BENCI WANITA BERCADAR

BENCI WANITA BERCADAR
#57


__ADS_3

" Ohh ya Mas, aku masih ngutang lho biaya operasinya, hehehe..." ucapnya membuatku melongo tak percaya.


" emang bisa ngutang?" tanyaku polos.


" ya engga lah Mas, kamu nih gimana sih..Mas lucu deh..., jadi aku tuh ngutangnya ke Mawar buat biaya operasi, soalnya kan uang sama kartu debitku ada di rumah, jadi selama ini aku ngga bawa apa apa ke rumah sakit, aku cuma bawa nyawa doang, pakaian aja aku pinjem ke Mawar," jelasnya yang membuatku paham.


" ohhh...gitu mas baru paham, yaudah pakek uang Mas aja bayarnya, ngga usah pakek uangmu dek, kan udah jadi tanggung jawab Mas atas kamu.." ucapku lembut padanya.


" ngga usah Mas, kan.." ucapnya ku potong langsung.


" sstt, kalo kamu masih ngeyel juga, Mas ngga maafin kebohongan kamu lho," ucapku tegas yang membuatnya mengangguk lemah.


" makasih ya Mas," ucapnya pasrah yang buatku tersenyum hangat.


" sama sama sayang," ucapku kembali memeluknya.


" mas, kamu tau ngga sih kalo aku punya butik selama ini?" tanyanya yang membuatku menggeleng pelan.


" emang kamu punya dek, kok ngga pernah kamu urusin?"


" iya punya Mas, masih aku urusin lah, tapi cuma lewat jarak jauh aja mantaunya, aku cuma ngecek keuangan aja setiap bulan, " jelasnya membuatku binggung.


" lha emang kapan kamu ngurusinnya, sayang?" tanyaku penasaran karena aku ngga pernah melihat dia fokus ke hp atau ke laptopnya.


" pas kamu kerja, dan pas anak anak bobok, aku luangin buat mantau, jadi nggapapa kok Mas, kalo operasinya aku yang bayar, biar uang kamu bisa untuk keperluan yang lain," tawarnya sangat lembut.


" ngga usah sayang uangku insyaAllah cukup kok untuk semuanya, dan Mas bakal berusaha terus untuk nyukupin kebutuhan kalian," balasku tak kalah lembut yang dihadiahi senyuman manisnya.


" yaudah aku nurut apa kata Mas, aja" balasnya yang kuangguki senang.


Setalah perbincangan hangat tadi selesai membuatku dan Silla kembali tertidur kembali walaupun udah jam tiganan pagi, tapi rasa kantuk ngg bisa untuk ditahan,

__ADS_1


Untuk pagi ini ngga ada acara solat malam karena sedari tadi kita belum tertidur jadi kita ngga bisa solat, buat solat subuh pun, terbangun gegara Rasya yang bangunin dari luar.


" yah....yah....tuk...tukk....." ucap Rasya sambil mengedor dengan telapak mungilnya.


" Yah...YAH...ANGUN..." teriaknya yang mampu membuka mataku.


Sesaat mata terbuka rasanya adem ayem dapat ngelihat wajah cantik bercahaya Silla yang masih asik terpejam. Cukup lama menikmati pemandangan indah itu, seketika teriakan nyaring Rasya membautku sadar, dia masih kekeh ngedor ngedor pintu kamar, ya walapun ngga berbunyi keras tapi bisa ku dengar.


" YAH....DAH...AGI..." teriaknya sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu yang akan ku buka, yang seketika terjatuh tepat di sepasang kaki, untung aja ngga nyungsep di lantai, kalo sampek itu terjadi, pasti bocah tuh bakal ngadu sama bundanya, untung untung.


" huh...selamat " ucapku sesaat berhasil menangkapnya.


" ayah...ama" ucap putraku kesal.


" maaf ya sayang, kan ini hari minggu jadi tadi malem ayah begadang sama bunda, tuh bunda aja masih bobok, sono gih bangunin," ucapku sambil menurunkannya kembali dirinya.


" unda...angun...udah au ubuh..." ucap Rasya sambil mencoel coel pipi Silla yang membuat sang empu membuka mata malasnya, sambil masih mengerjapkan penglihatan dan memulihkan kesadaran.


" pagi sayang..." ucap Silla sambil mencium pipi kanan kiri Rasya yang membuatnya tertawa kegelian.


" ....masa cuma bunda yang kasih ucapan, ayah engga nih?" ucapku pura pura merajuk.


" endak, osen sama ayah..." balas Rasya dengan senyumnya.


