
Siang yang cerah ikut menyambut bahagia ku yang telah ku tunggu sedari kemarin.
Matahari yang telah menampakan sinar terang benderangnya sedari tadi menambah semangat dan energi untuk menjalani hari ini dengan penuh senyuman dan kebahagian.
Gimana aku ngga bahagia kalo aku sekarang udah sampai di kota yang calon mertuaku tinggal, eyakk.
" Bu, kakak udah sampai dengan selamat dan aman," ketiku di salah satu aplikasi chat di gawai.
Berhubung ayah udah berangkat dari tadi jam tujuh terus Ibu sama Ayya yang lagi ngambil raport, ya jadilah aku harus berangkat sendiri tanpa di antar siapa pun, makannya aku harus mengabari ibu ku yang di kota tanah lahirku kalo aku sudah sampai di kota ini dengan selamat sentosa untuk menghantarkan segala ketenangan untuk ibu.
Berhubung jarak kotanya cukup dekat jadilah hanya beberapa menit saja aku sudah sampai.
Sekarang aku sudah berada di dalam mobil Rifqi karena sedari tadi saat pulang ternyata dia sudah menunggu ku.
“ kamu beneran suka ama adek gue?”
tanya Rifqi yang fokus mengemudi ya dia emang udah aku kasih tau kalo tujuan aku tuh pengin minta restu sama ke dua orang taunya.
“ya benerlah bang,” ucap ku tanpa malu.
“ bang????” tanya nya yang terlihat aneh dengan sebutan baru ku, karena biasanya aku Cuma pangggil dia Rif aja ngga pakek embel embel bang.
“ iya..kan, kan lu lebih tua dari gue lagi pula lu kan calon ipar gue,” ucapku yang malah terbawa suasana jadi pakek lo gue.
“ hmmm….aamiin….lah adek ipar,”
ucapnya yang terdengar ragu tapi ngga ku pikirkan terlalu keras mungkin dia cuma belum terbiasa aja dengan panggilan sayang ku, eehmm mungkin.
“ ini kita mau kemana Zaed, ke rumah ku? Ke rumah orang tuaku? Atau ke hotel?” tanyanya.
“ langsung ke rumah orang tua abang aja. Aku pengen segera menyelesaikan tugasku terus menjemput Silla Bang, kalo nanti di izinin, ehheehee,” ucapku tanpa malu, buat apa malu klo malu ngga ada hasilnya batinku.
“ okelah adek ipar,” ucap Rifqi dengan senyum semagatnya.
Dan akhirnya sampailah aku di kediamanan orangtuanya, halamannya yang luas dengan di penuhi berbagai macam tanaman menambah keasrian bangunan tersebut.
Rumahnya yang tidak terlalu besar namun terlihat cantik, sederhana, bersih dan nyaman paket kompit dehh.
“Ku tak menyangka, setiap jejak hidup telah ratusan kali ku lewati selama delapan tahun ini akan ku rubah hari ini juga,” batinku tak menyangka karena ini hanya lah seperti mimpi.
__ADS_1
Dan sungguh dada ini bergemuruh karena takut akan terjadi sesuatu di luar rencana tapi seketika ku positifkan lagi untuk segala yang akan terjadi.
Mungkin begini ya, rasanya orang orang kalo ingin melamar, tapi bedanya aku hanya sendiri, dan calon ku juga berada di kota yang berbeda, tanpa kesepakatan kedua belah pihak, mungkin akan mengagetkan seluruh anggota keluarganya tapi terkecuali Rifqi yang udah aku kasih tau terlebih dahulu.
Ku kuatkan niat dan mental ketika Rifqi sudah mengetok pintu rumah kediaman orang tuannya.
“ lhoo sayang mana Annisa?” ucap perempuan yang sudah tak muda lagi tapi masih terlihat kecantikannnya, yang ku duga itulah Ibunya, yang lansung aku dan Rifqi salami.
“ ini siapa?” tanya calon ibuku itu lagi ketika melihatku.
“ Annisa di rumah bu, ini Zaed temenku,” ucap ibu.
“ lhooo kok nak Zaed udah di sini aja, yaudah ayok masuk masuk pasti capek kan?”
ucap ibu yang malah membuatku binggung kenapa dia udah tau aku.
