
...~Happy Reading~...
Hari berganti minggu, dan bulan. Tanpa terasa kini Nasya sudah mulai bisa berdamai dengan hatinya. Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu di restauran, sejak saat itu, dirinya sudah tidak pernah melihat Adnan atau pun anak anak lagi. Hanya sesekali, Nasya masih sering melewati sekolah anak anak, hanya lewat tanpa berniat mampir kembali. Jadi dia sudah sangat jarang bahkan tidak pernah mengobrol lagi dengan mereka.
Bisa di katakan mereka putus hubungan, padahal Nasya pernah menjanjikan akan membelikan Ryan ice krem, namun ternyata hingga kini dia belum juga bisa menemui nya.
Selama ini, Nasya hanya fokus terhadap kuliah dan pekerjaan nya. Ia tidak pernah memiliki waktu luang untuk bersenang senang, bila saat libur, ia memilih untuk menghabiskan waktu seharian di kosan. Belajar dan membersihkan kamar. Bahkan, Nasya juga memilih untuk tidak bermain sosmed. Ia benar benar fokus dengan kehidupan nya yang sekarang.
Sementara itu, di rumah Adnan, pagi ini terasa begitu tenang dan sunyi. Anak anak sedang ikut Olin pulang kampung karena weekend. Mereka memiliki waktu tiga hari untuk berlibur dan akan kembali lagi minggu sore. Hari hari Adnan pun juga tak berbeda jauh dari Nasya, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.
“Bang, siang ini ada meeting sama pak Broto,” ujar Yoga ketika memasuki ruang kerja Adnan sambil membawa sebuah berkas untuk di serahkan kepada Adnan.
Yah, hari jumat, Adnan memilih untuk be kerja di rumah. Ia begitu enggan pergi ke kantor.
“Huhh,” Adnan langsung menghela napas nya berat, “Kamu aja Ga, yang datang. Aku malas,” kata Adnan yang langsung memutar kursi nya dan duduk membelakangi Yoga.
“Tapi Bang, dia maunya sama Abang. Mungkin sekalian mau ngomongin masalah—“
“Berhenti!” seru Adnan yang langsung mengangkat tangan nya ke udara sebagai tanda agar Yoga berhenti berkata, “Kamu temui dia, dan aku temui Eyang!” imbuh nya dengan cepat.
“Abang yakin?” tanya Yoga merasa kurang yakin.
Setelah sekian lama, akhirnya Adnan mau menemui sang nenek kembali. Namanya Eyang Liana, nenek Adnan dari sang ibu. Sebenarnya, Adnan sudah sangat lama tidak berhubungan dengan beliau. Tepatnya, saat dia menikah dengan istri nya dulu, eyang Liana tidak menyetujui nya, karena Eyang ingin menjodohkan Adnan dengan Nuna, yang tak lain adalah cucu dari sahabat nya.
__ADS_1
Bahkan, Ryan dan Ryana pun hingga kini belum pernah dengan Eyang Liana. Dan baru satu tahun terakhir ini, Eyang Liana yang awalnya menetap di Tiongkok, kembali lagi ke Indonesia dan berniat untuk menjodohkan nya dengan Nuna, yang tak lain adalah sahabat dari mantan kekasih nya, Nasya.
Tanpa Nasya dan sahabat nya tahu, bahwa ternyata umur Nuna jauh di atas mereka. Nuna sudah banyak membohongi Nasya dan yang lain nya. Bahwa sebenarnya umur wanita itu hanya berbeda beberapa tahun di bawah Adnan, cukup jauh dari Nasya dan teman teman nya.
Adnan menolak keras untuk di jodohkan. Namun, ia tidak bisa melakukan itu, karena Eyang Liana yang sudah sangat tua dan juga banyak mengancam nya. Hingga pada akhirnya Adnan mencoba menerima kehadiran Nuna, asal bisa membuat kedua anak nya luluh dan nyaman. Karena kini ia tidak mau mencari pasangan untuk nya, melainkan ibu untuk anak anak nya.
“Kamu selesaikan semua pekerjaan hari ini. Dan pastikan, besok kita bisa libur, agar bisa menjemput anak- anak!” imbuh Adnan seraya beranjak dari tempat duduk nya dan hendak pergi.
“Bang!” panggil Yoga membuat langkah kaki Adnan terhenti.
“Kemarin, aku lihat Nasya—“
“Biarkan, dia sudah bahagia. Jangan pernah bahas dia lagi disini, fokus dengan kerjaan kamu!” saut Adnan dengan cepat, lalu ia segera pergi meninggalkan kantor, untuk pergi ke rumah eyang nya.
