darah, sehingga terlihat seperti Nasya sedang menangis darah, “Gak Cuma itu saya aja yang bocor, kepala saya juga bocor hiks hiks hiks.”
Adnan pun segera mengangkat tubuh Nasya dan membawa nya untuk ke kamar Nasya. Tak lupa, ia juga membawa sebuah kota P3K untuk mengobati kening nya yang ternyata luka dengan cukup parah.
__ADS_1
Ketika Nasya sedang berlari, tanpa sengaja dirinya menabrak pinggiran pintu yang sedang terbuka setengah. Makanya dahi nya sampai berdarah karena memang pinggiran pintu itu cukup tajam. Apalagi Nasya berlari dengan cukup kencang.
(Bisa di bayangkan sendiri, nikmatnya)
“Sshhtt, Bapak sakit hiks hiks hiks,” desis Nasya ketika Adnan dengan sabar mengobati kening nya.
“Tahan dulu, gak akan lama kok. Sakit nya Cuma sebentar,” kata Adnan yang masih begitu fokus membersihkan darah di samping samping luka Nasya dengan menggunakan alkohol.
“Aaarrrkkkhhhh sakitt Pak! Pelan- pelan!” pekik Nasya spontan langsung memukul lengan Adnan.
“Bisa gak sih itu tangan diem dulu. Saya juga sakit kalau begini! Mana sempit banget lagi!” seru Adnan tak kalah kesal, lantaran tempat tidur Nasya begitu sempit untuk nya duduk.
“Masih sakit gak?” tanya Adnan kini sudah sedikit lembut.
“Enggak terlalu, udah sedikit enakan. Gak seperih tadi,” jawab Nasya pelan, karena menahan sakit, di perut serta kepala nya.
__ADS_1
“Ya udah, tahan sedikit lagi selesai kok.” Ujar Adnan yang sudah hampir selesai menutup luka Nasya.
“Cepetin bisa gak Pak? Saya udah gak kuat, ini sakit banget,” ringis Nasya sambil mencengkram kuat perut nya, karena sejak tadi dirinya belum menggunakan pembalut.
“Iya, sedikit lagi. Tahan,” kata Adnan.
“Akhirnya!” Adnan menghela nafas nya dengan cukup kasar ketika sudah selesai mengobati kening Nasya.
Setelah selesai, Nasya pun segera bangkit dengan di bantu oleh Adnan untuk pergi ke kamar mandi. Nasya mengambil pakaian nya dan handuk nya di lemari, tak lupa membungkus roti tawar nya di dalam lipatan baju.
Dan dengan sabar, Adnan menuntun Nasya untuk keluar kamar dan menuju kamar mandi. Namun, ketika Adnan hendak membuka pintu, tiba tiba nasya mencegah nya dan melirik sekali lagi ke arah tempat tidur.
“Pak, baju bapak yang kotor karena darah saya, nanti kasih ke saya saja ya. Biar saya cuci sama sprei saya yang kena darah juga, jangan suruh Mbak. Saya gak enak, karena itu kotoran saya,” ujar Nasya begitu lirih karena menahan perih.
“Sudahlah jangan pikirkan itu. Ayo,” ajak Adnan lalu segera membuka pintu dan tiba tiba saat pintu terbuka, ia langsung membulatkan matanya karena ternyata di depan pintu kamar Nasya sudah begitu ramai dengan orang. Termasuk Yoga.
__ADS_1
“A—abang ngapain Nasya?” tanya Yoga sedikit gugup saat melihat adanya noda darah di kemeja Adnan. Tak hanya sampai disitu, sejak tadi Yoga dan beberapa pembantu dan pekerja di sana juga mendengar semua percakapan Adnan dan Nasya yang menurut mereka begitu ambigu dan membuat orang bertraveling ria.
...~To be continue .......