" huh nakal deh..nih rasain..." ucapku sambil mengelitiki perut Rasya yang membuatnya berteriak meminta ampun. Hingga suara merdu adzan mampu menghentikan kegiatan bercandaan kita.


" tuh dah adzan, sana pada siap siap ke masjid," ucap Silla yang membuatku dan Rasya bebarengan hormat patuh.


Setelah acara buang air kecil, gosok gigi, cuci muka, dan wudhu selesai, karena berhubung sebelum tidur tadi udah mandi wajib jadilah sekarang ngga perlu mandi lagi, aku dan Rasya kemudian melangkahkan ke arah bagasi buat ngambil sepeda, karena pagi ini Rasya pengen subuh diboncengin sepeda setelah kemarin ngelihat tetangga yang lagi belajar sepeda.


Setelah solat subuh, karena saat ini hari libur sekolah, yang artinya libur ngajar juga, membuatku saat ini bisa menemani Rasya bermain bola di halaman depan rumah dan Tisya masih sibuk tertidur sekaligus berjemur di box.

__ADS_1


Tetapi karena aku ngga mau dia item, jadilah di berjemur dibawah pohon. Yang penting mah dia masih bisa kena sinar matahari walapun ngga langsung, tapi masih mendinglah.


" Kak...ayah mau nyusul bunda dulu, ya..kaka bisa kan jaga adek disini," tanyaku yang diangguki Rasya.


" isa...yah..." balas Rasya yang membuatku melangkah masuk ke dalam rumah, sebab dari tadi Silla sibuk masak jadi dia nitip anak anak ke aku. Berhubung lama membuatku tak kuasa menahan rindu.


Ku langkah kan kaki ku ke arah kamar sebab, tadi di dapur terlihat kosong ngga ada orang, yang membuatku berpikir jika dia sekarang berada di kamar buat mandi dan benar saja.


" sayang..." ucapku sambil memasuki ke arah kamar dan seketika pintu kamar mandi terbuka sempurna memperlihatkan bidadariku hanya berbalutkan handuk kecilnya saja, yang membuatku terdiam terpesona.


" lho kok, kamu disini sih, mas? Anak anak dimana? Kamu tinggal sendiri ya?" tanyanya dengan nada khawatir.


" tenang dek, Rasya bisa kok jaga Tisya sementara, dek kangen.." ucapku manja sembari memeluknya.


" ih..udah sana keluar, nanti anak anak keluar pager gimana? Udah susulin anak anak sana," usirnya, namun apa dayanya yang hanya berkekuatan kecil, ngga mampu mengeser sedikitpun tempat berdiriku.


" kamu tenang aja dek, pagernya kan berat, ngga mungkin Rasya bisa narik, lagi pula anak anak kita kan baik ngga mungkin main ke luar tanpa izin, udahlah ayo...nolak suami dosa lho..." ucapku yang membuatnya pasrah.


Ku lepas handuk yang semula terpasang di tubuhnya, hingga akhirnya ngga ada kain lagi yang menghalangi tubuh seksinya, ku angkat dia ke arah ranjang, ku cium seluruh bagian tubuhnya yang sangat lembut dan putih bersih itu. Dia adalah wanita yang sangat menjaga kebersihan terbukti tubuhnya ngga ada noda sedikitpun yang menempel.


" Mas..jangan cuma aku doang yang ngga berpakaian, kamu juga dong, biar sama sama malu," ucapnya malu malu yang membuatku terkikik geli.


Langsung saja ku lepas baju ku dan celanaku hingga hanya menyisakan boxer saja. Setelah itu ku cium bibirnya penuh cinta dengan gerakan mengebu dan berhasrat membuatnya sedikit kualahan menghadapi lidahku yang sangat lincah.


Setelah ciuman panas itu ku sudahi sebab dorongan tangannya, karena dia ngga bisa napas membuatku terpaksa melepaskan ciumanku, dan kini sepasang mata liarku terfokus ke bagian tubuhnya yang lain yang sama sama mengiurkan.


Namun, seketika kegiatanku terhenti dengan gebrakan pintu seseorang yang membuatku menoleh ke belakang, karena pintu di kamar berada di depan ranjang.


Sesaat melihat seseorang yang berwajah merah marah masuk kamar tanpa aba aba membuatku langsung menarik selimut ke seluruh wajah dan tubuh Silla dengan gerakan cepat dan gesit.


Untung saja saat ini, aku masih mengenakan boxer jadilah masih di fase aman untuk merelakan selimut hanya untuk Silla.

__ADS_1


BRAK...


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" tanya sang penganggu dengan nada marah yang telah ada diubun ubun.


__ADS_2