
Setelah kejadian kemarin, sampai saat ini aku belum melihanya. Bahkan saat ini dia tidak masuk sekolah, karena tadi sempat ku tunggu dia didepan gerbang sekolah.
Jujur aku penasaran mengapa dia tak berangkat sekolah. Karena penasaran akhirnya aku ingin menanyakan kepada kepala sekolah itu yang menurutku dia pasti mengetahui mengapa gadis itu tak berangkat sekolah.
Ku langkahkan kakiku didepan ruang kepala sekolah, ku beranikan diri untuk menanyakannya. Ku ketuk pintu ruang kepala sekolah,
Ku lihat pria itu tengah sibuk dengan beberapa lembar di depannya dan setelah diizinkan masuk ku langahkan masuk ke dalam ruangan yang hanya terdapat kita berdua, sambil menunduk ragu atas kenekatan yang akan ku lakukan.
"Pak, disini saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah boleh saya mengangu waktu anda sebentar pak?" tanyaku yang ku usahakan sesopannya.
"Iya, silahkan," katanya dengan ramah, disertai senyuman, yang menambah ketampanan pria yang menjadi idaman semua murid wanita di sekolah ini.
Walapun pria itu sudah berumur 30an bahkan sudah mau mencapai 40 tahun, tapi ketampanannya tak sirna kemakan umur
"Apa bapak mengetahui, mengapa gadis yang bercadar itu tidak masuk sekolah?" tanyaku yang ku pelankan sedikit.
"Ohh, Mengapa kau tanya kepadaku? "
Aku tersenyum remeh mendengar perkataan kepala sekolah tua itu,
" Aku sudah tau hubungan kalian, kemarin aku memergoki kalian perpelukan dengan mesranya, " kataku percaya diri.
__ADS_1
"Kamu sudah tau hubungan kami? Baguslah kalau kamu sudah tau, memang kami menyembunyikan rahasia ini karena permintaan silla, supaya dia tidak dibedakan disekolah ini. Masyila sudah pergi, ia mendapat beasisiwa sekolah Mesir, tadi pagi dia sudah terbang ke Mesir, " jawabnya ramah.
Jelbb,
aku kaget dengan kenyataan bahwa Silla sudah pergi jauh dariku, hatiku sakit saat mengingat hinaan yang telah ku lontarkan kemarin.
"... anakku sekarang sudah pergi, apakah ada yang ingin disampaikan? Biar bapak yang sampaikan, " lanjutnya.
"Maksudnya? Apa mungkin hubungan bapak dan silla itu ayah dan anak? ," tanyaku dengan bodoh yang masih belum paham yang telah dibicarakan pria tampan didepannya.
"Memang iya, kamu pikir hubunganku dengan silla sepasang kekasih? Hahhaaa ngga mungkin saya yang tua berpacaran dengan anak SMA,
Ohh ya ini surat titipan dari silla, sepertinya orang yang dimaksud tau hubungan kami itu kamu to, ini surat titipannya.. " Ucapnya sambil mengulurkan lipatan surat kepadaku yang langsung ku terima dengan tatapan kosong.
Aku masih belum sadar atas kebenaran yang terungkap, masih tak menyangka atas omongan Pak Rahmad itu.
Pak Rahmad adalah kepala sekolah yang sekaligus ayah dari gadis itu. Aku hanya dapat menyesal dengan sikap keterlaluanku tempo hari lalu. Lidahku kelu, sulit rasanya untukku sekadar melontarkan sepatah katapun.
Ku lihat dari tikah baik Pak Rahmad padaku, kuduga jika gadis itu belum memberi tahukan kepada ayahnya hinaanku tempo lalu, aku tidak habis pikir apa yang terjadi jika ayahnya tau atas apa yang ku perbuat kemarin, mungkin lelaki itu akan memukulku habis-habisan.
Karena sebaik-baiknya orang, jika orang kesayangannya disakiti, apalagi yang disakiti anak perempuannya pasti tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Selama ini ternyata tebakan ku salah, ku ceritakan semua tebakanku yang salah kepada pria Pak Rahmad tapi nyaliku ciut untuk menceritakan hinaanku kemaren.
Tanggapanya hanya senyum dan tertawa saat aku mendengar ceritaku yang mengira dia pacarnya gadis bercadar.
Siapa yang tidak akan berpikir begitu?lelaki yang ada didepanku saat ini dengan umur terlihat 30\-an dan seperti pria lajang yang belum memiliki pasangan, wajahnya yang tampan dengan brewok tipis yang menambah kesan manis bila kaum hawa melihatnya.
Jadi tak salah jika aku mengira tersebut apalagi baru\-baru ini terdengar kabar kalau terdapat sisiwi yang terang\-terangan menyatakan kekagumannya pada Bapak Kepala Sekolah didepanku ini.
Setelah pengakuan itu, akhirnya aku meminta maaf, yang langsung dimaafkan tanpa pikir panjang. Dia hanya berpesan agar aku lebih dulu mencari bukti sebelum mempercayakan sesuatu.
Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. Tak kuat lagi aku menahan sesak didada atas kesalahanku, tangisku sudah tak kuat lagi ku tahan, dan akhirnya ku langkahkan kaki ku menuju tempat sepi untuk menenangkan diri.
"Tuhan bodohnya diriku, apa yang sudah aku lakukan padanya," teriakku. Tagisku pecah, mataku tak kuat lagi menahan bendungan airmata yang sudah ku tahan sejak tadi. Tanganku tak kuasa untuk tak mencengkram rambutku dengan kuat, hingga kakiku pun tak kuat lagi menopang tubuhku. Hingga akhirnya aku hanya bisa terduduk lemas di atas rerumputan tanpa alas.
"Argghh.... "teriakku frustasi.
Ku buka lembaran kertas yang dititipkannya kepada Pak Rahmad. Kertas kecil, dengan tekukan sempurna membuat kesan rapih untuk sang pengirim. Di ujung kertas itu tertera merek SIDU.
Ku buka lipatan demi lipatan hingga tertera tulisan rapi nan cantik menjadi pembuka yang menarik pembaca untuk membaca. Sebelum ku baca tulisan itu, kulihat namanya yang menarik diriku untuk membaca lebih dahulu yang berada diujung kanan bawah ditambah emot senyum yang membuat hatiku tambah menyesal atas apa yang telah ku lakukan.
__ADS_1