
...~Happy Reading~...
“Kenapa dengan saya, Sya?” tanya Olin ketika sudah berhadapan dengan Nasya.
Wanita tua tersebut, langsung menggenggam tangan Nasya dengan begitu lembut. Matanya berkaca- kaca namun bibir nya memancarkan sebuah senyum ketulusan.
“O—Olin, saya ... “
“Berbahagialah Nak, bila memang ini yang sudah di gariskan oleh Tuhan. Tapi tolong, sayangi dan cintai cucu- cucu saya ya,” ucap Olin tersenyum dan terharu.
“Olin ... “ Nasya tak kuasa menahan air mata nya, ia pun langsung memeluk Olin dan menumpahkan tangis nya di sana.
Nasya tidak menyangka bila ternyata dia akan mendapatkan restu secepat itu dari Olin. Dan juga, Nasya tidak menyangka bahwa ternyata Olin sejak tadi menguping pembicaraan nya dengan Adnan. Seketika Nasya langsung merutuki kebodohan nya ketika mengingat saat dirinya keceplosan mengajak Adnan untuk membuat anak. Sangat konyol, dan memalukan. Batin Nasya mengumpat dirinya sendiri.
“Saya senang, kalau pada akhirnya duda labil itu sudah menemukan jodoh nya kembali,” ujar Olin ketika melepaskan pelukan nya dengan Nasya.
“Bu!” protes Adnan langsung membulatkan matanya ketika mendengar ucapan sang mertua.
Olin tak menjawab, ia hanya tersenyum kepada Adnan. Namun hanya beberapa detik, ia langsung memberikan sebuah pukulan kepada Adnan.
Bug!
Olin memukul Adnan dengan menggunakan tas nya, hingga membuat Adnan langsung mengaduh kesakitan.
“Kamu tadi bilang apa? Perut kamu mules, kamu alesan gak mau ikut nganter anak anak. Gak taunya malah mojok di tempat cucian baju! Astaga Adnan, gimana gak di sebut duda labil, kamu ini bener bener kaya anak kecil!” omel Olin panjang lebar, yang membuat Adnan menyengir lebar.
__ADS_1
Memang benar, tadi sewaktu mereka akan berangkat ke sekolah. Adnan memilih izin tidak mengantarkan anak anak, dengan alasan karena perut nya mules. Adnan berpesan kepada Yoga agar mengantarkan ibu dan anak anak nya untuk ke sekolah. Barulah setelah itu menjemput nya lagi di rumah.
Hampir satu jam lamanya Olin mengantarkan anak anak ke sekolah. Dan ketika dirinya pulang, ternyata malah mendapati Adnan sedang menggoda Nasya di laundry room.
“Ckckck, Cuma sekali aja Bu.” Elak Adnan membela diri.
“Ya udah, sana buruan berangkat ke kantor. Benar kata Nasya, meskipun sekarang kalian sudah pacaran, tetap saja kamu tidak bisa seenaknya dengan Nasya. Kamu juga tetap harus membayar gaji nya!” kata Olin masih mengomel.
“Astaga Bu!” dengus Adnan dan langsung menggelengkan kepala nya.
“Apa? Astaga Ibu, Astaga ibu. Itu Yoga udah jamuran nunggu di luar!” kata Olin segera mengusir Adnan.
“Ibu pergi dulu sana, ibu ke kamar atau kemana dulu, jangan disini,” ucap Adnan yang juga mengusir ibu mertua nya.
“Bukan mengusir Bu, hanya menyuruh pergi.” Ralat Adnan menggelengkan kepala nya.
“Olin sama Bapak, kenapa jadi berdebat terus sih. Kalau gitu, biar Nasya aja yang pergi. Kalian disini saja,” saut nasya tiba tiba dan hendak pergi, namun dengan cepat tangan nya di tahan oleh Adnan.
“Kenapa Bapak lagi sih?” protes nya tak terima.
“Sudahlah Nan, kamu itu memang sudah bapak bapak. Percaya diri memang harus, tapi sadar diri jauh lebih perlu,” ucap Olin tak kuasa menahan tawa nya, lalu ia pun segera bergegas pergi meninggalkan sepasang sejoli yang baru saja jadian beberapa menit yang lalu.
“Aku memang masih muda, enak saja di bilang tua. Yang tua itu, Ibu,” celetuk Adnan mendengus.
“Huss, nanti Olin denger jadi berabe!” cetus Nasya spontan langsung memukul bahu Adnan, namun ia juga ikut terkekeh.
__ADS_1
“Sayang ... “ panggil Adnan kini ia kembali menatap ke arah Nasya.
“Mas, bisa gak kalau gak pakai sayang sayang gitu, dulu?” kata Nasya menunduk malu, karena setiap kali Adnan memanggil nya dengan sebutan sayang, maka wajah nya akan bersemu merah.
“Kenapa? Kamu suka, sayang?” ucap Adnan yang semakin menggoda.
“Ihh apaan sih!” seru Nasya dan lagi lagi ia memukul bahu Adnan.
“Ini kamu sudah berapa banyak mukul aku, hem?” kata Adnan sedikit kesal.
“Entah,” jawab Nasya begitu santai.
“Ya udahlah, aku berangkat dulu ya,” ucap Adnan kembali menggenggam tangan Nasya.
“Ya udah sana berangkat,” usir Nasya mengerutkan dahi nya.
“Kamu gak mau kasih aku bekal?”
“Bekal apa?” tanya Nasya kurang mengerti, “Tadi bukankah udah bilang katanya gak mau bawa bekel? Katanya kasihan lihat aku masak banyak. Jadi menolak bawa bekal, kok sekarang nagih, ini maksud nya gimana?” celoteh Nasya begitu kesal, “Kamu inget kan, aku tuh masih sakit, lagi dapet pula. Aku capek, aku—“
“Sudah cukup!” saut Adnan dengan cepat memotong omelan Nasya, “Akan ku minta nanti sore,” imbuh nya, lalu dengan tiba tiba dia mengecup pipi kanan Nasya, dan segera bergegas keluar dari laundry room.
Sementara Nasya, yang baru saja mendapatkan sebuah kecupan di pipi hanya mampu terdiam dengan berjuta keterkejutan nya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan nya, karena rasanya sangat sulit untuk di jelaskan. Batin Nasya.
...~To be continue ......
__ADS_1