BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#35


__ADS_3

“…romantis ya Mas kamu,


semalaman nungguin Sabrina sampek tidur,”


ucap Silla yang langsung melengang pergi ke dapur dengan membawa bekas peralatan makan yang udah selesai di gunain tadi.


Melihat wajah masamnya membuatku gemas yang langsung aja ku ikuti dia dari belakang.


“ aku sangat mencintai kamu sayang, ngga bakal ada wanita yang dapat menggantikan kamu di hatiku,”


ucapku memeluk belakang tubuhnya dengan sesekali mencium leher jenjangnya yang tak tertutup jilbab dan terakhir akhiri ku kecup pipi kanannya yang membuat pipinya menjadi merona dan langsung meninggalkannya ke teras rumah.


Di teras bayang bayang kejadian melamarnya memutar kembali dalam rekaman ingatan ku yang membautku senyum senyum gila, monmaap zaed.


Lanjut flashback


-----------


Tok…tok…tok


Jantungku langsung berpacu dengan sangat cepat ketika pintu yang ada didepanku mengeluarkan suara.


Krieeet….


(bayangin aja ini suara pintu kebuka ya kak, ehe:)


Dan muncul lah pria yang sudah cukup tua namun masih terlihat gagah, yang langsung ku sambut dengan mencium dan menyalami tangannya dengan sopan.


“ yuk langsung masuk aja, kamu udah ditunggu dari tadi,” ajak Pak Rahmad buat masuk ke dalam rumah.


Ku dudukan pantat ku di atas sofa panjang, ku pandangi rumah ini yang sudah lama tak ditempatinya tapi masih bersih dan rapi yang ku tebak pasti ada ART yang merawat dan membersihkan rumah ini selama ngga ditempati pikirku.


“ wah nak Zaed udah datang to,


sudah dari tadi kami tunggu, akhirnya datang juga,”


ucap istri Pak Rahmad yang baru muncul dari dapur dengan senyum lembut menghias di lekungan bibirnya yang langsung ku sambut dengan menyalami tangan wanita yang sudah berumur tapi masih menguar aura cantik diwajahnya tersebut.


Aku berprinsip untuk tidak menyentuh tangan wanita yang bukan mahram tapi jika kepada yang sudah tua hatiku emang masih ragu ragu karena menurutku akan terkesan tidak sopan. Gimana nih kalo menurut kalian? berjabat tangan sama yang bukan mahram tapi udah berumur?


“ silahkan kamu duduk kembali nak,


biar ibu tinggal buatin minuman ya,”


ucapnya yang tepat berhadapan didepanku.


“ terima kasih bu, maaf malah jadi merepotkan,”


ucapku tak enak plus malu yang membuatku menundukan wajahku.


“ ngga ngerepotin kok,”


ucapnya lembut sekali kayak Silla sambil menepuk pundakku yang membuatku menjadi sedikit tidak canggung dengan perlakuan baiknya.


Setelah kepergian ibu ke arah dapur membuatku duduk hanya berhadapan sama Pak Rahmad yang membuat kembali canggung.


"Gini nih rasanya duduk berdua sama camer," batinku.


“ gimana kabar kamu dan keluargamu, nak?” tanyanya sambil menatapku.


“ alhamdulilah pak, semuanya sehat,” ucapku apa adanya.


“ hmm… maaf pak kalo boleh tau mengapa bapak menyuruh Rifqi buat menghubungi saya buat datang kemari?”


tanya ku sebenernya paham mesti ini tentang hubungan kelanjutanku dengan Silla tapi aku ngga ngerti arah tujuan pembicaraanya apa yang malah membuat Pak Rahmad senyum.


“ Silla ,”


ucap pak Rahmad sedikit keras sambil menatap pintu kamar yang ada diatas lantai yang membuat jantungku maraton ketika melihat seseorang wanita bercadar keluar dari pintu kamar tersebut yang berjalan mendekati ruang tamu.


“ iya yah, ada apa yah?”


tanyanya ketika berada di samping Pak Rahmad.


