
...~Happy Reading~...
“Hey Duren, you kudu bayar I mahal mahal oke! Lihat bebek kamu sudah I ubah menjadi angsa yang begitu cantik,” ujar Bara ketika sudah membawa Nasya keluar butik untuk menemui Adnan.
Untuk beberapa saat, Adnan masih terdiam tidak menanggapi ucapan Bara. Matanya sejak tadi hanya terfokus kepada penampilan Nasya yang baru. Sangat berbeda dari yang sebelumnya.
Bila sebelumnya, Nasya selalu memakai celana jins panjang atau pendek serta kaos saja. Kini, entah angin dari mana Bara bisa memakaikan nya sebuah dress code simple berwarna nude. Tidak ada yang istimewa dari dress tersebut. Namun, entah mengapa begitu di pakai oleh Nasya terlihat begitu mewah dan elegan. Bahkan, gadis itu kini terlihat semakin bersinar.
“Pak, habis ini nanti di jual lagi yah.” Kata Nasya setengah berbisik kepada Adnan.
Adnan pun seketika langsung menoleh ke arah Nasya, wajah yang awalnya terlihat begitu kagum dengan penampilan baru Nasya, kini tiba tiba berubah menjadi mengerut karena tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh gadis tersebut.
“Kenapa?” tanya Adnan.
“Mahal Pak, tadi Nasya lihat bandrol harga nya. Harga nya dua bulan gaji saya,” rengek Nasya seolah tak rela memakai dress tersebut.
“Pokoknya ini salah bapak loh ya. Bukan Nasya! Nasya gak mau potong gaji buat bayar baju ini, bapak sendiri yang maksa, jadi bapak yang harus bayar, jangan potong gaji Nasya, gak mau tau, pokoknya—“
__ADS_1
“Cukup, diem!” kata Adnan langsung meletakkan jari telunjuk nya pada bibir Nasya agar berhenti untuk mengoceh.
“Kita, jemput anak anak lagi. Karena nanti jam dua saya harus berangkat lagi ke kantor.” Imbuh Adnan, seolah terhipnotis Nasya langsung menganggukkan kepala nya dengan mata yang terus menatap wajah bos nya.
“Heh Duren! Jahara you, kenapa harus sok romantis di depan I, hah!” seru Bara tiba tiba mendengus membuat Adnan dan Nasya langsung tersadar dari lamunan singkat nya.
“Berisik!” cetus Adnan, lalu ia segera masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk Nasya.
“Pak!” panggil Nasya ketika Adnan sudah menjalankan mobil nya menuju sekolah.
“Kenapa?” tanya Adnan tanpa menoleh ke arah Nasya.
Tiiiiiinnnnnnnn!!
Bunyi klakson dari beberapa kendaraan yang di belakang Adnan begitu cukup nyaring terdengar. Tentu saja mereka kesal, lantaran Adnan dengan tiba tiba berhenti di pinggir jalan, tanpa menyalakan lampu sen terlebih dahulu.
Dug!
__ADS_1
“Bapak, sakiitt ahh!” seru Nasya langsung menyentuh kening nya yang terpentuk dasboard.
“Tadi kamu bilang apa?” tanya Adnan menatap tak percaya.
“Bapak ngutang?” kata Nasya mengulangi pertanyaan nya, “Habisnya tadi bapak keluar gitu aja terus bawa Nasya kabur.” Imbuh nya polos.
“Jadi menurut kamu, kita itu kabur?” desis Adnan menggelengkan kepala nya, namun Nasya justru menganggukkan kepala.
“Dimana ada, sejarah nya orang kabur tapi pamitan terlebih dulu!” kata Adnan menahan geram nya.
“Oh iya ya. Nasya baru inget, tadi kita pamitan bahkan bercanda. Terus bapak kapan bayar nya? Apa jangan jangan—“
“Dia sudah memegang kartu kredit ku, Nasya. Jadi berhenti bicara yang gak jelas!” kata Adnan langsung memotong ucapan Nasya.
“Oh, berarti bapak kredit ke mas apa mis Bara tadi. Ah entahlah Nasya pusing,” keluh Nasya memikirkan nama pemilik butik, “Tapi ngomong ngomong nanti bayarnya di cicil berapa bulan Pak? Tapi jangan potong gaji Nasya beneran ya Pak. Nanti Nasya laundry deh habis ini biar bisa di balikin, gapapa rugi dikit daripada mesti bayar angsuran beberapa bulan. Atau malah beberapa tahun!” pekik nya terkejut sendiri, membayangkan ia harus menyicil baju nya kepada Bara selama beberapa tahun ke depan.
Bukan apa, masalahnya Nasya dulu waktu di kampung pernah memiliki teman. Yang mana orang tuanya memiliki usaha kredit barang. Barang yang harganya di bawah lima juta saja, cicilan sampai satu tahun. Apalagi baju seperti yang Nasya kenakan, yang mana harganya dua bulan gaji Nasya atau sekitar sepuluh juta. Sudah pasti bisa tahunan bukan. Itulah yang di pikirkan Nasya, ternyata di Jakarta juga banyak yang menjual kreditan.
__ADS_1
...~To be Continue~...