Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Makan malam


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Malam harinya, Adnan mengajak Nasya dan kedua anaknya untuk makan malam di luar. Meskipun kini penampilan Nasya tidak seindah siang tadi, namun gadis itu tetap terlihat begitu manis dan menggemaskan untuk Adnan. Entah sejak kapan, sepertinya dirinya benar benar sudah gila bila sudah menyangkut pengasuh anak anak nya.


“Kalian mau makan apa?” tanya Adnan, dari balik kemudi nya.


Terpaksa, Adnan membawa mobil sendiri, lantaran Yoga masih sibuk lembur di kantor yang entah sampai jam berapa. Sementara Nasya, kini duduk di depan bersama Adnan agar anak anaknya tidak terus berdebat. Ya meskipun kini Ryan nampak begitu kesal duduk di belakang bersama dengan Ryana.


“Daddy, Ryana mau seafood,” kata Ryana dengan nada khas manja nya.


“Baiklah kita makan seafood sekarang,” balas Adnan mengangguk setuju, “Ryan kamu gimana?”


“Terserah!” jawab nya dengan ketus, “Nanti kalau Ryan uda gede, Ryan bawa mobil sendiri, Ryan pergi sama kak Nasya! Males ngajak kamu!” imbuh Ryan menatap saudara kembar nya dengan kesal.

__ADS_1


“Kamu nyalahin aku terus. Padahal kamu yang payah gak bisa bawa mobil wle,” balas Ryana tanpa rasa takut. “Makanya, kamu makan yang banyak biar bisa punya badan kaya Dady, nanti bisa bawa mobil. Iya kan dad?” imbuh Ryana menatap ke arah papa nya.


“Iya Sayang,” jawab Adnan seraya menahan tawa nya.


“Bapak jahat banget sumpah. Gak kasihan itu sama Ryan,” kata Nasya ikut menimpali, sesekali ia melirik ke arah belakang dimana wajah Ryan nampak begitu bad mood lantaran tidak bisa duduk bersama nya.


“Kenapa jadi saya yang jahat?” tanya Adnan langsung mendelik menatap Nasya.


“Tau ah,” cetus Nasya langsung memanyunkan bibir nya seraya menyilangkan tangan di dada, ia melirik sekilas ke arah Ryan yang mana ekspresi itu bisa di lihat jelas oleh Adnan. Setelah itu, nasya memilih untuk menatap pemandangan dari luar jendela dan membelakangi Adnan.


Setelah sampai di restauran, Adnan segera membuka pintu untuk anak anak nya. Bukan, lebih tepatnya pintu Ryana, sementara nasya membuka pintu untuk Ryan. Ketika turun, Ryan terus menggandeng tangan Nasya seolah enggan untuk melepaskan nya. Sementara Ryana, seperti biasa, ia akan di gendong oleh sang papa. Bila orang luar yang melihat maka mereka akan beranggapan bahwa itu adalah keluarga bahagia. Padahal tanpa mereka tahu Nasya hanya seorang pengasuh.


Selama makan malam pun, Ryan hanya mau di dekat Nasya. Dia benar benar terlihat begitu posesif kepada Nasya, hingga membuat Adnan semakin tak habis pikir. Mengapa putra nya bisa selengket itu engan Nasya.

__ADS_1


“Ryan, makan makanan mu sendiri.Kasihan kak Nasya belum makan!” kata Adnan menghela nafas nya kasar, ketika ia melihat sejak tadi Nasya hanya menyuapi makan Ryan. Sementara Ryana ia begitu telaten sejak tadi makan seorang diri.


“Kak Nasya makan juga kok, ini Ryan bantuin kak Nasya kupasin udang nya,” kata Ryan ketus dan memang sejak tadi dia begitu sibuk mengupas udang yang ada di depan nya, hingga membuat tangan nya kotor. Dan mau tak mau, Nasya harus menyuapi nya makan.


“Ryan, kamu sudah besar loh! Kenapa makan harus di suapin. Makan sendiri, biar udang nya Daddy yang ngupas, sini!” kata Adnan hendak mengambil alih piring yang berisi udang di depan Ryan.


“Gak mau! Ini Ryan mau kupasin untuk kak Nasya Kita mau gantian biar adil. Kak Nasya suapin Ryan, dan Ryan kupasin udang buat kak Nasya. Biar sekalian tangan Ryan saja yang kotor!" jelas nya panjang lebar.


"Dady makan saja sama Ryana. Biarin aja Ryan sama kak Nasya, Daddy kenapa sih!” imbuh Ryan tak kalah kesal.


“Iya Pak, bapak makan saja. Saya dan Ryan juga makan kok, bapak tenang saja. Ryan tidak akan kelaparan nanti.” saut Nasya seolah setuju dengan perkataan Ryan.


Nasya berfikir bahwa Adnan khawatir karena anaknya harus kotor kotor mengupas udang untuknya. Padahal, Adnan bersikap seperti itu karena ingin melihat Nasya makan. Adnan khawatir karena sejak tadi Nasya belum makan apapun.

__ADS_1


“Astaga!” Adnan sampai mengusap wajah nya dengan kasar karena kini anak nya begitu pintar menjawab ucapan nya. Selalu ada saja jawaban di setiap perkataan nya. Terlebih orang yang hendak ia bela dan beri perhatian malah membela anak nya, bukan dirinya. Benar benar membuat Adnan begitu frustasi.


...~To be continue ......


__ADS_2