“ kamu duduk disini samping ayah,


ada yang perlu ayah bicarakan pada kalian,” ucap Pak Rahmad yang diangguki putrinya yang seketika langsung nurut duduk di sampingnya.


“ maksud saya ngajak kamu kesini buat menanyakan tentang hubungan kalian,

__ADS_1


saya panggil kalian biar masalah ini diselesaikan kedua belah pihak jadi ngga ada yang bakal menyesal dengan keputusan akhirnya, ayah pengen, hubungan kita harus tetap terjalin baik, ayah dan ayah mu Zaed kami sudah berteman lama jadi ayah mohon kita selesaikan masalah ini secara bersama dan baik baik apapun hasilnya,”


ucap Pak Rahmad yang membuat ku merasa bersalah telah membuat keadaan jadi seperti ini.


“ Maaf Pak, saya telah membuat Bapak jadi ikut memikirkan masalah ini...


saya juga minta maaf pak, sudah sangat mencintai putri bapak sejak lama...


saya juga ingin meminta maaf pak sudah lancang menyebut nama putri bapak dalam doa saya...


mungkin yang akan saya katakan akan terkesan egois, tapi saya sangat yakin ingin menikahi putri bapak,


saya juga sadar semua tak lepas dari izin anda sebagai ayahnya,


saya pasrah apapun akhirnya,”


ucapku menunduk tak berani menatap mata mantan kepala sekolahku dulu.


“ tidak masalah Zaed saya dulu juga pernah merasakan muda seperti kalian, saya dulu juga mencintai wanita tanpa adanya suatu ikatan tapi syukurlah sekarang kami telah dipersatukan,”


ucap Pak Rahmad senyum menatap istrinya yang baru saja muncul dengan nampan ditangannya.


“ udah udah jangan serius serius bicaranya, ini silahkan dinikmati nak Zaed,”


ucapnya ketika menyajikan minuman serta berbagai cemilan kering diatas meja.


“ iya bu, terimakasih,” ucapku senyum yang dibalas senyuman padanya.


“ saya ingin bertanya lagi, apa bener yang di omongin Rifqi kalian ngga jadi ngelanjutin hubungan ini?”


ucapnya yang membuatku terlonjak kaget.


“ i..iya pak, saya kemarin memang memutuskan buat ngga ngelanjutin, tapi sekarang saya mantap buat ngelajutin hubungan ini, klo Silla bersedia,” ucapku mantap.


“ Silla bagaimana menurutmu, nak?” ucap lelaki disampingnya.


“ …hmm…


apa Silla boleh tanya sama Zaed, yah?”


tanya Silla yang membuatku tambah deg-degan.


“ maaf sebelumnya Zaed,


aku telah berbohong soal suami ku kemarin, sebenarnya aku sekarang ngga ada hubungan dengan lelaki lain.


Tapi satu hal yang benar, aku memang sudah punya anak Zaed, maka dari itu aku mencari lelaki yang mau menerima aku dan Rasya. Apa kamu masih mau buat ngelanjutin hubungan ini setelah menerima kenyataan aku udah punya anak ?”


ucap Silla sangat terlihat keibuan yang membuatku tambah terpana dengan pesona akhlaknya.


“ aku mencintai kamu lama,


kamu jadi wanita satu satunya yang terucap dalam doaku,


mungkin ini jawaban dari Allah dari doaku selama ini dan aku ngga mau nyia nyiain kesempatan emas ini.


Aku bakal nerima dengan tulus Rasya,


cinta ku sejak SMA tidak akan mudah hilang cuma gegara kamu sudah menikah dan punya anak.


Aku akan melindungi kalian sebisaku jika kita telah menikah nanti. Aku akan berusaha keras buat berlaku sama dengan anak anak kita nanti.


Apakah kamu bersedia melanjutkan hubungan ini Sill?”


ucapku sesekali meliriknya.


“ Bagaimana nak, kamu bersedia ngga?” ucap ayah silla.


“ hmm..


Silla bersedia yah,” ucap Silla yang membuat hatiku hampir mau meledak bahagia.


