
Kulangkahkan kakiku menuju hamparan lapang hijau, yang ada di dekat perumahan yang pernah ku kunjungi dengan Silla dan Rasya sewaktu dulu.
Matahari yang menampakan dirinya di ufuk timur, telah menyinari dunia yang pas tak berlebihan. Tetesan demi tetesan keringat mengalir disekujur tubuh ku.
Bersamaan hembusan angin meraba-raba lapisan kulit, tatapan yang tak kuat tuk tidak ku pejamkan ke arah terik matahari yang bersinar terang bagaikan raja semesta yang seakan tak peduli kesedihan rakyatnya dengan tetap memancarkan pancaran sinar kebahagian pagi ini.
Pancaran sang surya menemani ku ditengah-tengah proses pengisian energi, yang telah terkuras habis setelah berlari pagi hari ini, ku tegak habis air mineral yang terbungkus didalam sebuah botol transparan yang tertuliskan tupperware.
Ku luruskan kakiku, ku lepas kain panjang disepatuku, ku tarik keluar dari lubang ke lubang hingga sampai ikatan itu terlepas, dan membuatku mudah membebaskan kaki kiriku untuk merasakan dunia luar yang amat sejuk nan rindang, begitu pula perlakuan samaku pada kaki bagian kanan.
Setelah melepaskan benda yang bernama sepatu, kemudian kusenderkan tubuhku pada pohon besar yang pas sekali menghadap sungai, semilir angin berhembusan lembut menggoyangkan baju kebesaran yang ku kenakan pagi ini, sayup-sayup angin dengan manjanya mengajak segerombolan daun beserta ranting bergoyangan kekanan kekiri tanpa adanya rasa malu.
Hari ini aku sengaja cuti buat mengajar, untuk menemani kedua buah hatiku di rumah. dan sengaja buat ku habiskan tuk menenanangkan hati dan sekadar melupakan atas kejadian menyedihkan. Kejadian dimana sampai saat ini belum ada akhirnya, belum ada ujungnya, dan para polisi pun belum menemukan istriku yang membuatku hampir menyerah.
Ku harap elusan angin yang lembut ini juga dapat menerbangkan segala bayang-bayang mengerikan sekaligus menyedihkan beberapa puluhan jam yang lalu. Bayang-bayang abstrak tak kasat dalam bayangan retina itu bukanlah berbentuk soal pitagoras, logaritma, ataupun susunan deret geometri yang sungguh menantang tapi dapat dipecahkan dengan rumus dan kemauan.
Selama ini bayang bayang itu terus saja berkeliaran dalam pikiranku, bak hantu yang terus menerus menghantui hidupku.
Bayang bayangnya itu terus saja terngiang dalam setiap langkah yang ku coba tapak dalam setiap alur aktivitas ku, ku akui kejadian itu membuat kesan tersendiri dalam hidupku.
Harap melupakan, tetapi malah meninggat kembali, yaitu peristiwa dimana wanita yang menjadi sangat ku cintai telah meninggalkanku seorang diri di dunia yang luas dan penuh keasingan ini.
Wanita itu dengan teganya meninggalkanku tanpa sepatah perpisahan, dan entah dimana tubuhnya sekarang..
Hatiku yang semula baik baik saja seketika pecah tanpa permisi hingga diri ini tak tau akan kapan terobati. Mungkin obat dari dokter spesialis sekalipun tak kan mampu mengobati hatiku yang telah hancur dengan sekejap itu.
Duniaku rasanya sudah berhenti berotasi, hanya tinggal menunggu waktu saja mungkin bumi kan berhenti berevolusi.
Kiamat, mungkin satu patah kata yang tepat yang kurasa saat ini, memang bukan sebuah goncangan bumi seperti di surah al zalzalah. Bukan juga seperti anai-anai yang berterbangan pada surah al qari'ah. Tapi kiamat yang ku rasa saat ini ialah kiamat batin, kiamat yang mengoncangkan jiwa ragaku hingga aku lemas tiada tau apa yang akan ku lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Waktu untuk melupakan sosok wanita yang kerap menjadi sandaranku selama ini, aku tak tau. Apakah diriku mampu untuk melupakannya? Apakah aku mampu mengidupi dan membesarkan kedua buah hatiku tanpanya? Pertanyaan semacam itu terus saja terngiang dilubuh hatiku.
Dia bagaikan malakait hidupku yang menjadi penguat, penopang, penyemangat dalam hidupku, aku putus asa bagiku dia telah menuju kepada Tuhan yang maha kuasa, dan meninggalkanku seorang diri tanpa permisi.
Ku pejamkan mata ini, dengan bendungan kesedihan yang perlahan membatu di relung hatiku. Bahkan setetes airmata ini tak mampu tuk ku tahan, saat ini aku terlihat berubah menjadi sosok lelaki cengeng menyedihkan.
Pertahanan ini mulai runtuh, airmata yang ku bendung sejak tadi tak terkira menetas lagi, aku sudah tak kuat.
Ku keraskan suara tangis agar diriku merasa lega, ku hiraukan keadaan disekitar situ.
Ku tarik kedua kaki ku, ku lingkarkan tanganku menjadi sebuah pelukan pada diri sendiri, ku tenggelamkan wajahku diantara pelukan kaki dan tangan. Ku rengkuh tubuhku dengan kuat agar sakit yang kurasa dapat dirasakan juga pada tubuhku. Batinku telah hancur, apakah aku juga harus menghancurkan jiwa ini tuhan, agar aku bisa bersama istriku?
