BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#33


__ADS_3

Setelah jenazah dikebumikan para warga yang turut serat ikut menghadiri acara pemakaman pun satu per satu mulai menghilang dari pandangan.


Sungguh memang berat yang saat ini dialami Sabrina hanya ada bibi, aku, ayah ibu, serta Ayya yang ada di sampingnya sembari menemani dan menenagkan Sabrina yang masih terus berduka atas kepergian ayahandanya.


Ibu terus mendekap Sabrina yang masih betah meraung sambil menyebut nama ayahnya di samping gundukan basah di depanku,


yang membuat semua orang yang masih di situ ikut merinding dan terbawa perasaan kepedihan yang Sabrina rasakan yang juga menghipnotis untuk semua orang yang masih disini ikut serta meneteskan air mata tak tega.


" sabar ya sayang, kamu jangan sedih terus, tante tau kamu masih berduka tante juga bisa merasakannya atas kepergian ayah mu,


tapi apa dunia kamu bakal berhenti berputar sekarang dengan melihat mu terus menangis?


Engga kan,


hidup kamu masih panjang kamu harus buktiin ketabahan dan kesuksesan mu sama ayah kamu,


walau pun ayah mu sekarang di tempat berbeda tapi tante yakin ayah kamu pasti bakal seneng klo liat anaknya tabah, sabar, dan mulai hidup bahagia seperti sedia kala," ucap ibu panjang lebar menenagkan Sabrina yang bisa membuatnya sedikit lebih tenang dari tadi.


" ayok, kita pulang, kamu harus istirahat, nak," ucap ibu yang langsung dianggukinya dari sekian kali aku mengajaknya pulang yang tadi hanya dihiraukan olehnya.


Setibanya di halaman rumah Sabrina yang terlihat sepi dengan keadaan seperti sedari tadi.


Masih terdapat meja jenazah yang masih tertera di tengah tengah ruang tamu. Karena cukup lama durasi perpamitan jenazah dan sebab banyak tamu yang datang membuat waktu pemakaman membutuhkan waktu cukup lama.


Sehingga saat ini langit mulai menggelap di atap dunia meredakan sinarnya di bumi sembari matahari pun ikut serta berpamitan tuk tenggelam di ufuk barat.


" terimakasih semuanya udah dateng, sekarang kalian boleh pulang klo mau istirahat di rumah,


atau klo mau istirahat di sini juga boleh kok," ucapnya memperlihatkan senyum sendunya.


" ibu ayah sama Ayya pulang aja,


biar kakak nginep di sini dulu ya bu,


kakak mau nemenin Sabrina,"


ucapku meminta semuanya untuk pulang.


" kamu pulang aja Zaed,


aku udah ngga apa apa kok,


lagi pula aku tau tadi malem kamu ngga tidur kan buat nemenin aku,


jadi lebih baik kamu istirahat di rumah sekarang,


kamu masih boleh kok datang kesini besok," ucapnya begitu tenang.


" aku ngga tega Sab,

__ADS_1


masak aku ninggalin kamu sendirian,"


ucapku beneran ngga tega melihat raut kesedihannya yang masih tertera jelas dalam mimik wajahnya.


" aku ngga papa kok,


lagi pula disini juga ada bibi,


aku ngga sendiri kok, kamu pulang aja lagian ngga baik kamu disini terus dengan status kita yang bukan mahrom,"


ucapnya yang membuatku mengalah dan mengganguk menyetujui ucapannya.


" yaudah klo itu mau kamu, klo ada apa hubungin aku ya, jangan segan segan,


ayah masrahin kamu sama aku, jadi klo ada apa apa jangan sungkan telpon aku,"


ucapku tulus yang dianggukinya.


" yaudah kita pulang dulu ya sayang, kamu jangan lupa makan terus istirahat,


minta tolong jagain Sabrina ya bi,"


ucap ibu memulai pamitan.


" iya bu," ucap bibi.


Setelah itu kami putuskan buat pulang dan istirahat di rumah karena sedari pagi hingga sore ini kami terus berada di pelayatan


aku takut deh klo ditinggalin ibu sama ayah, Ayya pasti ngga bakal kuat,"


ucap Ayta terlihat sedih di mimik wajahnya.


"...makanya kamu doain yang terbaik buat ayah sama ibu, "


ucapku yang diangguki Ayya dan ku tepuk lembut kepalanya.


" yah, bu, klo kalian dapet mantu yang janda gimana?"


ucapku yang seketika membuat kaget ayah yang langsung mengerem mendadak mobil yang lagi dikemudikannya.


" apa kamu yakin Zaed? " ucap ayah langsung menengok ke arahku.


" hmm yakin yah, Zaed sayang cinta sama wanita itu, jadi Zaed bakal menerima segalanya pada dirinya," ucapku mantap.


" apa kamu ngga nyesel ngga ngerasain itu nantinya,"


ucap ayah ngga kira kira padahal kan ada Ayya, yang sudah pasti langsung dihadiahi cubitan dari tangan mulus disampingnya, ya sapa lagi klo bukan ibu.


" pertanyaan macam apa itu, sih yah? Ambigu deh,"

__ADS_1


ucapku kesal mendengar ucapan ambigu ayah yang sudah pasti satu arah tujuan, emang dasar ayah tuh mesumnya udah ditingkat paling polll teratas.


" apa kamu ikhlas menerima status nya?" ucap ibu yang ku angguki mantap.


" aku ikhlas menerima status sekaligus anaknya," lanjutku yang langsung mendapat pelototan semua umat yang ada di dalam mobil.


" dia udah punya anak Zaed?"


ucap ibu tanpa embel embel nak, kak, sayang, yang pasti dengan panggilan langsung namaku menunjukan keseriusan ucapan di wajahnya.


" i..iya bu," ucapku gugup ketika mendengar ketegasan balasan ibu.


" apa wanita itu Silla?" tanya ibu yang kesekian kalinya ku angguki.


" klo ibu sih setuju setuju aja,


silla anak yang baik,


ibu nurut sama kamu aja, ibu percaya sama pilihan kamu," ucap ibu yang membuatku sedikit lega dan bahagia


" klo ayah gimana?" ucapku.


" apa kamu yakin? siap ngga bakal ngerasain wanita yang masih gadis,"


ucap ayah masih aja nyambung yang tadi. hadehh...ayah...


" A...ayah apaan sih,


tanya yang bermutu dong yah"


ucapku seketika jadi gugup,


ya sejujurnya wajar lah seorang pria menginginkan wanitanya masih gadis,


tapi apalah dayanya jika tuhan memang sudah menggariskan wanita yang masih gadis bukan jadi jodohku.


" yaudah deh, ayah nurut aja, pesan ayah klo kamu yakin dengan dirinya jangan buat wanitamu kelak sedih karena sikap penyesalan akhir mu padanya, jaga kepercayaan untuknya,"


ucap ayah yang terdengar bijak walau diotak mesumnya ayah tetap lah menjadi pria penasihat terbaik ku. yang kadang membuatku bangga, ehe


Sesampainya di rumah, ku bersihkan tubuhku yang sangat capek dikamar mandi setelah itu barulah makan dan mempersiapkan diri buat tidur malam.


heyheyyheyy..


ku ingatkan sekali lagi


jan lup like vote and comment.


dan selalu dirumah dan jaga kesehatan

__ADS_1


tqtq😁


__ADS_2