“ alhamdulilah…”


ucap serempak terlihat sangat bahagia, yang seketika terhenti dengan ayunan langkah kaki wanita yang ada diatas tangga sambil mengendong bayi yang menangis tanpa henti.


Ooek..oek..oekk


( smph ngga tau gmn suaranya)

__ADS_1


“ ada apa kak?”


ucap Silla yang menghampiri langkah Annisa yang telah menurui tangga paling akhir.


“kayaknya Rasya haus dek,”


ucap Annisa yang menyerahkan bayi yang masih menangis dalam gendongan wanita bercadar di depannya.


“ minta tolong gedongin dulu ya kak, Silla mau buatin plus ambil susu yang tadi ketinggalan di mobil dulu ya kak,”


ucap Silla yang menyerahkan gendongan ke Annisa yang langsung berlari keluar dengan kunci mobil di gengamannya.


Aku ngga tega melihat wajah bayi tersebut yang memerah menangis dalam gendongan Annisa padahal udah dibantu nenangin sama neneknya, tapi tetap nangis kekejer.


“ kak boleh ngga aku gendong Rasya?” ucapku takut takut.


“ boleh sekali nak Zaed,”


balas nenek bayi tersebut,


yang langsung ku terima senang bayi tersebut dalam gendongan ku.


“ cup…cup,,,sayang tenang ya,


bunda kamu lagi ambilin susu di mobil,


sabar ya nak,”


ucapku mulai menghadapkan bayi dalam dadaku, yang terus ku elus pelan punggungnya, sambil terus merapalkan mantra buat nenangin bayi dihadapan ku itu, yang terbukti bayi tersebut mulai tenang.


Ohh ya aku masih ingat panggilan Silla buat bayinya dengan sebutan bunda, sewaktu kejadian pertemuan kemarin.


Bayi itu mulai tenang, ngga tau karena capek nangis apa nyaman di dekapan ku, eyak bayi aja tau tempat ternyaman :v


“ anak baik, sabar ya biar bunda buatin susu dulu ya,”


ucapku yang dibalas senyuman di bibir bayi itu, ketika melihat Silla udah kembali masuk di rumah dengan tetengan kotakan susu, yang dibalas tatapan senyum Silla dibalik cadarnya yang terlihat matanya mulai menyipit, yang malah membuatku jadi salah tingkah.


" abang baper, dek," batinku meronta ronta.


Dan setelah acara lamaran tersebut, keluarga ku dan keluarganya memutuskan buat nikahin kami seminggu setelahnya.


-------------


“ kok, senyum senyum sendiri sih, Mas?” ucap Silla yang menemuiku di teras rumah dengan bawa secangkir kopi dan mulai duduk di samping kursiku.


“ hehhe..


mas lagi seneng aja, makasih ya,”


ucapku sambil menyeruput kopi buatannya.


“ seneng kenapa hayoo?”


ucap Silla yang mulai menggodaku dengan jarinya yang mulai menunjuk wajahku yang membuatku gemas.


“ mas seneng karena jadi orang yang pertama buat Silla tadi malem,”


ucapku yang menggodanya balik.


“ mas apaan deh, jadi dari tadi mas senyum senyum mikirin hal mesum ya,”


ucap Silla yang ku angguki membuatku terkekeh gemas dengan wajah merajuknya walau dibalik cadar.


“ nanti kita jempur Rasya ya dek,”


ucapku yang membuatnya mengalihkan pandangannya kepadaku.


“iya mas, aku dah kangen banget sama Rasya,” ucapnya semangat, membuatku tambah gemas yang langsung ku cium bibirnya di balik cadarnya dan lari terbirit birit kedalam rumah.


“ Aaaaaa, mas pagi pagi udah mesum,” teriaknya berlari mengejarku ke dalam rumah, dan berakhir kejar kejaran kayak anak TK.


Makasih dah baca


Monmaap up lama, ehe


Janlup tinggalin jejak, karena gratis


wehehehee...

__ADS_1


__ADS_2