Pikiranku melayang, kurasa aku sudah gila, aku sudah tak kuat atas cobaan yang tuhan berikan. Ku tegakkan tubuhku, ku lepas ikatan pelukan kedua kakiku, ku angkat kepalaku, ku tatap dengan sendu sungai yang ada di depanku. Aku memutuskan tuk menyudahi hidupku dengan segala pertimbangan biarkan aku ikut bersama mu sayang.
Ku mencoba berdiri dengan tangan yang menopang sebuah pohon yang telah ku jadikan sandaran tadi. Setelah badan ini tegak, ku langahkan kaki ku dengan gontai menuju hamparan sungai yang luas, yang kerap dikatakan oleh orang-orang jika sungai itu sangat dalam.
Pikiran ku kacau, mataku lurus tertuju pada air yang sangat melimpah di depanku. Ku buat raut wajah senang, yaa memang seharusnya aku senangkan?
Satu langkah saja kaki ku sudah dapat menyentuh air dingin yang ada kolam besar itu, sebelum ku langkahkan, ku pejam mata ini ku katakan dalam hati :
"Tuhan maafkan aku. Aku sadar akan kesalahan yang akan ku lakukan saat ini. Untukmu malaikat maut, cabutlah nyawaku mudahkan lah diriku tuk bertemu pasangan ku, yang akan selalu ku rindukan selama hidup di dunia ini.
Sayang, apakah kau bahagia dengan yang ku lakukan saat ini? Sebentar lagi Mas akan menemuimu, dan kita dapat bersama disana, "
tak kuat mata ini tuk membendung airmata dalam keterpejaman.
Ku lentingkan tubuhku ke depan, ke lemaskan tubuhku di depan sungai ini. Air melimpah didepanku saat ini mungkin akan menjadi saksi bisu atas kepergianku.
Sebelum tubuh ini terjatuh dalam air, ada tangan kuat yang mencengkalku. Ku tolehkan kepalaku kepada sang empu yang menarik tubuhku menjauh dari sungai.
__ADS_1
"Kau siapa? Berani-beraninya mengganguku, pergi kau!!! " usirku tegas pada wanita asing yang terlihat seumuran dengan ku.
"Maaf atas rasa keterganggunya dirimu tuan, atas ulahku. Tapi apa yang akan tuan lakukan di sungai itu? Kata orang-orang disini sungai itu sangat dalam. Bagaimana jika tadi tuan tenggelam disana saat tidak ada orang yang dapat menolong anda, tuan?" ucap lembut wanita di depan ku.
"Memang kenapa nanti kalau aku tenggelam terus mati? Dia sudah meninggalkan ku, istriku telah meninggalkan aku,
aku...aku ingin mati saja, aku ngga kuat hidup tanpanya,"
ucapku lirih dan ku tundukkan pandanganku dan kembali menangis.
"Apakah tuan yakin setelah anda meninggal, anda akan bertemu kembali dengan istri anda? Apakah anda yakin istri anda, tidak kecewa atas apa yang akan anda lakukan? Apakah anda tidak takut akan siksaan Tuhan karena menantang kematian? Tolong pikirkan dan renungkan tuan, aku yakin anda bisa memutuskan sesuatu yang benar, " ucap wanita itu dengan penuh penyemangat dan ketenangan yang membuat pikiran ku menjadi jernih kembali.
Wanita itu ku lihat akan melangkahkan kakinya tuk meninggal ku, sebelum itu ku tanyakan padanya.
"Apakah kita bisa berkenalan?"tanyaku yang hanya mendapat anggukan dan senyum manis yang terukir pada bibir wanita itu.
" Siapa namamu?" tanyaku padanya.
" Diana, nama anda tuan?" tanyanya padaku.
" Zaed, kita bisa bicara formal saja?" tanyaku yang dianggukinya.
" terima kasih Diana, kamu sudah membuka jalan pikiranku, mungkin kalo tanpa ada kamu aku udah hanyut sia sia di sungai......" ucapku berterimakasih dengan wajah yang masih sembab.
" iya enggapapa, boleh minta nomor mu? Barangkali kalo kamu kesepian aku bisa temani..." ucapnya sambil menyodorkan hpnya yang langsung saja ku isi angka angka di dalamnya.
" ohh ya maaf ya aku harus pergi, soalnya aku udah di tunggu Bunda di rumah, byee..." ucapnya meninggalkanku tanpa salam, kalo dari penampilannya dia sepertinya kurang paham betul agama tapi aku sangat yakin dia orang baik. Jangan menjudge orang lain dari penampilannya saja.....
Setelah kepergiannya, ku menatap ke atas yang terdapat seperti gumpalan kapas bergaris biru yang menambah ketenangan, aku senyum, ku katakan dalam hati.
__ADS_1
" Sil, aku tidak bisa menyusul kamu hari ini, mungkin suatu saat nanti jika waktunya sudah tiba kita akan bersama lagi, untukmu malaikat maut maafkan diriku yang plinplan ini, mungkin saat ini waktunya belum tepat untukku bertemu dengannya, ku titipkan pesanku kepada Mu Tuhan, ku mohon jaga istriku dimana pun sekarang dia berada, di dunia ataupun telah tenang di sisi Mu, dan kuatkan cintanya untukku, agar dia tak mudah tuk melupakanku.
Sayang, aku berjanji aku akan menjaga dan mendidik anak anak kita sebaik baik yang dulu kau pintađź’“"