Belenggu Cinta, pak Duda

Belenggu Cinta, pak Duda
Ngawur


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Memangnya kenapa?” kata Nasya malah balik bertanya, “Kamu mau cariin aku pacar?” tanya Nasya langsung mengubah posisi menghadap ke arah Yoga yang sedang menyetir.


“Memang nya kamu mau?” tanya Yoga lagi, percayalah kini dirinya tengah menahan tawa nya agar tidak pecah. Karena sejak tadi wajah Adnan yang sudah terlihat berbeda dari sebelum nya. Bahkan, Yoga juga melihat bahwa Adnan sampai mematikan tablet nya.


“Mau lah, kata Riska pacaran itu enak. Ada yang ngasih perhatian. Ada yang nemenin chating setiap malem kalau kita lagi belajar. Terus ada yang anter jemput pas kuliah. Terus—“


“Jangan mengajari nya yang tidak- tidak Ga!” seru Adnan memotong pembicaraan Yoga dan Nasya, “Dan kamu, apa kamu masih memiliki banyak waktu untuk pacaran? Kamu mau mengabaikan semua pekerjaan kamu, iya?” katanya lagi dan kini menatap tajam pada Nasya yang kebetulan sedang melirik ke arah belakang.


“Justru karena kerjaan dan tugas Nasya banyak, Pak. Kan nanti jadi ilang capek nya, karena di semangatin ayang,” kata Nasya terkekeh sendiri.


Ia kembali mengingat bagaimana bucin nya para sahabat nya ketika membicarakan soal pacar. Kecuali Nuna, dia sebelas dua belas dari Nasya, maksudnya sama- sama jomblo.


“BUkankah kamu sudah punya pacar?” tanya Adnan karena penasaran dan ia baru teringat dengan sesuatu.


“Iks si bapak, kalau saya punya pacar, mana mungkin saya minta Yoga buat cariin saya pacar. Ngadi ngadi deh si Bapak,” kata Nasya berdecak dan lagi lagi ia memanyunkan bibir nya hingga membuat Adnan langsung memalingkan wajah.

__ADS_1


“Ingat Sya, kamu di Jakarta itu masih baru. Jangan macem macem, jangan terlalu bebas dalam bergaul,” ucap Adnan tiba tiba.


“Maksud Bapak bagaimana ya?” tanya Nasya dan kini ia mengubah posisi duduk nya menghadap ke belakang.


“Intinya jangan terlalu mudah percaya sama laki- laki! Jangan sampai kamu di manfaatin karena kapasitas otak kamu yang belum memadai.”


“Maksud bapak? Cowok cowok di Jakarta Cuma manfaatin cewek kaya saya begitu?” tanya Nasya dengan wajah polos nya


“Hemm ... “


“Kenapa jadi saya?”


“Ya kan bapak bilang cowok. Lah memang nya bapak bukan cowok?”


Adnan langsung mendesis dan mengepalkan tangan nya erat. Entah bagaimana caranya untuk berbicara yang bisa di pahami oleh Nasya. Karena sejak tadi yang ia katakan tidak bisa masuk ke dalam pikiran Nasya sama sekali, yang ada malah salah paham.


“Buahaahahah! Udah cukup Bang. Perut ku sakit, hahahaha!” Yoga sudah tidak bisa menahan tawa nya lagi ketika melihat interaksi antara Adnan dan Nasya yang cukup menghibur nya.

__ADS_1


“Oh ya, kamu kan juga cowok Ga! Berarti kamu juga salah satu cowok yang suka manfaatin cewek kampung kaya aku!” cetus Nasya langsung mendengus melirik Yoga dengan sinis.


“Heh heh kenapa aku jadi di ikut ikutin. Aku bukan cowok Jakarta ya Sya. Aku juga cowok kampung kok,” kata Yoga menjelaskan.


“Oh begitu. Kalau gitu, kenapa gak kita pacaran aja Ga, kamu bisa ajarin aku.Kita kan sama sama dari kampung kalau begitu,” ucap Nasya dengan mata berbinar.


“Jangan ngawur!” Bukan Yoga yang menjawab, melainkan Adnan yang langsung melemparkan tisu kepada Nasya hingga membuat gadis itu mengaduh ke sakitan.


“Bapak!” seru nya begitu kesal dan langsung menyentuh kening nya yang terkena tisu.


“Coba deh Sya, sekali sekali kamu panggil nya jangan Bapak, tapi Ayank gitu,” bisik Yoga ketika sudah sampai di kantor dan melihat Adnan turun dari mobil menuju lift.


“Ngawur!” seru Nasya melemparkan tisu yang tadi di lemparkan Adnan pada nya, kini ke Yoga.


Nasya pun segera ikut turun meninggalkan Yoga dan segera mengejar Adnan.


‘Ngawur!’ cibir Yoga mengikuti kata kata yang di ucapkan Adnan dan Nasya tadi.

__ADS_1


__ADS_2