
...~Happy Reading~...
“Abay!” pekik Nasya terkejut ketika melihat seorang laki laki berdiri tepat di depan nya sambil mengulurkan sebuah tisu padanya.
“Halo Nasya, kenapa?” tanya Abay tersenyum lalu ia mengulurkan tangan seolah menyuruh Nasya agar berdiri.
“Gapapa, Cuma kelilipan aja tadi.” Jawab nasya dan langsung menghapus air matanya, “Kamu kerja disini?” tanya Nasya ketika melihat seragam yang di kenakan oleh Abay ternyata sama dengan karyawan supermarket di sana.
“Iya, baru dua bulan sih. Tapi lumayan lah, hihihi,” kata Abay terkekeh, “Mau ngobrol sebentar? Mumpung aku masih ada waktu istirahat.” Katanya lagi seraya melirik jam di tangan nya.
Nasya hanya mampu menganggukkan kepala nya, lalu ia mengikuti Abay yang mengajak nya keluar supermarket dan menuju salah satu restauran yang berada tepat di seberang supermarket.
“Kenapa kamu bisa di Jakarta? Bagaiman Olin? Warung—“
“Olin sekarang sudah di Jakarta Sya. Dan ya, sejak kamu pergi tuh akhirnya Olin menutup warung nya. Kamu tahu, banyak pelanggan komplain karena masakan nya tidak seenak kamu, jadi ya sudah akhirnya Olin memilih menutup nya. Dan sekarang, kayaknya Olin mau menetap di Jakarta deh, karena—“
__ADS_1
“Aku sudah tidak bekerja di sana lagi, Bay.” Saut nasya menundukkan kepalanya.
“Kamu ada masalah apa Sya? Kemarin malam Olin telfon aku, dia bilang kalau aku ketemu sama kamu, dia minta aku kabarin.” Kata Abay menatap Nasya dengan lekat.
“Jangan Bay, jangan katakan apapun sama Olin. Jangan bilang kalau kamu ketemu aku disini,” ujar Nasya menggelengkan kepala nya.
“Kenapa?” tanya Abay lagi begitu penasaran.
“Gapapa Bay, aku masih belum siap aja. Aku pengen mencari suasana baru, dan aku gak enak aja kalau aku udah gak kerja di sana lagi. Aku—“
Padahal, Abay sudah banyak mendengar tentang masalah Nasya mengapa keluar dari rumah menantu Olin. Tapi Abay memilih untuk berpura pura tidak tahu, karena tidak mau Nasya ikut menghindari nya, kalau tahu dirinya masih sering bertukar kabar dengan Olin.
“Mulut kamu Bay! Sumpah gak ngenakin banget!” cetus Nasya langsung cemberut dan membuat Abay langsung tergelak.
Keduanya pun akhirnya menghabiskan waktu hingga hampir satu jam lama nya untuk mengobrol dan tertawa bersama. Untuk sesaat, Nasya merasa lega dan terhibur atas kehadiran Abay. Setidak nya, ia bisa melupakan Adnan dengan kekasih baru nya untuk sesaat.
__ADS_1
“Oh iya, Aqila gimana? Kamu sama dia satu kampus kan?” tanya Abay mengalihkan pembicaraan.
“Aqila udah punya pacar, jangan di tanyain mulu heh!” seru Nasya langsung melemparkan sedotan kepada Abay.
“Yah Sya, baru pacaran, selama janur kuning belum melengkung—“
“Halah basi pepatah kamu Bay. Udah deh, mending kamu fokus kerja, cari duit yang banyak. Karena nanti kalau duit kamu banyak, gak perlu kamu cari cewek, maka cewek yang akan datang sama kamu,” kata Nasya sok bijak.
“Termasuk Aqila gak?” tanya Abay lagi hingga membuat Nasya langsung mendelik tajam dan Abay langsung tergelak.
Keduanya sangat asik mengobrol karena sudah cukup lama tidak bertemu. Hingga tanpa keduanya sadari sejak tadi ada sepasang mata yang melihat marah ke arah meja nya.
‘Secepat itu kamu menemukan pengganti ku Sya? Kenapa aku masih begitu berat dan belum rela untuk melihat mu bahagia dengan orang lain,’ gumam laki laki itu yang tak lain adalah Adnan.
Tadi dirinya hendak mampir ke restauran untuk take away makanan, namun niat itu ia urungkan karena melihat Nasya dan Abay tengah bercanda bersama.
__ADS_1
...~To be continue .......