“ sorry Zaed gue udah bilang maksud kedatangan lo,” bisik Rifqi ketika kami mulai memasuki rumah.
“hmm makannya,” ucapku yang malah di balas cengiran kudannya.
Sesaat ku edarkan dalam bangunan dalam nya yang sangat bersih dan rapi pernak pernik tertata sangat rapi di dalam lemari yang cukup besar yang juga berisi banyak buku buku besar.
" ayoo silahkan duduk, ibu tinggal ke dapur dulu ya, kamu bisa liat liat foto yang di album yang emang disediain buat tamu klo bosen, ibu tinggal di dapur dulu ya..." ucap ibu.
"iya bu," ucapku sopan diiringi senyuman yang langsung meninggalkan ku dan Rifqi.
" Zaed gue toilet dulu ya, lo boleh kok liat liat gambar yang ada di album itu klo bosen, bentaran yak..."
ucapannya yang kuangguki yang langsung meninggalkan ku sendiri.
Aku langsung aja membuka lembaran demi lembaran foto foto yang terdapat di album itu yang sedari tadi membuatku penasaran.
Terlihat lah masa kecilnya Rifqi dan Silla yang sungguh mengemaskan yang terlihat berusia 5 tahunan, tapi sayangnya ngga ada foto Silla waktu Sd, SMP, adanya hanya waktu SMA tapi dia saat sudah bercadar.
Sampailah di foto bagian terakhir yang tertulis Ramadhan 2019 tepatnya Ramadhan kemarin ku lihat keluargannya sangat serasi dengan balutan pakaian yang sama dengan model yang di buat berbeda.
Tapi tatapan ku malah jatuh di bayi yang ada di gendongannya Silla, yang masih terlihat sangat kecil, saat ku amati ternyata rupa bayi itu sama hal nya dengan foto yang ada sebaliknya yang bertuliskan
"cucu pertamaku, Rasya sayang"
__ADS_1
mungkin itu anak nya Annisa dan Rifqi pikirku.
Hingga akhirnya tibalah ketiga orang yang membuatku menyudahi memandangi isi album foto itu.
" Assalamualaikum Pak Rahmad bagaimana kabarnya?" ucapku berjalan menyapa dan menyalaminya.
" Walaikumusalam, alhamdulilah baik baik, yuk silahkan duduk,"
ucapnya masih terlihat ramah.
Ternayata Pak Rahmad masih seperti dulu masih terlihat wajahnya yang gagah dan tampan sangat serasi dengan istrinya yang berada di sampingnya yang sangat cantik dan terlihat muda.
Semoga besok aku kan Silla bisa seperti pasangan kedua orang tuaku dan kedua orang taunnya yang tampak masih serasi walaupun sudah termakan usia.
" Gini pak, jadi maksud saya di sini untuk silaturahmi dan saya ingin meminta izin bapak untuk menikahi anak bapak yang bernama Silla,"
ucapku sopan to the point.
" Bapak selaku orang tuannya Silla tidak memiliki hak memberikan izin, saya pasrahkan segalanya kepada anak putri saya," ucap Pak Rahmad.
" baiklah Pak, jika berkenan disini saya ingin meminta nomer telepon Silla untuk menghubunginya karena setelah ini jika saya di izinkan saya ingin menemuinnya di kota, dan saya juga sudah memesan tiket keberangkatan sekitar jam empat an nanti untuk menemui Silla, " ucapku sungguh sungguh.
" apa kamu ngga capek nak, Zaed? Kamu baru saja sampek mau terbang lagi?" ucap ibu Silla.
" insyaalah engga bu, saya ingin segera menyelesaikan tugas sata hari ini," ucapku sopan.
" Baiklah saya izinkan kamu menemui anak saya, biarlah Rifqi mengirim nomer adeknya ke kontak kamu nanti,"
ucap Pak Rahmad yang membuatku senang bahagia.
" alhamdulilah...makasih ya Pak," ucapku begitu senang mendapat kemudahan jalan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Terima kasih udh nyempetin baca, jangan lupa vote, like, and comment.
+ jangan lupa sesering mungkin cuci tangan, jaga jarak, dan...
#dirumahaja
__ADS_1
#stay at home