
Hoem... Hoem
Kantuk melanda semua murid yang ada di kelas XI dijam pelajaran terakhir.
Angin semilir datang tiba-tiba dari arah jendela dan pintu yang sengaja dibuka lebar, hingga nyata menampakan helaian daun yang dengan bangganya menari-nari meski masih menumpang pada batang lusuh tanpa seni itu.
Sunyi senyap adalah dua kata yang cocok menggambarkan keadaan ruangan ini. Tanpa adanya kegaduhan murid nakal di kelas itu.
Sepertinya, murid-murid itu terhipnotis dengan lembutnya angin yang berhembus seperti meraba-raba kulit tubuh mereka, hingga membuat umat-umat ini tak berdaya lagi menahan hasrat kantuknya yang semakin mejadi-jadi.
Tapi itu berbeda dengan gadis yang duduk tegak nan sopan di depan meja guru.
Sepertinya semangat gadis itu tak akan pernah sirna terhalang oleh waktu.
Ia terlihat sibuk dengan buku tebal sejarah dan bolpoint warna-warninya, ia terus mencatat, mendengar guru sejarah yang bercerita panjang lebar dengan suara kecil lembutnya, yang sesekali tersedak ludahnya sendiri, suasana ini sangat amat mendukung untuk tidur siang.
Suaranya bagaikan alunan musik yang pelan tetapi perlahan mulai menganyutkan kesadaran kami.
Tapi beliau seperti tak peduli dengan keadaan anak-muridnya, guru tua itu terus saja, menceritakan kisah asal muasal agama hindu-budha di Indonesia, yang membuatku tambah mengantuk.
Aku sudah menyiapkan buku besar yang ku letakkan diatas alas kayu yang rata, untukku jadikan alas tidur.
*****
Ohh ya kenalkan
namaku Zyaed,
kata temen-temenku
aku tipe orang keras kepala, susah diatur dan maunya ngatur,
dan katanya aku ditakuti
oleh hampir semua makhluk yang ada disekolah yang berstatus sebagai murid,
tapi tak sedikit kaum hawa yang menyukaiku bahkan tak jarang dari mereka blak-blakan menyatakan cinta padaku
yang kadang membuatku risih, dan sering berpikir, apakah mereka semua engga punya harga diri?
__ADS_1
Tapi entah apa yang merasuki ku, aku sama sekali ngga percaya adanya cinta, ya masalahnya selama ini aku engga merasakan cinta yang sesungguhnya.
Tapi jangan pikir aku ini homo, aku pernah menyukai wanita, tapi selalu berujung dengan keterlambatan, selalu saja keduluan sahabatku.
Tapi satu hal yang pasti yang sudah semua orang mengerti, aku ini benci dengan orang yang bercadar. Aku anti banget dengan orang yang bercadar, menurutku dia sok alim, sok suci, sok malaikat, sok-sokanlah.
Dan parahnya di sekolah ini ada murid yang bercadar ya walapun satu.
Dia pindahan kurang lebih 10 bulan ini, tapi parahnya dia sekelas denganku.
Aku benci, aku risih, aku jijik dengan pakaiannya, meskipun dia masih pakek seragam biasa engga item-iteman, masih aja risih ngeliatnya.
Aku akui kalau setiap harinya aku pasti ganggu dia supaya dia mau pindah sekolah tapi hasilnya nihil, dia masih berani menginjakan kakinya
disekolahanku.
Kemaren aja aku habis numpahin kuah bakso dijilbabnya, tapi itu udah ngga panas kuahnya, aku kira-kira kalau mau ngerjain orang.
Tapi entah kenapa aku merasa selalu memata-matai gerak-geriknya, sampai pernah dia izin ke toilet saat jam pelajaran, aku diam-diam mengikutinya dari belakang, karena memang dia ngga pernah sama sekali izin saat pelajaran dilangsungkan.
Aku kadang berpikir, aku itu sebenarnya benci atau cinta sih?
Dan saat ini juga aku sedang menatap gadis bercadar itu yang jaraknya lumayan jauh dari bangku ku, tepatnya ada diujung belakang bagain kanan dan dia ada di bangku paling depan tepatnya didepan guru sebelah kiri.
Sesekali dia melirikku, mungkin dia merasa risih karena tatapanku, batinku, tapi ku hiraukan aku tidak peduli dan tetep menatapnya.
Hingga akhirnya tatapan itu berubah menjadi tatapan sayu, rasanya mataku tak kuat lagi menahan tangguan hidup ini.
Dan berakhir dengan kegelapan yang melayang-layang berhamburan, hingga suara guru tua itu menjadi samar samar ku dengar, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.
Aku merasa seperti sudah berada didunia lain dan ditempat itulah aku mulai membangun mimpi.
Tttett.... Tetttt.... Tetttttt
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tidak tau kenapa hari ini aku belum sekalipun menggangu gadis bercadar itu.
Rasanya seperti lagi ngga mood, tapi anehnya aku seharain ini sering menatapnya. Yang kurasa saat ini aku merasa tenang jika sudah menatapnya.
Saat ini aku ingin mengambil motorku diantara buih biuh motor yang
berjejeran, sangat rapih, hingga tidak ada celah sedikit pun yang tersisa tuk mengeluarkan motor.
__ADS_1
Aku melihatnya kesusahan mengambil motor aku berniat membantunya, tapi kuurungkan.
Aku merasa ini ada yang salah dan aku harus mengubah rasa ini. Akhirnya ku putuskan untuk mendekatinya,
ku hiraukan segala pikiran gengsi, yang penting sekarang aku ingin membantunya.
"Minggir... "(kataku sedikit kasar dengan cewek cadaran itu) tapi kenapa aku malah jadi deg-degan ya?
Astaga rasa apa ini.
Setelah mendengar suaraku aku melihat dia mulai minggir dari motornya.
Dan kubulatkan niat untuk membantunya. Aku mulai memindahkan motornya,
sesekali ku lirik dia tapi dia hanya menunduk dan diam. Setelah motornya bebas dari kepungan motor lain,
kemudian aku memutuskan untuk pergi.
"Makasih" katanya lirih.
Sebelum aku melangkahkan kakiku untuk menjauhinya. Aku dapat mendengar
suara lembut yang bukannya membuat ku tenang tapi malah membuat jantungku berlari maraton.
Dan tanpa sengaja aku melihat diriku dikaca motor yang ada di depan ku, wajahku memerah dan telingaku pun juga merah.
Akhirnya ku putuskan untuk segera pergi darinya, agar dia tak melihat keadaanku sekarang, ya tuhan malu sekali, batinku.
Dalam perjalanan pulang, suaranya masih saja terngiang ngiang di telinga dan pikiranku.
Suaranya yang lembut tak kunjung menghilang terbawa angin jalan yang ku lewati.
Pikiranku terus tertuju padanya, aku memang belum pernah melihat wajahnya,
aku hanya dapat melihat matanya yang cantik. Beraliskan tebal yang mempertajam penglihatannya, bulu matanya yang lentik
dan bola matanya yang bulat menambah kecantikan yang berada pada matanya.
Aku yakin dia pasti memiliki paras yang mengagumkan, yang mampu memberikan ketenangan dan kelembutan dari wajahnya.
__ADS_1
" Ahhhrggh.. bisa-bisanya aku malah membayangkannya, agrh.... sial " umpatnya