
...~Happy Reading~...
Setelah mengantarkan Nasya dan anak anak nya sampai di rumah. Adnan pun segera pamit untuk kembali ke kantor. Karena dirinya sudah sangat terburu- buru.
“Bagaimana Ga?” tanya Adnan ketika sudah sampai di kantor.
“Bagaimana apanya? Abang telat Bang dan meeting sudah selesai!” kata Yoga menghela nafas nya panjang, “Perasaan jam bang Adnan mahal deh. Masa iya jam nya rusak!” sindir nya, lalu ia berlalu keluar untuk mengecek berkas nya lagi.
Adnan yang mendapatkan sindirian dari Yoga pun langsung mengecek jam di pergelangan tangannya, dan benar saja, saat ini jam sudah menunjuk angka setengah empat. Sementara mereka seharusnya meeting jam dua. Wajar saja bila Yoga terlihat kesal dan marah padanya.
Namun Adnan juga tersenyum lega karena Yoga tidak mengatakan apapun. Itu menandakan bahwa meeting kali ini lancar. Karena bila ada kendala, maka Yoga pasti akan memberitahunya dan berceloteh panjang lebar.
Adnan segera duduk dan mengecek berkas berkas yang sudah di siapkan oleh Yoga di meja nya. Namun, baru beberapa saat dirinya bekerja, entah mengapa bayangan tentang Nasya yang berubah penampilan, serta dimana Nasya menyentuh bibir nya yang terlihat memerah, membuat nya hilang konsentrasi. Hingga membuat Adnan lebih sering melamun dan memperlambat pekerjaan nya.
Drrrttt ... Drrtt .. Drrttt ..
Suara getaran ponsel, membuat Adnan tersadar dari lamunan nya.
__ADS_1
“Halo Bu?” kata Adnan ketika sudah mengangkat sambungan telfon yang ternyata dari ibu mertuanya.
“Adnan, besok Ibu datang ke Jakarta. Kamu mau di bawakan apa?” tanya Olin dari seberang saja.
“Tidak usah Bu, bawakan saja yang biasa anak anak suka. Aku tidak perlu,” ucap Adnan sambil matanya kembali fokus pada berkas di meja nya dan tangan masih menggenggam ponsel.
“Yakin? Kamu gak mau di bawain makanan kaya biasa?” tanya Olin sekali lagi memastikan.
Biasanya, setiap kali Olin akan datang ke Jakarta. Maka Adnan akan meminta Olin untuk membawakan nya oleh oleh, makanan khas di sana. Hanya saja kini sejak kedatangan Nasya di rumah nya. Adnan merasa sudah sangat kenyang, karena Nasya sering membuatkan nya makanan dan juga cemilan.
‘Aarrrkkhhh bisa gila aku lama- lama!” pekik Adnan langsung mengusap wajah nya dengan kasar.
Sejak tadi, dirinya tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja, bayangan wajah dan suara Nasya seolah terus terngiang di kepala nya. Bahkan hanya membayangkan rasa makanan yang di masak oleh Nasya saja, mampu membuat perut nya bergejolak lapar. Apalagi dengan kejadian hari ini, semakin membuat Adnan terus terbayang.
Merasa percuma, akhirnya Adnan memilih untuk berkemas dan bergegas pulang. Padahal, tadi niat nya hari ini dirinya akan lembur hingga jam sembilan seperti biasa. Namun, entah mengapa mendadak dirinya membatalkan rencana nya.
“Loh Bang, mau kemana?” tanya Yoga ketika sudah berada di dalam ruangan Adnan, dirinya mau mengantarkan berkas baru lagi untuk di periksa oleh Adnan.
__ADS_1
“Pulang,” jawab Adnan dengan singkat sambil memakai jas nya.
“Pulang kemana?” tanya Yoga lagi seketika membuat Adnan menghentikan pergerakan tangan nya.
“Pulang ke rumah, Yoga! Masa iya mau pulang ke akherat, aku belum siap!” jawab Adnan dengan ketus.
“Lah, kali aja kalau mau juga gapapa Bang. Biar ketemu sama—“
“Yoga!” kata Adnan penuh penekanan dan langsung menatap tajam pada Yoga.
“Sorry Bang, mulut suka keceplosan,” kata Yga tak enak hati karena hampir keceplosan, “Ya udah Bang, sana pulang. Gapapa aku kerja sendiri, sana pulang. Ada Nasya dan anak anak yang udah nunggu, sana pulang.” Ujar Yoga mempersilahkan.
“Kamu ngusir aku dari kantor ku sendiri!” ucap Adnan semakin mendelik.
“Au ah, serba salah. Aku keluar lagi deh kalau gitu!” kata Yoga dengan ketus, lalu ia segera keluar kembali.
...~To be continue .......
__ADS_1