
BRAK...
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" ucap sang penganggu dengan nada marah yang telah ada diubun ubun.
" bu..ini ngga seperti yang ibu pikirkan," ucapku sembari mendekati ibu yang masih diam mematung di depan pintu.
PLAKKK...
suara tamparan ibu di pipi kiriku, yang membuat darah mengalir di sudut bibirku.
" kok ibu malah nampar aku sih, sakit tau..."
ucapku sedikit kesal karena tamparan ibu tanpa alasan dan tanpa aba aba yang membuat pipi kiriku sangat sakit.
" LEBIH SAKIT MANA DENGAN HATI IBU, MERGOKI ANAK SENDIRI ZINA DI DEPAN MATA IBU,"
teriak ibu tak kuasa tuk menahan menangis.
" bu it.." balasku yang terpotong dengan balasan pedasnya.
" Udahlah ngga usah banyak alasan kamu,
kamu ninggalin anak anak di depan sendiri tanpa ada yang ngawasin buat asik berduaan berzina dengan perempuan ******* disini," ucap ibu sangat marah sambil menunjuk Silla yang masih berbalut selimut menutupi wajah dan tubuhnya, yang membuatku paham, jika ibu salah paham.
" ibu salah paham...ini sem.." ingin ku jelaskan tapi dipotong lagi dengan ucapan ibu.
" salah paham salah paham, emang kamu kira ibu buta? hah? ibu lihat dari mata kepala ibu sendiri, ibu jecewa banget sama kamu....
ibu tau Zaed kamu kesepian dengan kepergian Silla tapi ibu mohon jangan kayak gini hiks hiks....
kalau kamu pengin punya pasangan lagi ibu ngga papa, asal kamu nikah dulu Zaed, apa sih susahnya buat nikah, ibu kecewa banget Zaed sama kamu,
__ADS_1
.....mulai sekarang ibu ngga bakal nganggep kamu anak ibu lagi, titik. Dan cucu cucu ibu bakal ibu bawa pergi, urus tuh wanita pelacurmu..." ucap ibu panjang lebar walau pun tertutup masker tapi suara ibu masih sangat keras dan jelas di sepasang telingaku.
Ibu mengenakan masker menurutku karena dia masih batuk sebab dapat ku dengar dari suaranya yang terlihat sangat serak.
Setelah memarahiku panjang lebar tadi, ibu langsung memutuskan ingin melangkahkan pergi dari kamar namun, saat dia ingin membuka pintu seketika terhenti dengan suara lembut Silla.
"Ibu..." ucap Silla yang membuat ibu berbalik dengan tatapan yang sulit di artikan mengarahkan ke arah wajah Silla yang sudah tidak tertutup dengan balutan selimut, sebab selimut itu hanya menutupi ke daerah dada kebawah saja.
" Sila?" ucap ibu sambil menatap binggung ke arah ku, yang ku balas tatapan kesal ke ibu.
" iya bu, aku Silla," ucap Silla yang membuat ibu meneteskan air mata dan berlari naik ranjang langsung memeluk Silla erat yang masih berpenutup selimut saja.
" kamu bener Silla?" tanya ibu tak percaya dan masih menangis yang membuat Silla pun juga ikut menangis.
" iya bu, aku Silla, menantu ibu," balas Silla yang langsung di peluk erat ibu lagi dengan tangis yang masih menggenang di pelopaknya.
Setelah acara peluk memeluk selesai akhirnya Silla menjelaskan seluruh kejadian yang menimpanya yang membuat perihatin sekaligus bahagia Ibu karena Silla, menantu tercantiknya kembali.
" udah jelaskan bu, jadi Silla bukan *******," tegasku masih kesal yang membuat kedua perempuan itu tertawa.
" iya nggapapa bu, aku paham kok," balas Silla sangat lembut sambil masih mempertahankan selimut untuk menutupi tubuhnya yang seketika membuat Ibu terkikik geli.
" ibu kenapa kok jadi, ketawa ngga jelas sih," ucapku binggung melihat ibu cengengesan.
" jadi tadi ibu ganggu kalian ya?" tanya ibu penasaran yang membut rona merah dikedua pipi Silla dan rona merah dipipi kiriku bekas ditamparannya.
" lah itu ibu tau, sakit tau tamparannya, nih ada darah juga, " ucapku sambil memperlihatkan darah yang ada di tanganku bekas tamparannya dipipiku.
" hehhe maaf kan lah ibu, anak tampan,
kan ibu juga ngga sengaja, sakit ya tadi,
__ADS_1
hehhe maaf ya sayang,
sumpah....tadi ibu syok banget, ibu ngga tau kalo itu Silla, kalo ibu tau ibu ngga bakal tampar kamu kayak gini," balas ibu penuh alasan.
" iyiya..makanya tadi dengerin dulu apa penjelasanku, jangan main tampar aja," ucapku masih kesal yang langsung dibalas ucapan ibu yang membuatku terbinar.
" yaudah..maafin ya.." ucap ibu sambil mengelus pipi bekas tamparannya.
" gini aja, sebagai permintamaaf an ibu,
ibu bakal jagain Rasya dan Tisya di luar, dan kalian bisa nikmati kangen kangen di ranjang, gimana mau ngga?" ucap ibu yang membuatku mengangguk semangat tapi berbeda dengan Silla yang menggeleng merona.
" ngga usah bu...kita bisa nanti nanti kok kangenannya, kasihan ibu kan masih sakit terus Rasya lagi aktif aktifnya aku ngga tega...buat Ibu kecapekan," jelas Silla yang membuatku menunduk pasrah.
" nggapapa, kalian lanjutkan acara yang tertunda kalian tadi, bunda undah ngga sakit kok,
cuma masih batuk doang, tapi udah mendingan, lagipula ibu juga bawa masker jadi ngga bakal nular ke cucu ibu, kalian nikmati aja kegiatan kalian berdua,
ada Ayya juga yang bantu ibu, tuh dia ada di bawa jadi jangan pikirin anak anak ok, serahin mereka sama ibu, selamat bersenang senang!!!" ucap ibu langsung meninggalkan kamar yang membuatku tersenyum semangat dan melanjutkan aksi tertunda tadi.
Setalah menghabiskan waktu tadi bersama Silla, anak anak, ibu, dan Ayya, sorenya kita lanjut ke rumah bunda dan ayah berhubung bunda dan ayah sekarang lagi ada disini.
Sebab setiap satu bulan sekali bunda dan ayah selalu berkunjung disini buat sekedar ngejenguk cucu mereka, karena setelah kepergian Silla mereka turut membantuku menjaga anak anak biar ngga ngerasa kesepian, ya walaupun hanya selama sekitar 3 harian disini, tapi bisa membuat anak anak merasa senang dan merasa tidak kesepian.
" Assalamualaikum tok..tok..." salamku dibalik pintu rumah bunda bersama ketiga orang berhargaku..
" waalaikumussalam, " balas suara bunda sambil membuka kunci pintu.
Setelah bunda membuka pintu, bunda sangat kaget dengan kehadiran Silla yang masih tertutup akan cadar, tapi langsung ku putus tatapan terkejut bunda dengan uluran salam tanganku.
" bunda sehat?" tanya ku saat Silla ikut menyalimi tangan bunda.
__ADS_1
" alhamdulilah sehat, ini calon kamu ya, nak?" tanya bunda dengan tatapan sedih, yang membuatku mengangguk kaku, karena sedari tadi kita berencana nyembunyiin dulu ke bunda dan ayah perihal datangnya Silla
wokee..tunggu satu part lagi dan end :(