
...~Happy Reading~...
Melihat Ryana yang terus menangis karena bentakan dari Adnan, membuat hati nasya semakin terasa perih. Ia pun berniat untuk memeluk Ryana dan memberikan ketenangan pada nya. Namun ternyata, tanpa di duga, Ryana malah mendorong tubuh Nasya hingga terjatuh ke lantai, karena posisi Nasya yang berlutut di depan Ryana jadilah dirinya mudah tumbang.
Brukk!
“Ryana, Daddy bener bener sudah gak ngerti dengan kemauan kamu!” geram Adnan mengepalkan tangan untuk mencoba meredam emosi nya, “Minta maaf sama kak Nasya!”
"Gak mau!" tolak Ryana dengan keras.
“Mas Adnan, aku mohon keluar lah. Jangan membuat ku semakin sulit,”pinta nasya menatap Adnan dengan penuh permohonan.
“Kak Nasya juga keluar! Ryana gak mau ketemu sama kakak lagi!” teriak Ryana terisak dan langsung menatap marah pada Nasya.
“Daddy, kak Nasya. Ryana, ... “ panggil Ryan yang mendengar suara kegaduhan dari kamar saudara kembar nya, akhirnya ia penasaran dan menghampiri kamar Ryana. Dan ternyata benar adanya, Ryan melihat ayah nya tengah memarahi Ryana, di tambah kini posisi Nasya masih terduduk di lantai di depan Ryana dan ayah nya berdiri di antara kedua nya.
“Kakak kenapa?” tanya Ryan langsung berlari menghampiri Nasya.
“Ryan, kembali ke kamar kamu!” usir Adnan kepada putra nya.
__ADS_1
“Gak bolehh!” seru Ryana tiba tiba, “Ryan disini. Daddy yang keluar sama kak Nasya!”
“Ryana, dengerin kak Nasya dulu Sayang. Kak Nasya—“
“Ryana gak mau ketemu sama kak Nasya lagi. Ryana benci sama kakak, Ryana gak mau lagi sama kakak!” kata Ryana di sela isak tangis nya.
Deg!
Seketika itu juga Ryan yang tadi sempat bingung, langsung menatap ke arah adik nya, “Apa maksud kamu Na!” tanya Ryan dengan nada tak suka.
“Ryan, kak Nasya itu jahat! Dia mau menikah sama Daddy. Ryana gak mau! Kak Nasya itu cuma pembantu disini, Ryana gak mau punya Mommy pembantu!” jelas Ryana panjang lebar masih sambil menangis.
“Ryana akan berhenti kalau Daddy dan kak Nasya pergi dari sini. Pergiiii!” teriak Ryana yang semakin menjerit dalam tangisan nya.
“Oke, kakak pergi!” kata Nasya pada akhirnya ia mengalah. “Kakak pergi ya, tapi kakak mohon, jangan marah marah lagi, jangan menangis lagi. Kakak tidak akan menjadi mommy nya Ryana. Jadi Ryana tenang ya, ” ujar Nasya menahan tangis nya dengan masih tersenyum kepada Ryana.
“Kak! Nasya!” seru Ryan dan Adnan bersamaan.
“Kakak sayang banget sama Ryan dan Ryana. Sampai kapan pun, boleh ya kakak meluk Ryana, untuk terakhir kali nya,” kata Nasya meminta izin, namun Ryana hanya terdiam dan sesekali menghapus air matanya sendiri.
__ADS_1
Nasya pun langsung memeluk Ryana dengan cukup erat, menumpahkan semua tangis nya, “Ryana sudah besar, jangan lupa belajar dan makan yang banyak yah. Jaga kesehatan, maafin kak nasya kalau sudah buat Ryana sedih,” gumam Nasya terisak.
Ryana tidak memberontak ketika di peluk oleh Nasya, namun ia juga tidak membalas nya. Setelah melepaskan pelukan dari Ryana, Nasya pun beralih dan memeluk Ryan.
“Ryan, kamu laki laki, harus bisa jaga adik nya ya,” kata Nasya tersenyum lalu melepaskan pelukan nya.
“Kakak gak beneran mau pergi kan?” tanya Ryan dengan berat hati, namun Nasya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Ryan.
"Sya, kita bisa bicarakan baik baik. Jangan ambil hati, aku mohon," ucap Adnan berusaha memegang tangan Nasya, namun dengan cepat Nasya menepis nya
"Sya... " desis Adnan begitu lirih dengan wajah yang begitu sendu.
Nasya semakin tak kuasa menahan tangis nya, ia pun memilih segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan langkah buru buru.
“Nasya tunggu!” panggil Adnan langsung mengejar Nasya, namun terlambat, nasya sudah sampai di kamar nya dan mengunci pintu kamar nya.
Tok... tok .. tok ....
“Sayang, buka pintunya. Nasya, buka!” Teriak Adnan terus menggedor pintu kamar Nasya hingga membuat para pekerja nya penasaran namun tidak ada yang berani keluar kamar. Mereka hanya berani mengintip dari balik jendela kamar masing masing.
__ADS_1
...~To be continue .......