
...~Happy Reading~...
Awalnya, Nasya memang sangat kesal dan tidak semangat dalam acara tersebut. Namun, lambat laun, karena ketiga sahabat nya serta ada Yoga dan yang lainnya untuk memeriahkan malam itu, akhirnya Nasya bisa ikut happy dan menikmati malam api unggun.
Memang bukan alam bebas, namun malam itu juga terlihat seperti berada di dalam hutan. Adnan sengaja membuat dinding pembatas dari kain hitam panjang dan tinggi, untuk menutupi bagian rumah serta jalanan yang sedikit terlihat dari halaman. Jadilah tidak ada pencahayaan lampu sama sekali, kecuali lampu lentera serta api unggun. Beruntung cuaca begitu cerah dan juga bulan serta bintang seolah ikut menemani malam Nasya dan teman teman nya.
Karena malam sudah semakin larut, akhirnya satu persatu pamit undur diri untuk masuk ke dalam tenda. Begitupun dengan Ryan yang sejak tadi sudah tidur di tenda Yoga. Sementara Ryana, ia memilih satu tenda dengan Nuna. Entah mengapa Ryana sangat menyukai gadis berambut pendek dengan penampilan laki laki tersebut.
Hoaammm
Nasya menguap, namun dirinya masih begitu enggan beranjak dari posisi nya. Kini dia masih menikmati api unggun seraya bermain ponsel. Hingga beberapa saat, dirinya merasakan sebuah dekapan hangat dari belakang.
__ADS_1
Tidak perlu menengok, Nasya sudah bisa tahu itu siapa. Aroma parfum yang begitu maskulin dan familiar membuat mood Nasya kembali menjadi jelek.
“Masih marah? Hem?” tanya nya dengan cukup lembut, ia mendaratkan kepala nasya pada bahu nya, mengusap nya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
“Sedikit,” jawab Nasya sedikit ketus.
Nasya tidak menolak ketika Adnan memeluk nya dan mengusap kepala nya. Hanya saja dirinya masih merasa kesal, mungkin karena memang bawaan dirinya yang sedang datang bulang, sehingga mood nya naik turun.
“Aku tahu kamu sedang datang bulan, dan kebiasaan kamu cukup buruk kalau sedang datang bulan. Aku gak mau kamu kenapa napa nanti di sana. Coba, gimana kalau kamu tiba tiba sakit di sana, gak ada yang bantuin kamu? Memang di sana banyak orang, bahkan laki laki juga banyak. Tapi, gak mungkin kan, mereka merawat kamu, seperti aku kalau rawat kamu?” imbuh Adnan panjang lebar, seketika membuat Nasya terdiam.
Nasya sudah terbiasa dengan perhatian dari Adnan, sehingga semaki kesini, tubuh nya semakin terasa berlebihan. Dulu, saat dirinya hidup sendiri, sakit pun tidak pernah ia rasa, ia masih bisa sekolah serta bekerja. Apalagi hanya datang bulan, ia bisa menahan nya berhari hari karena tidak memiliki uang lebih untuk membeli obat pereda nyeri.
__ADS_1
Sementara, sejak bersama dengan Adnan. Laki laki itu selalu telaten merawat nya. Menemani nya dan mendengarkan semua keluh kesah nya. Di tambah dua anak anak yang juga tak kalah perhatian padanya. Setiap kali Nasya sakit, atau datang bulan maka tiga orang tersebut akan senantiasa merawat nya.
Lebay? Manja, bahkan Nasya tidak tahu mengapa dirinya bisa berubah menjadi seperti itu.
“Maaf, kalau ke posesifan aku mengekang mu, itu semua karena aku sayang sama kamu,” bisik Adnan di telinga Nasya, membuat hati Nasya menjadi semakin luluh.
“Maaf,” gumam Nasya pelan, lalu ia segera membalas pelukan Adnan dengan begitu erat.
“Jangan marah lagi,” kata Adnan yang langsung di balas anggukan kepala oleh Nasya.
“Aku bisa memberikan mu apapun, tapi tidak untuk kebebasan.” Gumam Adnan dalam hati nya seraya menciumi kepala Nasya dengan gemas.
__ADS_1
...~To be continue ........