“Adnan,” gumam seorang nenek tua yang sedang duduk di kursi roda menyambut kedatangan cucu nya.
Adnan dengan santun mencium punggung tangan sang nenek, lalu ikut duduk di sebelah nya. Namun, meskipun ia begitu sopan dan santun, wajah nya masih terlihat begitu datar.
“Ada apa?” tanya eyang Liana seraya melepaskan kaca mata nya.
“Mau sampai kapan, Eyang memaksa Adnan?” kata Adnan membuka suara.
“Memaksa bagaimana, maksud kamu? Eyang cuma mau yang terbaik buat anak cucu Eyang.” Ujar eyang Liana menghela napas nya berat, “Coba saja, dulu kamu mendengarkan nasehat Eyang. Pasti kamu tidak akan menjadi duda begini.”
__ADS_1
“Eyang!!” seru Adnan menatap nenek nya dengan tatapan tak suka dan marah.
“Adnan, apa yang Eyang bicarakan itu fakta. Kamu lihat sekarang Nuna, dia sudah dewasa begitu cantik, keibuan, anggun dan begitu lembut. Coba saja dia yang menjadi istri kamu sejak awal, tentu saja kamu tidak akaan menjadi seperti ini. Buka mata kamu Adnan,”
“Eyang, aku dan Nuna tidak ada perasaan apapun. Selama satu tahun ini aku sudah memberikan nya kesempatan, tapi mana? Nyatanya dia juga tidak bisa menggetarkan hati Adnan. Eyang tidak bisa memaksa Adnan seperti ini. Begitupun dengan anak anak, Eyang lihat kan, bahkan Ryan dan Ryana lebih memilih ikut nenek nya daripada harus kesini bersama Nuna!” geram Adnan panjang lebar.
“Ckck, memang anak anak itu sifat nya kaya ibu nya. Makanya dia tak menyukai ku!” decak eyang Liana langsung memalingkan wajah ke samping.
“Buah jatuh, tidak jauh dari pohon nya. Dulu kamu begitu membela Riri, tapi nyatanya dia mati kan? Itu karena azab, Nan. Sudahlah, lupakan dia, dan fokus dengan masa depan kamu. Kasihan Nuna bila harus menunggu terlalu lama lagi, umur nya juga sudah tidak muda lagi,” ungkap eyang Liana panjang lebar.
“Berhenti menjelekkan Riri di depan ku Eyang. Dan juga, sesuai kesepakatan kita di awal, Adnan hanya memberikan kesempatan sama Nuna untuk mendekati kami selama satu tahun, dan kini dia gagal. Makanya Adnan kemari ingin menyelesaikan semua ini. Mulai saat ini, tolong jangan ikut campur lagi dengan kehidupan Adnan dan anak anak Adnan!”
“Nan, Eyang sudah tua. Umur Eyang mungkin sudah tidak lama lagi. Kamu mau melihat Eyang meninggal dalam keadaan sedih, karena cucu Eyang masih belum menemukan jodoh nya?” tanya Eyang Liana dengan mata berkaca kaca.
“Kalau begitu, Eyang jangan terburu buru menerima panggilan dari Tuhan. Tunggu sampai Adnan menemukan belahan jiwa Adnan yang sesungguh nya. Ibu untuk anak anak Adnan yang sebenarnya, dan itu bukan Nuna!” kata Adnan dengan tegas dan penuh penekanan, “Lagipula, cucu Eyang bukan hanya Adnan, masih ada Marvel dan juga Maudi, kenapa Eyang tidak sibuk mengurus mereka saja. Kenapa harus Adnan? Mereka bahkan belum merasakan pernikahan sama sekali, sementara Adnan sudah merasakan nya. Jadi tidak perlu bantuan Eyang, Adnan bisa menemukan pasangan sendiri!”
Adnan menghela napas nya panjang ketika sudah mengeluarkan semua unek unek nya kepada sang nenek. Sementara itu, eyang Liana hanya menatap Adnan dengan datar. Pikiran nya melalang buana entah kemana.
“Adnan akan pulang, karena besok, Adnan harus menjemput anak anak. Jadi Adnan benar benar meminta tolong sama Eyang. Bilang sama om Broto, bahwa perjodohan ini batal. Atau kalau dia mau, silahkan jodohkan anak nya dengan Marvel, dia masih jomblo abadi selama dua puluh dua tahun!”
Setelah mengatakan itu, Adnan segera mencium punggung tangan eyang Liana dan bergegas untuk pulang. Sementara eyang Liana ia masih terdiam dengan sejuta pikiran nya sambil menatap punggung cucu nya yang kian menjauh meninggalkan rumah.
~To be continue ...
__ADS_1