
Hari ini aku berangkat sekolah sangat-sangat kesiyangan dari biasanya, gegara aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis bercadar, yang membuat ku tidak bisa tidur dan paginya ibu kualahan membangunkanku dan berakhir aku dibiarkan tidur sampai aku bangun sendiri karena memang ibu sudah tau aku sudah UN dan hanya menunggu hasilnya saja di sekolah.
Biasanya sih kesiangan juga, tapi aku masih bisa melewati pelajaran pertama, kalau hari ini aku sudah meninggalkan 3 pelajaran pertama \+istirahat pertama.
Tadinya mau bolos, tapi karena hari ini ada pengumuman beasiswa kuliah membuatku kepo dan berangkat.
"Kali aja aku terdaftar, ngga ada yang ngga mungkin kan?" Pikirku konyol, membuatku cengengesan.
Saat ini aku melewati gerbang belakang sekolah, ngga mungkin kan kalau telat lewat depan sekolah karena sudah pasti aku akan diusir.
Dengan langkah hati-hati dan jalan mengendap-endap, saat akan melewati ruang kepala sekolah yang berada pada ruangan paling ujung belakang, walaupun memang keadaan disitu sepi, tapi harus tetap jaga-jaga agar tidak ketahuan.
Terkejutnya aku saat melihat gadis bercadar yang berpelukan mesrah dengan pria 30-an dengan wajah awet muda yang masih memacarkan aura ketampanannya, dengan status kepala sekolah.
Lelaki itu sesekali mengelus dan mencium keningnya. Hatiku saat ini sakit melihat dia berpelukan dengan cowok lain, sesampainya di kelas banyak anak yang menanyakan kenapa aku baru berangkat namun ku abaikan, ku terus berjalan mengarahkan kakiku di bangku paling belakang yang masih kosong tanpa adanya sesoeorang yang menduduki,
meski ada sadar terdapat tas yang aku paham tas itu milik gadis yang ku benci. Aku tidak mempedulikan tas itu, yang penting aku sekarang pengen duduk dan tiduran di meja untuk menenangkan amarah dan pikirakanku saat ini dan lupa niat awalku datang sekolah hari ini.
Tak lama kemudian datang cewek itu yang hanya diam di depan meja yang sekarang ku tempati.
Ku geserkan perlahan tubuhku menuju kursi sampingnya agar dia juga bisa ikut duduk. Setelah aku bergeser tempat, dia masih saja menunduk, yang membuatku geram, dan akhirnya keluarlah bentakan dari pita suaraku.
__ADS_1
"Cepat duduk, " perintahku.
Dia langsung saja duduk, mungkin efek takut membuat cewek itu tak pikir panjang langsung saja duduk disampingku.
"Nanti kita ketemu di lapangan sampai anak-anak pulang, aku ngga bakal nggapa-nggapain kamu, tapi kupastikan akan ngapa-ngapain kamu kalo kamu tidak datang, " ucapku sarkas.
Dan hanya anggukan sebagai balasannya. Membuatku sedikit lega melihat ada respon darinya.
Akhirnya waktu yang pulang sekolah pun tiba, sekolah, sudah dalam keadaan sepi. Dan saat ini aku duduk di pohon yang jauh darinya, tapi masih berhadapan dengan pohon yang diduduki gadis itu.
Saat mulai sepi ku arahkan dia supaya mengikutiku di belakang walapun dengan jarak yang sedikt jauh dia tetap berada di belakangku.
Akhirnya sampai di sebuah bangku yang tidak panjang, ku dudukan pantantku diujung tepi kursi, kemudian aku mengkode dia, dengan menepuk bangku disampingku agar dia mau duduk. Tapi hanya gelengan jawabannya.
Saat ini aku sudah naik pitam, karena penolakannya. Aku tak lagi bisa menahan kekesalan dan amarah yang sudah ku pendam sejak tadi.
"Hey, jangan sok alim kamu, aku hanya minta kamu duduk disini, aku ngga bakal
__ADS_1
macam macam padamu aku masih sedikit menghargai kamu, walapun kamu tidak pantas dihargai, " ucapku keras, kasar,menggelegar.
Dia tercengang dengan ucapan ku, dan hanya menunduk.
"Udahlah, ngga usah pasang muka sok polos, aku sudah melihat kelakuan mu dibelakang, aku kira kamu gadis yang terjaga,
memang aku sempat membeci cadarmu yang menurutku berlebihan itu, tapi sekarang aku mulai paham cadar yang kau kenakan,
aku paham kalau kamu hanya memasang kain itu untuk mengelabui orang lain, agar mereka berpikir kamu itu alim, agamis, baik, malaikat tanpa dosa, tapi apa kenyataannya? Heh? Munafik."
"Ternyata kamu ngga sebaik yang aku pikirkan bahkan lebih buruk dari ******* yang ada diluaran sana. Kamu tidak cocok dengan pakaian yang kau kenakan, kamu tidak pantas mengenakan pakaian itu, kamu hanya orang munafik yang menutupi aibmu lewat pakaian itu, (tunjuk ku ke arah pakaiannya) " ucapku dengan tawa remeh untuknya.
"Maksud kamu apa?" tanyanya lirih dan bergetar menandakan dia sedang menangis.
"Halah, aku sudah tau hubunganmu dengan kepala sekolah kita, aku memergoki kalian berpelukan, bahkan sampai kamu dengan rela menyerahkan keningmu untuk diciumnya. Dasar *******, dasar munafik," ucapku sangat keras di depan mukanya.
Tapi dia hanya diam, tak menjawab.
"Hey jawab *****, apa kau bisu?
Kau tak pantas mengenakan ini,"
emosiku sudah tak terkontrol saat tak ada penjelasan darinya dan langsung saja kutarik cadarnya hingga cadarnya terlepas.
__ADS_1
Jujur aku tak berniat menarik keras hingga terlepas cadarnya, mungkin karena tanganku yang tak sabaran membuat cadar itu langsung terlepas.